<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2680618420661537872</id><updated>2011-07-07T14:36:57.782-07:00</updated><category term='sajak'/><category term='film'/><category term='Buku'/><category term='puisi'/><category term='cerpen'/><category term='artikel'/><title type='text'>Lingkaran Sastra Papyrus</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2680618420661537872/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Lingkaran Sastra Papyrus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16738817486361889053</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>22</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2680618420661537872.post-6099584572124991180</id><published>2010-02-28T02:53:00.000-08:00</published><updated>2010-02-28T03:27:57.598-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku'/><title type='text'>Sebuah Antologi Cerpen</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_rYfH5iQkQq4/S4pMX-a7LDI/AAAAAAAAAE0/Kicup2vexhM/s1600-h/ibuku+perawan.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 236px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_rYfH5iQkQq4/S4pMX-a7LDI/AAAAAAAAAE0/Kicup2vexhM/s320/ibuku+perawan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5443247074407296050" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Judul Buku:&lt;/span&gt; Ibuku Perawan; Sebuah Antologi Cerpen&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penerbit:&lt;/span&gt; Lembaga Penerbitan PCIM Kairo-Mesir&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tahun Terbit:&lt;/span&gt; 2006 M&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cetakan:&lt;/span&gt; Ketiga&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jumlah Halaman:&lt;/span&gt; 257 halaman&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Resensi:&lt;/span&gt; Sastra Yang Religi-Humanis, Membuang Sastra Yang Absurd-Dehumanistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Bila sebutir atom dipindah dari letaknya yang wajar,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;alam semesta akan runtuh dari atap sampai ke dasar"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;-Rumi-&lt;/span&gt;  &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup di abad ke-21 ini, denyut nadi manusia tidak bisa dilepaskan dari adanya gerakan kesusteraan dan gerakan berkesenian. Seakan gerakan berestetika itu telah menjadi semacam ideologi yang menuntut untuk memecah dalam sebuah tatanan dunia tersendiri. Dan betul, tanpa sadar dan melintas geografis, dunia sastra telah hadir mengisi hari-hari manusia. "Masnawi"-nya Rumi dan "Gulistan"-nya Hafidz, yang menjadi ciri khas timur, kini bisa dinikmati oleh seorang penumpang sebuah kereta Metro bawah tanah di London, Berlin, atau New York. Bahkan penafsir terhebat Rumi sendiri adalah Annemarie Schimmel, seorang Jerman yang notebene bukan orang timur. Naskah teatrikal Romeo-Juliet-nya Shakshepeare pun telah dipentaskan oleh hampir seluruh panggung teater di muka buni ini. Kita di Indonesia pun dengan mudah membaca Umberto Eco, Albert Camus(The Plague), Goethe, Paulo Coelhoe dengan "Sang Alkemis", Nietsche, Gabriel Garcia Marques, Milan Kundera, Anton Chekov, Doystosky, Charles Dickens(Tale of Two Cities), Thaha Husein, Najib Mahmud(Nobel Sastra 1989), Taufik Hakim(Muhammad), Abdurrahman Syarqawi, Najib Kaelani dengan "Perawan Jakarta", Nawal Sadawi dengan "Woman at Point Zero", Iqbal , Agatha Christie, Ernest Hermingway hingga karya "menggegerkan teologi kristiani" terbaru, "The Da Vinci Code" milik Dan Brown.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara mewakili dalam negeri semacam Pramoedya Ananta Toer(Tetralogi Bumi Manusia, yang telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 50 bahasa. Karya ini juga menjadi kandidat Nobel Sastra), Akhadiyat Kartadiharja(Atheis), AA Navis(Robohnya Surau Kami), HAMKA(Tenggelamnya Kapal Vanderwijk), Danarto(Abracadabra), A. Tohari(Ronggeng Dukuh Paruk), Kuntowijoyo(Dilarang Mencintai Bunga-Bunga dan Mantra Penjinak Ular), Mbak Helvy(Ketika Mas Gagah Pergi), Ayu Lestari(Saman dan Larung), Dewi Lestari/Dee(Supernova), dan karya terbaru yang memang novel"pembangun jiwa" milik Habiburrahman Saerozi(Ayat-Ayat Cinta). Hingga anak-anak muda pun setelah populernya film Ada Apa Dengan Cinta(AADC) mulai memburu, mana sih "Aku-nya Chairil Anwar" milik Sumandjaya yang hingga penggal bait sajaknya dihafal oleh sang tokoh "Rangga" dan "Cinta" itu? Sastra adalah sebuah gelombang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya sastra(novel,cerpen, puisi, naskah tetrikal) dewasa ini seolah menjadi semacam menu "kitab Suci" lain yang dibaca dan bahkan menjadi pedoman seseorang dalam sebuah diksi(Sosial-sejarah, psikologi) menghadapi berbagai permasalahan kehidupan ini. Orang lebih concern untuk duduk berjam-jam dalam keadaan apapun untuk membaca sebuah novel, dibanding membaca kitab suci mereka. Sebab tak bisa dipungkiri juga, karya-karya sastralah yang berperan dalam merekam perputaran dialektika kehidupan manusia. Seperti karya-karya Pramoedya yang muncul dan dikarangnya ketika ia menjadi tahanan kolonial di pulau Buru. Karya –karya di atas tentu saja muncul dari latar belakang yang beragam; berbagai sudut pandang; juga tak bisa dihindari, kepentingan ideologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, dari tawaran karya tersebut manakah yang bisa memblaur dan mengejawantah dengan kerangka teologi seorang muslim? Pertanyaan ini penting dilontarkan di tengah berlarinya dunia yang terus-menerus berbenturan di dalamnya berbagai macam ideologi. Dan mau tak mau, wilayah seni-sastra-filsafat juga tak bisa lepas dari cengkeraman ideologi ini. Kapitalisme-materialistik yang menggejala hingga sekarang juga menjadikan wilayah ini sebagai mata rantai ciri khususnya yang serba materi dan berujung kepada pemahaman absurditas-tanpa makna terhadap segala hal. Dalam dunia tanpa arti ini, kata Rugria, tidak ada sesuatupun yang punya makna. Tidak ada sesuatu yang baik atau buruk, suci atau profan, indah atau jelek. Tapi seniman itulah yang memberikan arti baik atau buruk-pada suatu obyek dalam alam atau suatu gagasan dalam dunia. Begitu juga dengan Samuel Beckett dalam bukunya Waiting for God, suatu karya besar yang telah mempopulerkan unsur absurd dalam teater modern dan menjadi rujukan penting. Teater dialihkan fungsi aslinya dari alat penyebaran gagasan religius-moral, sosial, ideologis, filosofis-ilmiah menjadi tontonan absurditas atau mengetengahkan ketiadaan. Sebab menurut pendiriannya, bahwa dalam dunia yang tanpa rasa tidak ada sesuatupun yang memiliki makna(Ali Shariati:1972:26-27). Sebuah konsep materialis-atheistik dalam memandang dunia ini. Dunia adalah kefanaan dan manusialah sang pemegang kebijakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, coba komparasikan dengan dua bait syair Rumi di atas; yang kalau kita cerna lebih jauh mengandung nilai yang berkaitan erat dengan filosofi misi dan fungi manusia di muka bumi(vision de monde) menurut Islam. Sebuah syair yang mengandung visi kosmik ketuhanan; memandang alam semesta sebagai sebuah keteraturan dan manusia menjadi bagian di dalamnya. Manusia adalah makhluk bi-dimensial; roh Tuhan dan tanah bumi. Seseorang yang memahami alam semesta dengan kesadaran ilahi tidak akan mengotorinya dengan absurditas, keputusasaan, berbuat seenaknya pada kehidupan, dan bergerak tanpa tujuan. Disinilah letak kelebihan konsep karya sastra yang ditawar dan dikembangkan Islam. Menjadi pengiring laju hidup seorang muslim. Sebuah sastra yang mendidik dan menyelamatkan. Misalkan "Mantra Penjinak Ular-nya" Kuntowijoyo. Mengisahkan tentang seorang muslim jawa yang hidup di tengah-tengah masyarakat kejawen yang penuh mistik. Tapi, -Abu Kasan Sapari, tokoh utama dalam novel- mampu mengemban jati dirinya menjadi manusia religius dalam keadaan tersebut. Ia berdakwah di masyarakatnya dengan berprofesi sebagai seorang dalang muslim dan membuat sebuah akulturasi kebudayaan. Wayang jenis baru dengan mengangkat tema-tema islam. Jadi di sini, sastrawan juga termasuk kategori seorang intelektual yang bertanggungjawab terhadap masyarakatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, karya kecil antologi cerpen dari "Gank of Papyrus" ini mencoba untuk memulai dan menjadi bagian dari karya-karya sastra yang telah beredar. Dengan corak sastra yang sedikit penulis baca pada sebagian besar cerpennya, bertemakan religi-humanis. Juga perlu diketahui, sebagian besar dari para penulisnya adalah pemula; dan tak ada salahnya untuk mencoba. Karena mencoba adalah setengah keberhasilan. Maka, saya ucapkan salut kepada teman-teman yang telah menggoreskan penanya dalam antologi ini. Semoga karya kita ini menjadi bagian dari penghambaan kita kepada-Nya. Amien.   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2680618420661537872-6099584572124991180?l=sastrapapyrus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/feeds/6099584572124991180/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/2010/02/sebuah-antologi-cerpen_28.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2680618420661537872/posts/default/6099584572124991180'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2680618420661537872/posts/default/6099584572124991180'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/2010/02/sebuah-antologi-cerpen_28.html' title='Sebuah Antologi Cerpen'/><author><name>Lingkaran Sastra Papyrus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16738817486361889053</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_rYfH5iQkQq4/S4pMX-a7LDI/AAAAAAAAAE0/Kicup2vexhM/s72-c/ibuku+perawan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2680618420661537872.post-47636791371810364</id><published>2009-10-04T08:53:00.000-07:00</published><updated>2009-11-05T12:06:18.362-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Pura-Pura Gila</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oleh; Meta Hirata&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_rYfH5iQkQq4/SsjGHPua2xI/AAAAAAAAAEk/XULtmOOux8g/s1600-h/gilo2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_rYfH5iQkQq4/SsjGHPua2xI/AAAAAAAAAEk/XULtmOOux8g/s200/gilo2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5388774781931412242" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;T&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;angis pilu seorang lelaki setengah tua suatu senja disebuah gubuk dipinggiran danau ngebel daerah timur kabupaten Ponorogo. Sunyi senyap sore itu tak seorangpun tahu dalam sujud simpuhnya mengalirkan air mata yang memilukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu adalah Suroso. Yang akrab dipanggil kang Roso. Su artinya manusia dan Roso artinya kuat, Manusia yang kuat begitulah orang tuanya dulu memberi nama berharap suatu saat anaknya menjadi orang yang kuat menghadapi kerasnya terjangan badai hidup.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sorepun beranjak berganti petang, Selimut keemasan senja berlahan digantikan jubah malam yang pekat. Kang Roso masih saja terdiam termenung ditempat Ia bersimpuh pasrah. Sepertinya sedang meratapi sesuatu. Pangdangannya terarah pada air danau yang tenang berhiaskan suara hewan malam dan kecipuk ikan dikaramba-karamba yang bisu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;..."Andaikan aku adalah engkau..." Katanya dalam hati seolah sedang berbicara pada danau ngbebel yang menemaninya malam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia kini sangat kecewa bahwa Ia sadar Ia bukanlah air yang suci itu. Ia merasa dirinya tak lebih dari genangan limbah kotor, Keruh dan seperti selokan yang dipenuhi bermacam sampah plastik, Kotoran manusia dan hewan, Berbagai macam kuman dan penyakit serta onggokan sampah-sampah tak berguna. Pikirannya semrawut kacau tidak keruan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesekali wajahnya menatap langit seolah ingin menumpahkan gejolak jiwanya, Ingin memprotes ketidak adilan hidup yang menimpa dirinya. Ingin rasanya Ia menggugat Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;..."Dimanakah keadilan? Protesnya pada Tuhan...".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini bulan sabit temaram memantulkan cahayanya diatas permukaan danau. Seberkas cahayanya menyapu muka kang roso yang sedari tadi masih merenung. Alam sekitar menyaksikan dan menjadi saksi atas segala keluh kesah yang mulai ditumbuhi bibit-bibit pembangkangan yang diklaimnya sebagai pembenaran atas dirinya demi untuk menuntut satu keadilan versinya. Segala isi hatinya berhamburan keluar memprotes segala skenario Tuhan sepuas-puasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, Setelah memanjakan mulut baunya, Ia berlari ditengah hutan rimbun yang ditumbuhi bermacam-macam pohon tua. jubah malam pun sempurna tak mengizinkan secercah cahaya menelusup diantara batang-batangnya yang rimbun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Ia masih terus saja berlari. Laju langkah terus maju tanpa menubruk sesuatu apapun. Terdengar semakin cepat seolah ada dedemit hutan yang mengejarnya. Instingnya tajam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah cepat kang Roso berangsur tenggelam larut dalam kesunyian hutan. Alampun membisu dan tak lama kemudian terdengarlah teriakan keras yang memekakkan telinga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;..."huuu...waaa..." Dengan begitulah mungkin beban beratnya benar-benar musnah atau setidaknya berkurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;                                                                     ###&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;"Kang datang-datang kok gak salam. Dari mana saja kang?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan terburu-buru seorang wanita muda meninggalkan sapu ijuknya dan bergegas menghampiri laki-laki itu. Si lelaki hanya terdiam membisu tanpa sepatah katapun dan bergegas masuk kamar merebahkan tubuhnya yang kusut diatas diapn bambu tua yang reot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kang... kang...&lt;/span&gt;?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan ganggu aku dulu Sri, Aku ngantuk sekali biarkan aku istirahat sejenak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percakapan pun berhenti wanita yang punya nama Sri seolah mengerti maksud suaminya. Dengan sedikit berat hati, Sri lantas berlalu menuju ruang depan ruamhnya untuk melanjutkan bersih-bersih. Melajutkan pekerjaannya kembali dengan masih diliputi dengan tanda tanya, Ada apakah dengan suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki yang diakmar itu adalah kang Roso. Seorang lelaki yang telah mengarungi bahtera ruamh tangga dengan Sri. Kini mata kang roso terpejam, Nmaun pikirannya tak dapat Ia istirahatkan barang sejenak. Padahal sejak semalam mata dan pikirannya terjaga. Ia tersiksa lantaran tak bisa tidur juga karena pikirannya buntu, Disamping himpitan ekonomi. Ia gelisah, Pesimis menghadapi hari-hari kedepan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayang-bayang kesulitan ekonomi yang semakin menghimpit semakin menghantuinya. Paranoid, Takut kalau kemiskinan tak kan bertepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah sewajarnya kang Roso pantas dikasihani. Pasalnya dari segi ekonomi Ia sangat kekurangan bahkan mungkin sengsara. Ia hanya seorang buruh keramba yang berpenghasilan tak seberapa. Cobaan demi cobaan datang silih berganti tanpa ampun. Belum selesai satu cobaan datang cobaan lain dengan status dan tingkat yang lebih mengenaskan. Ini sudah barang tentu atas penilaian mahkluk saja. Sementara Tuhan lebih tahu kadar segala sesuatau yang diciptakanNya. Sayang kang Roso adalah tipe lelaki rapuh, Sehingga hakikat hidup telah Ia lupakan dan tidak mengambil hikamah yang terkandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemiskinan, Kehinaan, Lilitan utang juga semua ujian keduniaan lainnya berubah seketika. Fantastis, Spontan dan instan. Itulah harapan terbesarnya barang kali bisa membayar semau derita yang selama ini menimpanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesunyian pagi man terus mencari akal untuk merubah garis takdirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu semilir angin masuk menelusup lewat jendela kamr dimana kang Roso merebahkan tubuhnya yang galau. Sang angin terus berhembus sepoi mengajak daun daun jendela bermain. Membuka dan menutupnya pelan, Konsisten dan romantis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu jendela tertutup serta merta anginpun hengkang, Kini suasana sunyi senyap seperti di danau ngebel sore itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jalan pintas? Ya... tapi apa?" Ternyata keremangan tersebut telah dimanfaatkan setan untuk membuat suatu makar."yah dari pada miskin terus".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalur pikirannya meluncur negatif. Seperti roda mobil yang lepas dan menggelinding terjun diantara kotoran dan bermuara pada jurang terjal kesesatan. Terlepas tiasa kendali. Pikiran kang Roso benar-benar lepas kendali iman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka terjadialh dialog seru seperti keramaian pasar, Namun hanya hati kang Roso sendiri yang mendengarnya, Ya hanya kang Roso seorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pesugihan saja?"&lt;br /&gt;"boleh tuh!" tapi aku tidak mau keluargaku jadi tumbal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ngerampok saja gimana?"&lt;br /&gt;"Siapa yang harus kurampok, Aku kurang minat dengan hal begituan terlalu beresiko kalu ketangkap polisi. Lagian bandanku terlalu kurus dan lemah untuk melakukan aksi itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh jadi apa yang mesti aku lakukan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa alternatif untuk menjdi kaya mendadak berloncatan dari pikirannya, Tapi begitualh nyalinya menciut kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah. Ia memeras otaknya untuk menemukanjalan menjadi kaya mendadak dan segera lepas dari himpitan kesengsaraan yang mengurungnya. Hingga Ia bebas membeli semua yang di inginkan dan memarkan pada orang-orang kaya terutama pak lurah dan juragan-juragan keramba yang selama ini menindasnya tiada ampun. Terus sehingga dan sehingga. Nafsu telah mnguasainya hingga impiannya terlalu muluk. Impiannya hanya digantungkan saja tanpa ada usaha untuk mengupayakannya. Ia memang relatif lama menganggur setelah setelah berhenti jadi buruh tambak tiga bulan yang lalu Ia mencoba mencari pekerjaan dikota, Alih-alih semakin berhasil ternyata ia malah semakin terpuruk setelah ditangkap polisi karena dianggap gelandangan dan dipulangakn kembali kedesanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini ia tengah putus asa, Gawatnya lagi hatinya diambang kekafiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, Seajk menganggur tabiatnya berubah drastis. Ia lebih banyak murung, Bawannya uring-uringan, Kusut dan minder bila bertemu orang lain. Barangkali itulah Kang Roso yang sebenernya. Sebab jika orang dalam posisi terpepet maka tabiat aslinya akan muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya Kang Roso pernah mendapt bantuan pinjaman dari pemerintah modal untuk mengelola karamba ikan di danau ngebel seperti warga sekitar temapt tinggalnya. Namun uang itu tak jelas rimbanya, Ia yang tak bisa mengelola uang dan menghasilkannya membuatnya terpuruk dan menyesali jalan hidupnya. Yaitu kenapa masa mudanya dulu acuh terhadap ilmu ketrampilan. Kang Roso lupa bahwa belum ada kata terlambat untuk memperbaiki diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai saat itulah hidup Kang Roso dan keluarganya tergantung pada mertuanya yang tak jauh dari rumahnya. 2 kilo meter disebelah bukit yang membatasi kecamatn ngebel dan kecamatan sooko. Jarak itu terbialng dekat bagi orang desa yang biasa jalan jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mertuanya setiap hari berdagang sayur dipasar kecamatan. Dan rumahnya tepat dibelakangnya. Selain strategis untuk peluang usaha disore hari biasanya para pedagang emnurunkan harganya hingga tuju puluh persen, Begitulah hingga kini bisa tetap eksis menghidupi Kang Roso dan keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai lelaki tumpuan keluarga harga diri kang roso hilang dan sifatnya berubah sensitif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kang bangun, Sudah adzan lo!" Lembut suara Sri membangunkan suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, Aku juga dengar"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bangunlah, Kang, Waktunya shoalt dhuhur lo"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ngapain sholat segala, Biarpun sholat tiap hari gak akan bikin aku kaya"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mendengar jawaban suaminya Sri terkejut bukan main.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Istighfar, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kang&lt;/span&gt;,&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Nyebut&lt;/span&gt;?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Alah... pokoknya kau sudah gak mau shalat lagi, titik."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketegangan mewarnai percakapan itu. Namun mendadak berhenti ketika terdengar ketukan pintu dari luar. Sri berlari menuju pintu melihat siapa yang bertamu, Roman mukanya masih menyisakan kegalauan, Matanya sembab menahan tangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh, Yu karti ada apa ya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Begini, Tadi aku dipasar ketemu si mbokmu, Kamu san suamimu disuruh kesan katanay ada masalah penting, Intinya kamu disuruh kesana siang ini juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah, Ada apa ya Yu? Kok kayaknya penting sekali"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"La mboh aku ndak tau kalau itu, Yo sudah aku pamit dulu lagi buru-buru aku mau pulang dulu"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sri begegas menemui suaminya dan melaporkan hal itu. Kendati hatinya masih sakit dengan pernyatan nyeleneh suaminya tapi Ia masih bisa mengontrol emosinya. Ia akan tetap mendesak suaminya untuk menjelaskan kata-katanya barusan. Ia berharap suaminya lagi tidak sadar ketika berkata-kata demikian, Dan akan berubah ketiak perasaannya sudah normal. Namun jika meang suaminya sudah terlanjur begiut adanya Sri berharap bisa meluruskkan iamn suaminya yang sudah bengkok, Suatu hjati nanti tidak sekarang karena Ia tahu suaminya masih marah. didekatinya suaminya yang masih tiduran diatas dipan, Lembut suaranya menjoba membujuk Kang Roso untuk pergi bersam kerumah si mboknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu saja yang datang kesana, Aku malu, Bilang saja sama si mbok kalau aku lagi sakit."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi kang?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan banyak tanya?". Bentak Kang Roso sambil melotot. kalau sudah marah Sri harus menuruti kata-katanya kalau tidak akan menjdai seperti banteng ngamuk, Akibatnya fatal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;                                                                 ###&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Begitulah Kang Roso akhir-akhir main bentak, Main perintah seenaknya saja. Tambah hari tambah semakin gak karuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya sudah aku keruamh si mbok dulu nanti kalu thole sudah pulang sekolah tolong antar dia kesana, Ya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kang&lt;/span&gt;?" Kata Sri sambil melangkah menjauh tidak betah dengan perilaku suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wo jan tenan, Kurang Asem&lt;/span&gt;."Naik pitamlah Kang roso.Terlihat istrinya keluar rumah dengan sedikit berlari. lantas Kang Roso terdiam mendengar suaranya kata-katanya sendiri. Tak lam kemudai Ia terkekeh berbinar bola matanya menemukan jawaban sebagai solusi ampuh problem hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah akhirnya ketemu juga, Aku pura-pura stres saja biar lepas dari semau problem ekonomi dan hutang-hutangku". Katanya sambil terus cekikikan layaknya orang gila beneran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan senangnya Kang Roso melepas baju kusutnya, Diaduk-aduknya lemari pakaian tuanya. Rupanya dai masih sibuk mencari piranti yang bisa Ia gunakan untuk aksi pura-pura stresnya. Tak lama kemudian ketemulah asesoris yang dicarinya, Celana kolor totol-totol warna warni milik anak lelakinya yang baru beruamur dua belas tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan senyum gembira Kang Roso mematut dirinya didepan cermin, Celana butut, Baju usang yang biasa dipakainya ketambak dan topi aneh yaitu color warna-warni punya nak lelakinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Alangkah jeniusnya aku", guamnnya sabil mengacak-acak rambutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kang Roso telah membulatkan tekadnya untuk pura-pura stres. Dan hari ini adalah hari perdananya memulai aksi yang dianggapnya jenius. Ia akan keliling kampung, Menari, Mennyanyi bertingkah polah sesuka hatinya. Semakin banyak yang tau semakin bagus. Pikirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika nanti orang-orang tau, maka aku akan diaksihani, Disantuni dan semua hutang-htuangku akan dianggap lunas. Aku tidak perlu bekerja lagi. Lantas kang roso keluar rumah menjalankan aksinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;                                                              ###&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Dirumah mbok Asih yaitu mboknya Sri, Terliaht dua orang sedang berbicara serius dengan muak yang sumringah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Seratus juta untuk saya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mbok&lt;/span&gt;? Banyak sekali &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mbok&lt;/span&gt;?" Seru Sri setengah tak percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lha wong &lt;/span&gt;sawahnya juga laku tinggi sawah kitakan dipinggir jalan raya, Jadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;yo&lt;/span&gt; segitu bagianmu, Digunakan baik-baik ya? Bagian adikmu masih mbok simpan, Nanti setelah dia pulang dari jakarta lebaran nanti mbok kasih."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panjang lebar mbok Asih berpesan pada anaknya untuk menggunakan harta warisannya sebaik-baiknya. Dan berdoa semoga harta warisan yang dia beriakn diberi barokah oleh Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan diliputi kegembiraan dan rasa syukur Sri menerim harta warisan itu, Dengan dibungkus kertas koran bekas Ia tampak tergesa-gesa. Simboknya pun tak henti-hnetinya menasehatinya agar hati-hati membawa uang banyak. Akhirnya uang dalam koran diamsukkan keresek hitam oleh Sri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Sri tiada hari yang lebih bahagia melebihi hari ini, Hatinya terus memuji dan bersyukur atas kemurahan gusti Allah. Ia kini benar-benar tahu bahwa setealh kesulitan akan datang kemudahan. dan kemudahan setelah kesulitan akan serasa sangant membahagiakan. Ya setaip orang pada hakekatnya kan menemui suratan takdirnya sendiri, seperti roda kehiduapn kan terus berputar, Adakalnya dibawah dalam kesusahan dan ada kalanya juga diatas dalam masa kejayaan. begitualh Sri sekarang sedang diatas menemui kejayaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai berbasa-basi akhirnya Sri undur diri. Membawa kegembiraan dihati. Ia berjalan setengah berlari melewati jalan berkerikil yang kurang bersahabat. Kerikil-kerikil tajam acap kali menusuk kaki telanjang Sri, Angin berhembus kencang, Debu-debu berterbangan, Langit semakin gelap pertanda hari mau turun hujan. Ia semakin bergegas. Tak peduli dengan semua itu Ia tetap berlari dengan senyum yang terkulum, Ia berharap lekas sampai rumah secepatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditengah perjalanan alangkah terkejutnya Sri melihat sosok lelaki yang sangat dikenalnya, Meskipun tersamar oleh debu namun suara celotehan, Nyanyian serta postur tubuh itu hanya dimiliki oleh suaminya. Lelaki tersebut sedang menari-nari, Berjoged-joged konyol di ikuti arak-arakan anak-anak kecil yang menyorakinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Orang gila... orang gila... Kang Roso gila....Kang Roso gila" riuh suara anak-anak kecil menyoraki Kang Roso.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sri berdiri mematung dan rak-arakan itu semakin mendekat. Kang Roso yang dari tadi sibuk berjoged tidak sadar kalu istrinya berdiri persis didepannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hilanglah semua kegembiraan Sri, Air matanya mengalir deras, Mendahului huajn yang telah dikabarkan oleh mendung. Lalu pandangan mata mereka beradu, Jogetan Kang Roso dan nyanyian anak-anak itu berhenti. Sejenak Kang Roso terdiam sedangakn anak-anak yang mengikutinya berlari berhamburan. Hanya ada Kang Roso dan Sri yang kini berhadap-hadapan. Kang Roso mencoba menutupi kegugupannya dengan pura-pura tidak mengenal Sri. Ia tetap pura-pura gila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulut Sri menganga. Seakan kakinya tak lagi berpijak pada bumi. Pandangannya mulai gelap, Hatinya kosong namun bergejolak, Tangannya lemas bungkusan uang dalam tas kresek hitampun jatuh ketanah. Terbentur batuan jalan yang runcing, Mulai sobek dan terbuak oleh hembusan angin. untung angin segera berhenti, uang itu hanya tercecer dikaki Kang Roso dan Sri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyaksikan itu mata Kang Roso melotot dan&lt;span style="font-style: italic;"&gt; melongo&lt;/span&gt;...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cairo, 03 Okotber 2009    &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2680618420661537872-47636791371810364?l=sastrapapyrus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/feeds/47636791371810364/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/2009/10/pura-pura-gila.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2680618420661537872/posts/default/47636791371810364'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2680618420661537872/posts/default/47636791371810364'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/2009/10/pura-pura-gila.html' title='Pura-Pura Gila'/><author><name>Lingkaran Sastra Papyrus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16738817486361889053</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_rYfH5iQkQq4/SsjGHPua2xI/AAAAAAAAAEk/XULtmOOux8g/s72-c/gilo2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2680618420661537872.post-1816624933695314525</id><published>2009-10-02T00:14:00.000-07:00</published><updated>2009-10-02T00:23:41.071-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Sepucuk surat maaf dari Ibu</title><content type='html'>Oleh; Meta Hirata&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_rYfH5iQkQq4/Sr0Y9dWq_TI/AAAAAAAAAEc/292LY9fHdfc/s1600-h/menunggu_3471_l.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_rYfH5iQkQq4/Sr0Y9dWq_TI/AAAAAAAAAEc/292LY9fHdfc/s200/menunggu_3471_l.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5385488173535788338" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;H&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;ari berlarian dalam rintik hujan yang sore ini mengguyur kota kecil dimana ia tinggal, Basah kuyup tak dihiraukannya. Meliuk-liuk diantara keramaian mahasiswa yang sore ini baru pulang kuliah. Hari semakin petang dan sebentar lagi bedug adzan maghrib akan terkumandang dari masjid-masjid yang bertebaran diseluruh sudut kota.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota yang damai penuh wahana iman yang membentuknya menjadi seorang mukmin sejati. Di kanan-kiri jalan yang dilaluinya penuh sesak dengan kendaraan yang saling berpacu untuk mengejar waktu berbuka. Di teras-teras masjid para pemuda menyiapkan buka puasa gratis yang sudah menjadi tradisi dikota itu, tradisi yang sudah turun temurun dari leluhur para wali yang selalu mereka kagumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa menit sebelum adzan berkumandang Hari telah sampai di masjid dimana dia selama ini berteduh dan menumbuhkan benih-benih imannya. Sore ini seperti hari-hari sebelumnya dia akan mengumandangkan adzan sekaligus sebagai relawan yang menyiapkan berbuka puasa. Setelah mandi dan berganti baju seadanya Hari bergegas menyiapkan minum dan makanan yang diantar warga secara suka rela. Walaupun terliahat lelah dia tetap bersemangat melakukan semua mungkin karena dia tau di masjid inilah pertolongan Allah menghampirinya. Beberapa tahun yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Allahu akbar Allahu akbar&lt;/span&gt;"...adzan maghrib pun berkuamandang saatnya berbuka puasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;###&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Seorang ibu tua duduk dipojok ruangan yang hanya diterangi temaram lampu duduk yang hampir sama tua dengan usianya. Seolah redupnya cahaya diruangan itu mengungkapkan hati pemiliknya yang suram tak bercahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipandanginya foto seorang pemuda disamping jendela tepat di depan dia duduk di kursi goyang yang sudah tua. Pemuda itu adalah anak semata wayangnya. Kini dia sangat kesepian diusianya yang senja dia hanya berteman sepi setelah suami yang menemaninya selama ini meninggal mendadak beberapa tahun yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sinilah kesepian hidup mulai membalut seluruh tubuhnya yang renta, rapuh termakan usia dan jiwanya yang selalu kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lirih terdengar suaranya berkata pada hujan yang turun sore ini. Sambil diamatinya patung salib yang jatuh kelantai menyisakan puing-puing yang berserakan. Akidah yang dianutnya selama ini mulai hancur barantakan menyisakan puing-puing layaknya salib itu. Semua hanya dibiarkannya begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nak kembalilah, Ibu sudah sadar tentang apa yang ibu anggap dulu kamu lakukan adalah sesat, kini Ibu hanya ingin meminta maafmu untuk yang terakhir kalinya"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pulanglah anakku"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;###&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;"Har, Sini bapak mau bicara sama kamu". Seorang bapak separo baya memanggilnya dari teras masjid yang sudah sepi.&lt;br /&gt;"Iya pak" Jawabnya sambil berjalan membawa dua gelas teh hangat sisa buka puasa tadi.&lt;br /&gt;"Har gini lo sekarang sepertinya memang sudah waktunya, kamu sudah lulus kuliah dan sudah bekerja, pastinya 5 tahun merupakan waktu yang lama untuk memulai kembali bagian hidup kamu yang sudah hilang."&lt;br /&gt;"Iya pak haji saya tahu" Jawabnya singkat denagn penuh rasa hormat, tak patut rasanya dia membantah seorang guru sekaligus penolong yang menuntunnya menuju cahaya hidayah Allah.&lt;br /&gt;"Ya sudah bapak pulang dulu, inget pesen bapak ya". Kata bapak itu sambil berlalu pulang kerumahnya disamping masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari masih saja merenung diteras masjid hingga larut malam itu, Ditemani rintik hujan yang dari tadi tak kunjung reda hatinya mulai gundah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah saatnyakah aku kembali?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatinya masih tampak ragu menimbang semua permasalahan yang setiap menjelang idul fitri selalu menghimpitnya. Dia hanya ingin minta maaf.&lt;br /&gt;Angannya kembali menelusuri jejak masa lalu yang pernah menjadi cerita dalam hidupnya. Beberapa tahun yang lalu sewaktu baru saja menamatkan SMA dia putuskan untuk mengejar panggilan batin yang terus mengusiknya. Perbadaan keyakinan dan keputusan untuk mencari hidayah dalam Islam membuatnya diusir oleh bapaknya, Bukan karena bapaknya seorang pastor namun bapaknya tak kuat menanggung malu karena setelah mendapat beasiswa selama 6 tahun sejak kelas satu smp dari gereja katolik dimana mereka beribadah anak laki-laki satu-satunya yang diharapkan oleh sang pastur untuk menjadai penggantinya malah berbelok mencari jalan baru dalam hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu hujan turun dengan derasnya, Petir dan halilintar mengelegar menjilat-jilat diluar sana. Suasana semakin mencekam. Tangis sesenggukan seorang ibu yang bagaikan siraman hujan menetes tiada henti dan harus beradu dengan gelegar kemarahn sang ayah yang mirip petir diluar sana, Menyeruak diantara kesunyian malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"keluar kamu dari rumah ini, Bapak sudah tidak menganggap kamu anak lagi, keluar!!!"&lt;br /&gt;Saat itu pula dia langkahkan kaki untuk pergi bersama deraian tangis ibu dibawah guyuran hujan yang tiada henti, Pikirannya bergejolak hebat menerima keputusan seorang ayah dengan kemarahan menggelegar bagaikan peitr yang terus saja menyambarkan lidah-lidah cahaya yang meremukkan seluruh kesadarannya. Dia hanya terus berlari hingga panggilan Tuhan memanggil jiwanya singgah menemui hidayah yang dicarinya disebuah masjid dipinggir kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia sadar dengan sepenuh hati bahwa lebih memilih pergi dari pada bertahan menemani ibunya yang diam-diam ternyata mulai tertatrik dengan apa yang semakin dipercayainya, Dengan berat hati dia tak lagi melihat tetes air mata sang Ibu yang beranak sungai menangisi kepergian buah hati yang paling diharpakannya bisa membawa raga tuanya menuju hidayah yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;###&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;"&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ashadu alla Ilaha Ilallah, Wa ashadu anna Muhammadar Rasulullah&lt;/span&gt;"&lt;br /&gt;Dengan dibantu Ustad Ghofur Ibu Elliana mengucapkan kalimat sahadat, setelah bertahun-tahun melalui proses yang sangat melelahkan kini dipenghujung usia senjanya siIbu akhirnya menemukan kembali hidayah yang sesungguhnya. Prosesi yang dipimpin oleh seorang Ustad muda itu berlangsung hikamt dan sederhana disebuah musholla yang baru dibangunnya didaerah terpencil yang masyarakatnya mayoritas kristen. Namun semenjak juragan juwono yang menjadi penopang dana gereja meninggal setelah anakl alki-lakinya pergi dari ruamh dan menjdi muslim otomatis gereja semakin sepi dan tak punya andil lagi dalam desa itu. gereja sudah tak mampu lagi mensubsidi akidah kristen yang mereka tuakr dengan bermacam-macam sembako dan uang. Masyarakat sudah bosan mendengar doktrik-doktrin palsu mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ustad, Boleh saya minta bantuannya!" Ibu itu melontarkan sebuah permintaan yang menurut firasatnya adalah mungkin yang terakhir untuknya.&lt;br /&gt;"Iya ibu silahkan saya akan bantu dengan semampu saya" Jawab ustad ghofur dengan raut muka penuh senyum.&lt;br /&gt;"Saya minta tolong sampaikan surat permohonan maaf saya kepada anak laki-laki saya jika suatu saat nanti dia kembali ke desa ini" Nadanya sedikit lemah berharap anaknya mau memaafkan khilaf yang selama ini menjadi beban hidupnya.sambil menyerahkan surat itu dia meneteskan air mata.&lt;br /&gt;"Oh ya Bu, Saya akan tunaikan amanat ibu. Maaf anak ibu namanya siapa dan kalau boleh saya lihat mungkin ibu masih ada fotonya!"&lt;br /&gt;Mendengar jawaban ustad itu wajah si ibu terlihat tersenyum walaupun airmatanya masih menganak sungai menuruni pipinya yang keriput termakan usia senja.&lt;br /&gt;"Hari samudra, Nama anak saya ustad dan ini fotonya sekitar 5 tahun yang lalu sebelum dia diusir bapaknya karena lebih memilih masuk islam. Saya merasa bersalah karena waktu itu saya takut akan ancaman suamai saya jika tetap mengakuinya sebagai anak maka hari dan saya akan dibunuhnya. Akhirnya dengan berat hati saya hanya mampu menangis saat dia pergi dibawah hujan deras bercampur petir yang menggelegar sepanjang malam. Namun tak lama setelah hari pergi suami saya mulai menyesal dan membawa penyesalannya hingga ajal menjemput".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ustad ghofur termenung sebentar, Sepertinya dia sangat kenal wajah pemuda itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Subhanallah&lt;/span&gt;, anak ibu itu sepertinya teman satu kuliah saya. Iya benar namanya adalah Hari Samudra yang biasa saya panggil mas hari kalau gak salah tinggal disebuah masjid dipinggir kota sebagai relawan sekaligus ustad ngaji di masjid itu, Masya Allah benar-benar anugrah Allah Bu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan penuh rasa syukur si Ustad meberikan secercah harapan untuk si Ibu. Namun Ibu tua itu masih saja terperanjat tak percaya betapa dekat dan betapa besar pertolongan Allah pada hambanya. Air matanya kembali menetes haru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;###&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hari anakku, Ibu pergi dulu, sudah saatnya kamu pulang. Ibu hanya bisa ngasih ini buat kamu."&lt;br /&gt;Suara dan wujud itu tiba-tiba menghilang dalam kabut putih yang pekat aku berlari mengejarnya tapi entah mengapa semakin jauh dan hilang dari pandanganku. Aku masih terdiam menggenggam surat yang Ibu tinggalkan, aku ingat benar itu adalah wajah Ibuku.&lt;br /&gt;"Iii...bu..uuu" aku berteriak.&lt;br /&gt;"&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Subhanallah"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari terabngun dari mimpinya dengan peluh yang membasahi keningnya. Termenung memikirkan tentang mimpi yang baru dia alami. Kerinduan untuk kembali kepangkuan sangBunda tak lagi tertahankan. Rencana untuk pulang esok pagi dia yakinkan untuk terealisasi setelah bebrapa tahun terakhir selalu gagal karena keraguan yang menyesakkan hatinya. Mungkin mimpi itu juga yang terus menghantuinya beberapa hari ini, Perasaanya pun mulai bergejolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;###&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Allahu Akbar... Allahu Akbar... Allahu Akbar... Laiilaha illahu wallahu akbar...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;gema takbir masih terdengar disana-sini, Suasana yang sungguh dirindukannya kini benar-benar nyata ada dikampungnya. Sepujuk surat maaf sekaligus surat terakhir dari Ibunya masih terpegang erat ditangan kanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia kini hanya mampu duduk bersimpuh ditanah pekkuburan yang masih merah, Ibunya baru saja meninggal beberapa ahri yang lalu. Tetes air mata sedih dan bahagia bercampur menjadi satu, bahagia karena Ibunya telah menemukan hidayah Islam yang sesungguhnya, sekaligus sedih karena dirinya sudah tak bisa lagi bersimpuh meminta maaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepucuk surat maaf dari Ibu masih tergenggam ditangannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2680618420661537872-1816624933695314525?l=sastrapapyrus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/feeds/1816624933695314525/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/2009/10/sepucuk-surat-maaf-dari-ibu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2680618420661537872/posts/default/1816624933695314525'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2680618420661537872/posts/default/1816624933695314525'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/2009/10/sepucuk-surat-maaf-dari-ibu.html' title='Sepucuk surat maaf dari Ibu'/><author><name>Lingkaran Sastra Papyrus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16738817486361889053</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_rYfH5iQkQq4/Sr0Y9dWq_TI/AAAAAAAAAEc/292LY9fHdfc/s72-c/menunggu_3471_l.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2680618420661537872.post-5112189218063231833</id><published>2009-09-23T18:42:00.000-07:00</published><updated>2009-09-23T18:52:30.471-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Antara Yogya dan Kairo</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oleh; Mukhlis Rahmanto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_rYfH5iQkQq4/SrrP0UehWDI/AAAAAAAAAEU/WcwPzW_OjpA/s1600-h/miss_you-1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_rYfH5iQkQq4/SrrP0UehWDI/AAAAAAAAAEU/WcwPzW_OjpA/s200/miss_you-1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5384844802231719986" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rindu kau ibu pertiwi&lt;br /&gt;Rinduku padamu indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski terpisah samudera yang beberapa kilometer&lt;br /&gt;aku tak henti badan untuk bertempur&lt;br /&gt;awal matahari aku telah siap batin dhahir&lt;br /&gt;saatnya mengisi diri agar lebih teratur&lt;br /&gt;mengais mutiara-mutiara ilmu yang sedikit berdebur&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;mencari warisan keshalehan dibawah peninggalan leluhur&lt;br /&gt;menyibak nafas kenabian yang hampir hilang tersungkur&lt;br /&gt;kudapat, kubawa, kutempel pada satu sudutmu yang coba rapi terukur&lt;br /&gt;meski bayangku kenyataan mengabur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rindu kau ibu pertiwi&lt;br /&gt;Rinduku padamu indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dada ini hampir sesak mikul masa depan&lt;br /&gt;terang inginku padamu yang cerah berkemajuan&lt;br /&gt;jiwa ini tak pernah bersepakat di meja perjanjian&lt;br /&gt;jiwa ini tak sekali mengenalmu jauh sedalam lautan&lt;br /&gt;aku hanya keringatmu basah embun&lt;br /&gt;aku hanya darahmu kental  merumpun&lt;br /&gt;aku bau tanahmu subur tambun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rindu kau ibu pertiwi&lt;br /&gt;Rinduku padamu indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari ditimurmu, matahari disini&lt;br /&gt;hari ini cuacamu, jadi hariku disini&lt;br /&gt;sedu sedan  sedihmu, sedu sedanku disini&lt;br /&gt;gurau tawa harapmu, rasa plongku disini&lt;br /&gt;maka jangan gundah, aku setia bersamamu disini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rindu kau ibu pertiwi&lt;br /&gt;Rinduku padamu indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2680618420661537872-5112189218063231833?l=sastrapapyrus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/feeds/5112189218063231833/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/2009/09/antara-yogya-dan-kairo.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2680618420661537872/posts/default/5112189218063231833'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2680618420661537872/posts/default/5112189218063231833'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/2009/09/antara-yogya-dan-kairo.html' title='Antara Yogya dan Kairo'/><author><name>Lingkaran Sastra Papyrus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16738817486361889053</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_rYfH5iQkQq4/SrrP0UehWDI/AAAAAAAAAEU/WcwPzW_OjpA/s72-c/miss_you-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2680618420661537872.post-1258215812886466146</id><published>2009-09-21T14:56:00.000-07:00</published><updated>2009-09-21T14:58:02.647-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Saat Lebaran Tiba</title><content type='html'>&lt;p&gt;Oleh; Meta Hirata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_rYfH5iQkQq4/Srf1JyHI8pI/AAAAAAAAAEE/yHtCcQkwvHg/s1600-h/Ketupat_Lebaran_by_RomanticDevil.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 150px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_rYfH5iQkQq4/Srf1JyHI8pI/AAAAAAAAAEE/yHtCcQkwvHg/s200/Ketupat_Lebaran_by_RomanticDevil.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5384041427964064402" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: times new roman; font-size: 180%;"&gt;S&lt;/span&gt;uara beduk yang disusul dengan lantunan merdu adzan Magrib terdengar ketika aku melangkah memasuki halaman. Setelah mengucapkan salam aku langsung masuk ke rumah. Kuletakkan ransel di punggungku ke atas sofa, lalu bergegas menuju ruang makan."Eh, Wi... pulang juga akhirnya. Ayo cepat, sudah buka nih!" Jamal dan Leni yang berebut kolak pisang buatan ibu langsung menghentikan aksi mereka saat ibu menyapaku, begitu juga dengan Kak Rita. Setelah membaca doa berbuka kuteguk habis segelas teh manis yang disodorkan ibu. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kakak sudah libur?" tanya Jamal sambil menyendok kolak ke piringnya.&lt;br /&gt;"Sudah. Bapak mana, Bu?" tanyaku karena kulihat Bapak tidak ada di antara kami.&lt;br /&gt;"Pergi sama temannya kemarin, katanya ada urusan penting, mungkin besok baru pulang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memang tidak tinggal di rumah lagi. Setelah tamat SMP, aku berhasil masuk SMA unggul di kota yang mengharuskan siswanya tinggal di asrama. Sekarang, aku sudah kelas dua SMU. Tahun lalu, aku menghabiskan Ramadhan di rumah, karena sekolah diliburkan. Tapi sekarang tidak lagi, sekolah hanya diliburkan seminggu sebelum lebaran tiba, jadi saat inilah pertama kalinya aku berbuka puasa bersama keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak shalat tarawih, Kak?" ujarku pada Kak Rita yang masih belum beranjak dari kursinya, aku yakin dia kekenyangan.&lt;br /&gt;Kak Rita menoleh, "Wi, malam ini tarawih di rumah aja ya, bantu kakak buat kue."&lt;br /&gt;"Buat kue? Besok kan bisa." Keningku berkerut.&lt;br /&gt;"Besok juga. Kita harus mengejar waktu, lebaran tinggal enam hari lagi, belum satu kue-pun yang terbuat. Habisnya... hm... bapak baru kasih uang tadi siang. Kakak lihat tetangga-tetangga kita yang lain, kuenya sudah siap semua."&lt;br /&gt;"Kak, salah satu cara menghidupkan malam ramadhan itu dengan shalat tarawih, bukan dengan buat kue."&lt;br /&gt;"Tapi kitakan malu sama tetangga, Wi."&lt;br /&gt;"Lalu sama Allah apa kita tidak malu?"&lt;br /&gt;Kak Rita diam. Bingung mencari alasan.&lt;br /&gt;"Sudah... sudah... kamu berangkat saja, Wi. Biar ibu yang bantuin kakakmu." Tiba-tiba ibu muncul dari dalam kamar, melerai pertengkaran kami.&lt;br /&gt;"Lho, jadi ibu juga nggak tarawih?" keningku berkerut lagi.&lt;br /&gt;"Kakakmu benar, kita belum satupun buat kue. Kapan lagi? Ibu tarawih di rumah saja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya diam. Lalu beranjak ke kamar mengambil sajadah dan mukena. Belum sanggup aku mendebat ibu, bisa-bisa nanti ibu jadi tersinggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Leni... ayo ikut kakak ke mesjid." Aku menegur Leni, si bungsu. Dia kelas 3 SD.&lt;br /&gt;"Wi, Leni nggak usah diajak. Dia bantu ngocok-ngocok telur."&lt;br /&gt;"Iya, Kak, Leni juga lagi malas nih."&lt;br /&gt;Sambil mendengus sebal, akhirnya aku melangkah keluar rumah, menuju masjid. Menyusul Jamal yang sudah berangkat dari tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ada hal istimewa yang biasanya selalu terjadi di kampungku kalau lebaran tiba. Sebenarnya bukan hal istimewa, tapi bisa dikatakan kebiasaan buruk yang terjadi sejak dahulu, sudah turun temurun, sudah menjadi tradisi.Saat lebaran adalah waktu untuk menunjukkan dan memamerkan semua kekayaan dan harta benda yang dimiliki. Para orangtua berlomba membelikan baju terbaru dan termahal untuk anak-anaknya. Saat lebaran semuanya seolah menunjukkan inilah saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu sebelum lebaran hampir semua warga kampung menjadi super sibuk. Halaman dan pekarangan rumah dibersihkan, kaca-kaca jendela dibuat mengkilap, kain gorden, seprai, sarung bantal, semuanya diganti dengan yang baru. Para remaja putri dan ibu-ibu lebih banyak berkutat di dapur membuat aneka jenis kue. Kesibukan-kesibukan itu tentu saja telah menyita waktu untuk beribadah. Jika di awal Ramadhan masjid dan mushala seakan mau pecah karena banyaknya jamaah, maka di akhir Ramadhan jumlah jamaahnya bisa dihitung dengan jari.&lt;br /&gt;Dan itu juga terjadi dalam keluargaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wi, dari tadi kok melamun saja. Ayo bantuin kakakmu." Lamunanku buyar seketika oleh teguran ibu.&lt;br /&gt;Aku bangkit, membantu Kak Rita melepaskan semua gorden-gorden jendela.&lt;br /&gt;"Mau diganti yang baru lagi ya, Kak?" tanyaku.&lt;br /&gt;"Iya dong, lebaran kan tingal lima hari lagi." Kak Rita menyahut tanpa menoleh padaku.&lt;br /&gt;"Tapi inikan masih bagus, Kak. Kalau dicuci pasti jadi seperti baru lagi."&lt;br /&gt;"Kamu ini bagaimana, malu dong sama tetangga."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu seperti itu. Malu sama tetangga. Apa-apa selalu dibandingkan dengan tetangga. Entah sudah berapa banyak gorden-gorden lama di lemari yang masih bagus tetapi tidak pernah dipakai lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yang baru sudah dibeli?" tanyaku kemudian.&lt;br /&gt;"Sudah, kemarin Bapak yang beli." Aku hanya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;melongo&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;Begitu semua gorden sudah terlepas, Kak Rita menyuruhku membersihkan kaca jendela. Saat itulah Bapak muncul membawa dua buah kantong plastik besar di masing-masing tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak meletakkan barang belanjaan di tengah ruang tamu, lalu mengeluarkannya satu per satu. Lima botol sirup yang berbeda warna, beberapa helai sarung, juga kue-kue dalam kaleng, padahal Ibu dan Kak Rita sudah banyak membuat kue dalam dua hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Leni...!" kata Bapak kemudian, memanggil si bungsu. Yang dipanggil secepat kilat muncul dari dapur, bajunya belepotan adonan kue. Dia sedang membantu Ibu."Nih, baju baru Leni," ujarnya kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak mengeluarkan dua kotak dari kantong plastik besar. Sepasang sepatu dan sandal baru. Lalu mengeluarkan dua pasang baju dari kantong yang lain dan memberikan pada Leni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jamal mana?" tanya Bapak, lalu mengeluarkan bagian Jamal dari dalam kantong.&lt;br /&gt;"Wah, pas sekali, Pak. Bapak benar-benar pintar memilihkan," ujar Leni sambil berlenggak-lenggok mencoba sepatu barunya.&lt;br /&gt;"Ya sudah. Ayo simpan di lemarimu. Terus ini kasihkan sama abangmu." Bapak menyerahkan bagian Jamal pada Leni. Aku sudah menebak apa isinya. Sepatu, sandal, dan baju baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Buat Rita, Pak?" Kak Rita ternyata iri juga melihat Leni dan Jamal yang masih SD.&lt;br /&gt;Bapak merogoh dompetnya. Menyerahkan empat lembar pecahan seratus ribu pada Kak Rita yang langsung menerimanya dengan mata berbinar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu cari sendiri. Bapak takut nanti tidak sesuai ukuran," kata Bapak. Bapak juga menyerahkan sejumlah uang yang sama padaku. Aku dan Kak Rita hanya beda dua tahun, dia sudah tamat SMU tahun kemarin. Mau kuliah tapi tidak lulus tes perguruan tinggi negeri, katanya mau diulang lagi tahun depan. Mau masuk swasta terlalu mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dewi nggak usah beli baju, Pak. Yang lama masih bagus-bagus." Aku menolak uang pemberian Bapak. Kak Rita dan Bapak terkejut mendengar ucapanku. Hari gini... Nggak beli baju baru buat lebaran? Mungkin itu yang ada dalam pikiran mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi kamu harus beli, Wi." Bapak tidak terima.&lt;br /&gt;"Tapi baju Dewi sudah banyak, Pak."&lt;br /&gt;"Ini bukan masalah bajumu masih banyak Wi, tapi..." Bapak menggantung ucapannya.&lt;br /&gt;Aku tahu lanjutannya. Bapak pasti segan sama orang-orang. Malu kalau nanti ada yang bilang bapak tidak sanggup membelikanku baju baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini warga di kampungku memang telah menyalahartikan makna Idul Fitri. Bagi bapak, ibu, kakak, dan kebanyakan warga lainnya, Idul Fitri adalah ajang pamer kekayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Besok lebaran tiba. Hari yang dinanti oleh semua orang. Ada yang senang karena siang tidak harus menahan lapar dan haus lagi. Ada juga yang sedih karena bulan amalan dilipatgandakan pahalanya akan pergi. Andai semua bulan adalah Ramadhan, sungguh menyenangkan. Betapa tidak? Rumahku kelihatan sangat indah. Halaman tampak sangat bersih. Kaca-kaca licin mengkilat dengan kain gorden yang masih baru. Aneka jenis kue sudah berderet rapi dalam lemari, toko kue sepertinya kalah. Tapi Ibu dan Kak Rita selalu marah-marah saat Jamal dan Leni diam-diam mengambil kue itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nanti saja dimakannya, itu untuk tamu, kalau habis bagaimana?" begitu selalu alasan mereka.&lt;br /&gt;Jadi Ibu dan Kak Rita capek-capek buat kue itu tidak boleh dimakan? Haruskah tamu yang pertama kali harus mencicipinya? Lagipula tidak mungkin Jamal dan Leni sanggup menghabiskan kue sebanyak itu.&lt;br /&gt;"Bu, Bapak kok belum pulang. Kita kan belum bayar zakat?" kataku pada Ibu. Dua hari yang lalu Bapak pergi ke rumah Nenek di kampung sebelah, sekitar empat kilometer. Katanya hanya sehari, mengantarkan Nenek belanjaan dan juga mengantarkan beberapa kue. Tapi sampai sekarang Bapak belum juga kembali.&lt;br /&gt;"Ibu juga tidak tahu, Wi," jawab Ibu, sambil melanjutkan pekerjaannya. Kami sedang membat ketupat untuk santapan besok sepulang shalat Id di lapangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tok...tok...tok...&lt;br /&gt;Seseorang mengetuk pintu dari luar.&lt;br /&gt;"&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Assalamualaikum...&lt;/span&gt;" terdengar seseorang mengucapkan salam. Aku segera membukakan pintu.&lt;br /&gt;"Nenek...!" aku langsung memeluk Nenek.&lt;br /&gt;Ternyata Bapak berhasil membujuk Nenek untuk berlebaran bersama kami. Tapi kok Nenek datang sendiri? Mana Bapak? Kuajak Nenek masuk, lalu kemudian memanggil Ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bapakmu mana, Wi?" tanya Nenek begitu duduk di atas sofa baru.&lt;br /&gt;Aku kaget, begitu juga dengan Ibu dan Kak Rita yang keluar kamar saat mendengar Nenek datang.&lt;br /&gt;"Bukannya Bapak ke rumah Nenek?" Kak Rita yang menjawab pertanyaan itu.&lt;br /&gt;Sekarang gantian Nenek yang memandang kami dengan heran. Kami semua mulai cemas. Apa yang terjadi dengan Bapak? Ke mana dia?Suara beduk menandakan waktu berbuka tiba terdengar dari masjid. Penuh tanda tanya kami beranjak meninggalkan ruang tamu, menuju meja makan. Tak ada yang bersuara, semua cemas memikirkan Bapak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar...&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lailahailallahu Allahu Akbar...&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Allahu Akbar walillahilhamd...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara takbir mulai bergema. Angin Idul Fitri telah menyapa. Syawal datang menyambut. Lebaran sudah di depan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari pintu depan. Bergegas Ibu segera membukakan pintu. Pasti ibu berharap, jika itu bukan Bapak, setidaknya orang yang membawakan kabar tentang Bapak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maaf, apa betul ini rumahnya Pak Umar?"&lt;br /&gt;"Be... betul. Ada apa dengan... suami saya, Pak?" terbata Ibu menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menuju pintu depan, menyusul ibu. Dadaku berdegup kencang. Pikiran buruk langsung hinggap di kepala. Hanya dua hal yang sekarang bermain di kepalaku. Penjara dan rumah sakit.&lt;br /&gt;Tiga orang anggota polisi mencari Bapak. Ada apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami dari kepolisian ditugaskan menangkap Pak Umar, karena dia salah seorang tersangka yang ikut melakukan perampokan toko emas seminggu yang lalu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh Ibu tiba-tiba jatuh. Aku segera menyambutnya.&lt;br /&gt;"Bapak? Merampok toko emas? Seminggu lalu?"&lt;br /&gt;"Bapak mana, Bu?" tanyaku setelah kemudian kulihat tidak ada Bapak di antara kami.&lt;br /&gt;"Kemarin pergi sama temannya, katanya ada urusan penting, mungkin besok baru pulang."&lt;br /&gt;Aku ingat, pertanyaan itu kulontarkan pada ibu ketika pertama kali sampai di rumah. Apakah saat itu Bapak melakukannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba aku merasa sangat bodoh sekali. Mengapa aku tidak berpikir dari mana Bapak mendapatkan uang sedemikian banyak untuk membelikan kami baju dan sepatu baru? Kue-kue, gorden, juga sofa baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari mana semua uang itu? Kalau dari gaji Bapak yang hanya seorang pegawai negeri aku yakin tidak mencukupi, walaupun itu sudah ditambah dengan tunjangan hari raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah...Bapak. Mengapa dengan cara ini dia menyambut lebaran? Mengapa dengan cara ini dia menunjukkan pada tetangga kalau dia mampu? Apakah makna Idul Fitri di hati bapak?&lt;br /&gt;Air mata mengaliar di pipiku. Aku ingat, kami belum bayar zakat.   &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2680618420661537872-1258215812886466146?l=sastrapapyrus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/feeds/1258215812886466146/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/2009/09/saat-lebaran-tiba_9010.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2680618420661537872/posts/default/1258215812886466146'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2680618420661537872/posts/default/1258215812886466146'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/2009/09/saat-lebaran-tiba_9010.html' title='Saat Lebaran Tiba'/><author><name>Lingkaran Sastra Papyrus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16738817486361889053</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_rYfH5iQkQq4/Srf1JyHI8pI/AAAAAAAAAEE/yHtCcQkwvHg/s72-c/Ketupat_Lebaran_by_RomanticDevil.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2680618420661537872.post-7498201986613900885</id><published>2009-08-20T13:26:00.000-07:00</published><updated>2009-08-20T13:39:22.748-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sajak'/><title type='text'>Memikirkan Sebuah Indonesia</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oleh; Mukhlis Rahmanto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_rYfH5iQkQq4/So2ziZ8sdFI/AAAAAAAAAD0/mq9hpoJ5o_4/s1600-h/indonesia.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 160px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_rYfH5iQkQq4/So2ziZ8sdFI/AAAAAAAAAD0/mq9hpoJ5o_4/s200/indonesia.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5372147334185251922" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencintai Indonesia adalah Mencintai Politik&lt;br /&gt;Sajak dari Langit Tak Mendung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang harus disalahkan adalah politik&lt;br /&gt;Yang ramai-ramai dijadikan topi, jaket  juga sarung&lt;br /&gt;Penutup borok pikiran dan gila kekuasaan&lt;br /&gt;32 tahun tidak jemu makan malam dan buang air besar&lt;br /&gt;Dengan jamuan dan menu kayu jati Kalimantan, emas Freeport dari Timika,&lt;br /&gt;gas alam Arun plus darah rakyat Aceh,&lt;br /&gt;aspal  Buton, dan minyak bumi Pangkalan Brandan&lt;br /&gt;Di ruang tengah dan kloset belakang Istana Kepresidenan &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang harus disalahkan adalah politik&lt;br /&gt;Yang menanam pohon sentralisasi pemerintahan&lt;br /&gt;: Harus "Jawa", bukan Kalimantan, Sumatra, Sulawesi, apalagi Lombok&lt;br /&gt;Yang mengumpulkan anggota keluarga tujuh turunan&lt;br /&gt;: Jadi para wakil rakyat di parlemen&lt;br /&gt;  Jadi konglomerat-borjuis baru dadakan&lt;br /&gt;   Raja-raja tender proyek pemerintah&lt;br /&gt;Padahal secara takdir, "Butuh kristalisasi keringat,&lt;br /&gt;artinya perjuangan",  kata Thukul Arwana di acara Empat Mata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang harus disalahkan adalah politik&lt;br /&gt;Yang diusung, diikat, dan dibudayakan&lt;br /&gt;Oleh partai-partai politik yang gemar mengumbar&lt;br /&gt;Gelas-gelas kosong-bohong  pragmatisme&lt;br /&gt;Lalu meninggalkan luka dan darah tercecer&lt;br /&gt;Yang ditorehkan oleh  fanatisme akut para pendukung&lt;br /&gt;Di jalanan-jalanan utama ibukota, provinsi, hingga  kabupaten&lt;br /&gt;Dan yang menang pemilu tentu orang-orang itu&lt;br /&gt;Yang memakai kaos dan merchandise kuning itu&lt;br /&gt;Politik jadi  bernilai rendah, jadi sekedar babu abadi kekuasaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang harus disalahkan adalah politik&lt;br /&gt;Yang berisikan keputusan-keputusan&lt;br /&gt;Ekonomi yang mengayomi kepala-kepala konglomerat&lt;br /&gt;: Artinya membunuh kelas-kelas industri menengah ke bawah&lt;br /&gt;Militer yang malah menembaki rakyat&lt;br /&gt;Kebudayaan yang dikomandoi dari pusat&lt;br /&gt;Kebebasan yang dihantui langkah-langkah sigap intelejen&lt;br /&gt;Keadilan yang direkayasa oleh bapak-ibu hakim kejaksaan&lt;br /&gt;: Artinya keadilan adalah beberapa lembar uang rupiah atau dolar&lt;br /&gt; Bisa juga satu lembar check transfer yang langsung bisa diambil di Bank&lt;br /&gt;Pendidikan dalam satu warna seragam&lt;br /&gt;: Mematikan kreatifitas dan mengajarkan pengingkaran&lt;br /&gt; bahwa manusia itu berbeda-beda, tidak satu rupa&lt;br /&gt;  Ada yang miskin, juga ada yang kaya&lt;br /&gt;Lalu ujung runcing politik adalah lima sila Pancasila yang dipasang sebagai justifikasi&lt;br /&gt;di depan moncong senjata-senjata polisi yang bertekuk lutut&lt;br /&gt;di depan selembar uang seratus ribuan, artinya uang sogokan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang harus disalahkan adalah politik&lt;br /&gt;Yang menjadikan darah manusia nusantara&lt;br /&gt;: Tidak lagi merah-putih seperti pendahulu yang berani mengusir&lt;br /&gt;  kolonialisme Inlander dan orang-orang bule penjajah itu&lt;br /&gt;   Kini darah itu malah cair dan menghamba pada tuan dan investor asing&lt;br /&gt;    IMF, LSM dan dana asing, juga presiden USA itu&lt;br /&gt;Yang membentuk mental cekak-pendek manusia nusantara&lt;br /&gt;: Sarjana yang ingin  jadi pegawai negeri semuanyalah&lt;br /&gt; Korupsi yang dijadikan uswah hasanah  oleh para cucu hingga para cicitlah&lt;br /&gt;  Materialisme dan hedonisme yang  menggilalah&lt;br /&gt;   Pokoknya ingin serba cepat dengan uang darurat&lt;br /&gt;    Tanpa darah dan keringat&lt;br /&gt;     Tiba-tiba jadi pejabat eselon empat&lt;br /&gt;      Akal yang sehat bertanya, "darimana semua itu bisa cepat didapat?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang harus dibenarkan adalah politik&lt;br /&gt;Dengan kesadaran  bahwa demokrasi adalah proses untuk berjalan bersama&lt;br /&gt;: bermacam partai tidak mengapa asal rakyat dan kestabilan dipanggul&lt;br /&gt; Tapi stabil yang bukan "status quo"&lt;br /&gt;  Sebab ketenangan adalah harga mahal sebuah kemajuan&lt;br /&gt;   Rakyat sudah muak dengan kebohongan, ulah, dan itu-itu saja  &lt;br /&gt;Dengan mereka para politikus yang membusungkan dada rakyat&lt;br /&gt;Bukan perlahan sembunyi menggelambungkan perut pribadi, anak, dan istri&lt;br /&gt;Dengan dunia politik yang tidak serba penuh dengan intrik menjatuhkan&lt;br /&gt;: Tapi ya, kalau  terbukti korupsi. Ya, harus legowo.&lt;br /&gt;Dengan politikus yang bermutu, ahli, dan professional&lt;br /&gt;: Sebab politik adalah semacam ibu bagi segala kebijakan&lt;br /&gt;Dengan politik dan politikus yang bersih dan berhias moral agama&lt;br /&gt;: Bukan malah menjual agama dan fatwa, yang artinya&lt;br /&gt; Menjual ayat-ayat Tuhan. Bayangkan!&lt;br /&gt;  Bekerja di parlemen tapi juga bertanggung jawab ketika di dalam masjid&lt;br /&gt;   Artinya, alur utama politik yang seyogyanya adalah Ketuhanan&lt;br /&gt;Dan reformasi adalah pembenahan dan pembenaran alur buntu politik kita&lt;br /&gt;: Reformasi adalah semacam kelahiran baru bayi demokrasi&lt;br /&gt;  Perlu  gizi yang cukup untuk tumbuh, juga masa yang tidak cukup sewindu&lt;br /&gt;   Perlu guru yang  membimbing-arahkan&lt;br /&gt;    Perlu agamawan yang menyuluh moral dan kerukunan&lt;br /&gt;     Perlu teknokrat yang mumpuni&lt;br /&gt;      Perlu tentara yang kuat dan berani mati&lt;br /&gt;       Perlu seniman yang kreatif menghibur segar ringan&lt;br /&gt;        Perlu rakyat yang patuh tapi tak segan jadi oposisi mengingatkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang harus disalahkan adalah politik&lt;br /&gt;Yang harus dibenarkan adalah politik&lt;br /&gt;Salah benar adalah wajah kita semua&lt;br /&gt;Salah benar adalah rasa seduh hangat cinta kita&lt;br /&gt;Salah benar adalah&lt;br /&gt;: Langkah kaki, gerak tangan, air mata, tetes keringat, dan degup jantung&lt;br /&gt; Aku, kamu lalu kita&lt;br /&gt;   Yang seratus persen asli, anak negerinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Abaseyya-Kairo, Rabiul Awwal 1427 H&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2680618420661537872-7498201986613900885?l=sastrapapyrus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/feeds/7498201986613900885/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/2009/08/memikirkan-sebuah-indonesia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2680618420661537872/posts/default/7498201986613900885'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2680618420661537872/posts/default/7498201986613900885'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/2009/08/memikirkan-sebuah-indonesia.html' title='Memikirkan Sebuah Indonesia'/><author><name>Lingkaran Sastra Papyrus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16738817486361889053</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_rYfH5iQkQq4/So2ziZ8sdFI/AAAAAAAAAD0/mq9hpoJ5o_4/s72-c/indonesia.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2680618420661537872.post-5279885460927782417</id><published>2009-08-20T12:51:00.000-07:00</published><updated>2009-08-20T12:56:10.152-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>KU  TAKUT UNGKAPKAN  SUNYI</title><content type='html'>Oleh; Widi Indriana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hening&lt;br /&gt;Menusuk ubun-ubun jantung nadi ini&lt;br /&gt;Terperangkap;terjerat;&lt;br /&gt;Menggugah kesunyian yang sempat meradang;mendahsyat;&lt;br /&gt;Dalam ketukan-ketukan syair ketiadaannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Hanya alunan derap kecapi&lt;br /&gt;    Yang mampu menembus dengan nuansa keelokan&lt;br /&gt;    Menderapkan segala kesunyiaan&lt;br /&gt;    Memusnahkan segala kepalsuan&lt;br /&gt;    Hingga ku mampu bersiul lepas&lt;br /&gt;    Dengan senyum simpul manisku&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Indah tak beraturan…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Endapan lara ini kian merajut&lt;br /&gt;Yang menghantui buih-buih nestapaku,lalu&lt;br /&gt;Kulantunkan melodi-melodi manis&lt;br /&gt;Membayangkan aku dalam riuhnya alunan-alunan syair itu&lt;br /&gt;Terjerat,terlena hingga asoi ku dibuatnya&lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;    tapi&lt;br /&gt;    Mengapa cercahan itu berbekas,berbalas&lt;br /&gt;    Menjadi bongkahan lara&lt;br /&gt;    Yang terkadang ingin ku halau,&lt;br /&gt;    Hingga ku bawa ke danau-danau; bukit-bukit menuju langit&lt;br /&gt;    Bersimpuh menyusun nada,bergelora mencari mangsa&lt;br /&gt;    Sehingga……&lt;br /&gt;    kalimah-kalimah cintapun dianggap dusta semata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Detak hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Derap kecapi itu membuatku takut akan kesunyian.&lt;br /&gt;Karna sunyi…..&lt;br /&gt;Ku tak mau sendiri&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2680618420661537872-5279885460927782417?l=sastrapapyrus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/feeds/5279885460927782417/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/2009/08/ku-takut-ungkapkan-sunyi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2680618420661537872/posts/default/5279885460927782417'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2680618420661537872/posts/default/5279885460927782417'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/2009/08/ku-takut-ungkapkan-sunyi.html' title='KU  TAKUT UNGKAPKAN  SUNYI'/><author><name>Lingkaran Sastra Papyrus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16738817486361889053</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2680618420661537872.post-4103581527880996009</id><published>2009-08-18T18:14:00.000-07:00</published><updated>2009-08-18T18:35:33.586-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Korban Perasaan Tanda Kasih Sayang</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oleh; Helda Zakaria Nur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_rYfH5iQkQq4/SotVruvhnKI/AAAAAAAAADs/3qQR5AZIxAc/s1600-h/kartun3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 188px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_rYfH5iQkQq4/SotVruvhnKI/AAAAAAAAADs/3qQR5AZIxAc/s200/kartun3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371481190339550370" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;H&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;ari ini banyak sekali air mata yang ku tumpahkan, Aku sendiri sering bertanya pada diriku sendiri, Kenapa Aku terlalu lemah?Kenapa ku terlalu cengeng? Kenapa Aku terlalu takut menghadapi kehidupan ini? Ah Aku seperti orang yang punya semangat hidup aja! Banyak sekali masalah yang ku hadapi Di Mesir ini, ada yang bisa ku hadapi dengan tenang ada juga yang sulit untuk ku selesaikan. Kalau udah terlalu banyak masalah palingan Aku hanya mengadu dengan Allah sambil mengurung diri di kamar sendirian, Aku belum bisa untuk berbagi cerita tentang masalah ku ke orang lain, mungkin itulah kekuranganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana di kamarku kali ini terasa lebih tenang dari biasanya, bunga yang ada di atas meja belajarku itu memberikan sedikit keindahan di hatiku, walaupun hatiku kali ini lagi kalut. Ku tarik nafas dalam-dalam dan ku biarkan tatapanku menembus awang-awang. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tok…tok…tok..&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Assalamualikum..." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Lamunanku terhenti seketika,&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Wa'alaikum salam"&lt;/span&gt; Jawabku singkat sambil membuka pintu&lt;br /&gt;"Eh.. ada Chika, masuk K'!" suruhku padanya&lt;br /&gt;Ku perhatikan wajahnya, Aku g' bisa menebak apa yang akan ia bicarakan pagi ini, ku biarkan ssaja dia memulai percakapan. Aku lagi terbawa perasaanku sendiri.&lt;br /&gt;"Ra, emm…Gue boleh minta tolong g?&lt;br /&gt;"Boleh…! Jawabku singkat&lt;br /&gt;" Loe punya uang simpanan g' , gue lagi butuh uang banget nih, 100 Pound aja!"&lt;br /&gt;" O…, Aku kira ada masalah apa, ntar ya ku lihat dulu"&lt;br /&gt;"Wah, sorry banget K' uang ku Cuma 75 pound, g' cukup seratus! kemaren Aku baru aja beli buku di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ma'rod&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ma'alays&lt;/span&gt; ya!",&lt;br /&gt;" Kalau Aku pinjam 50 boleh ya? Pintanya memelas&lt;br /&gt;" Boleh, nih pake aja" jawabku sambil mengeluarkan uang yang ada di dompetku itu.&lt;br /&gt;" Thanks ya, Ra!"&lt;br /&gt;" Ya sama- sama!' jawabku singkat sambil menutup pintu kamarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bingung juga sebenarnya seharian gini g' kuliah dan ngurung di kamar, biarlah yang penting Aku bisa menenangkan pikiran dan mengumpulkan semangat baru, masalah itu sebenarnya membuat manusia lebih dewasa dan tegar dalam menghadapi kehidupan, tapi kenapa manusia sering takut dan sedih ya? Kata-kata ini yang sering ku ucapkan untuk menghibur kesedihanku dan untuk membangkitkan semangatku kembali. AKu kan sekarang udah jadi kakak kelas, berarti Aku harus lebih dewasa, kan malu sama adek-adek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;# # #&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Suasana malam ini terasa lebih indah bagiku, karena Aku bisa kumpul bareng adek-adek baru yang ada di rumahku. Ada Ani dan Rena. Sudah dua minggu mereka bersama di rumah ini, tapi Baru kali ini kami bisa lebih akrab dengan mereka. Mungkin karena aku jarang makan malam bareng mereka, Biasa banyak tugas di luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" K' K' Chika mana ya?" tanya Ani&lt;br /&gt;" Mungkin lagi di rumah temennya!"&lt;br /&gt;"O..o.." balas Ani&lt;br /&gt;"K' Aku sedih hari ini, karena ablah marahin Aku waktu tobur ngambil tasdik iqomah tadi pagi, padahal kan Aku cuma nanya, kapan ya kira-kira tasdiknya bisa saya ambil, karena AKu mau masuk kelas ikut muhadaroh Quran" cerita Rena memula topic pembicaraan malam ini&lt;br /&gt;" Iya, K' aku juga dibukrohin trus sama ablah, Kenapa sih Al-Azhar sekolah yang terkenal diseluruh dunia, urusin tasdik aja susah amat! G' keren banget, !" celuruk Ani menambahkan&lt;br /&gt;" Kalau g' gitu bukan Azhar mananya! Nah disitulah letak kerennya azhar!" jawabku santai&lt;br /&gt;" Lho kok?" jawab mereka serentak&lt;br /&gt;" Iya dong, coba deh kalian fikirin, kalau misalnya Azhar serba gampang, ga' ada tuh ulama-ulama yang sabar dan tangguh menghadapi umat, baru ngurus gituan aja nyerah, ngeluh makanya sebelum ngadepin masyarakat, hadapin dulu ablah-ablah atau amu-amu di kuliah itung-itung ngetes mental juga.He…he..!"  Jawabku enteng&lt;br /&gt;" Iya tapi kan buang-buang waktu banget, K'!"&lt;br /&gt;" Biar waktunya g' terbuang sia-sia, waktu tobur baca buku aja, dari pada bete' nungguin, kan bermanfaat juga !" saranku pada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka hanya mengangguk tanda setuju dn membenarkan apa yang ku katakan. Kami pun diam sejenak. Hidangan yang tersedia di meja makan kami lahap satu persatu, nikmat sekali. Ikan sambel yang dibuat Rena habis tanpa sisa. Oseng-osengannya juga g' ketinggalan. Semua sibuk dengan makanan nya masing-masing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" K' Aku dapet undangan lho dari temanku , minggu depan acaranya"&lt;br /&gt;" Undangan apa?" tanyaku singkat&lt;br /&gt;" Undangan perkawinan, acaranya di mesjid assalam, kata temen-temen calonnya sih S2 " Jelas Rena&lt;br /&gt;'' O .. ya, dimana ketemunya ya? padahal kita baru aja beberapa minggu disini belum nyampe sebulan , dimana kenalnya ya?" tanya ani keheranan. Belum sempat Aku menjawab tiba tiba Rena nyambung lagi&lt;br /&gt;" K' di Kairo ini, banyak banget yang merid pas kuliah kan? Sampe-sampe di Indo ada orang tua yang takut sekolahin anaknya di kairo karena katut anaknya merid pas kuliah, ini bener lho kak, tetangga ana sendiri yang kaya' gitu. Lagian Film- film Indo banyak yang menceritakan tentang keadaan seperti itu. Liat aja di film Kiamat Sudah Dekat, Padamu Aku Bersimpuh, dan yang bakalan heboh Ayat-ayat Cintanya Kang Habib."&lt;br /&gt;" Gitu aja heboh, malahan justru hal- hal yang baik itu yang harus kita dukung, dari pada pacaran yang g' jelas, Ayo pilih mana? Tanyaku balik&lt;br /&gt;" Iya sih K', tapikan masih tingkat satu, masih perlu belajar, jangan-jangan udah merid, kuliahnya jadi berantakan, karena banyak yang di urus, suami, anak, belum lagi ngurus kuliah sendiri, hi… g' kebayang deh!" Ani tampak aneh dengan keadaan seperti itu.&lt;br /&gt;" Terserah anggapan orang deh, temen kakak malah nilai nya bagus setelah merid, ayo gimana? G' semuanya bener kan kata orang- orang! kalau mau lebih yakinnya, rasakan aja sendiri, kita siap jadi panitia kok, he..he…" Kataku sambil becanda&lt;br /&gt;" Idih kakak, kok gitu sih, jangan- jangan yang ngomong lagi bakalan nyusul bentar lagi!"&lt;br /&gt;Kali ini Aku hanya tersenyum sambil menghabiskan makanan ku yang tersisa beberapa suap itu. "Belum tahu dia" bisikku dalam hati. Kami pun diam sejenak.&lt;br /&gt;" K' Aku kasian dengan temen seangkatanku, ada 11 orang yang belum jelas statusnya di Mesir ini!" Ani memulai percakapan&lt;br /&gt;" Kok bisa?" tanyaku balik&lt;br /&gt;" Iya, karena mereka ke sini sebelum ada surat keterangan Sifaroh Mesir, jadi visanya bukan visa pelajar, melainkan visa turis, Padahal mereka ikut test lo di Indo!" jelas Ani kembali&lt;br /&gt;" O..ya,! Kakak yakin PPMI dan KBRI pasti lagi cari jalan keluar untuk mereka, kita doakan aja, semoga mereka sabar dan dimudahkan urusannya oleh allah"&lt;br /&gt;" Amin…! Jawab mereka bersamaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Allahu Akbar….Allahu Akbar…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Udah azan tuh , kita siap siap yuk!" ajakku pada mereka.&lt;br /&gt;Mereka pun bergegas sambil merapikan meja makan .&lt;br /&gt;" Kakak Wudhu duluan ya..!" pintaku&lt;br /&gt;" Iya" jawab mereka serentak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;# # #&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ku lihat Chika tergeletak tidur di atas kasur empuknya itu, ku dekati ia perlahan. Ku lihat wajahnya lebam, kaki dan tangannya ada goresan luka-luka.Pasti ia merasakan sakit sekali bisikku dalam hati, apa yang terjadi padanya Allah? Tanyaku dalam hati. Aku hanya memperhatikannya sebentar tanpa berani untuk bersuara sedikitpun. Kasian Pikirku ia terlalu cape' dan pulas. Aku juga mengambil posisi yang tak jauh beda dengan nya, merebahkan tubuh yang lemes di atas shofa empuk ruang tamu, Aku cape sekali hari ini, kuliahku full sampe jam tiga sore,Aku harus mengembalikan sedikit tenagaku menjelang sholat ashar. Aku berbaring sejenak, semoga tidurku kali ini emang bener-bener berkualitas harapku dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Azan yang berkumandang terdengar nyaring di telingaku, membuat aku terjaga dari tidur yang hanya seperempat jam itu, Alhamdulillah badanku kali ini lebih Fresh dari yang tadi. Aku bergegas menuju hamam untuk bersih-bersih dan wudhu. Hampir aja Aku lupa kalau Chika masih tertidur pulas, Aku harus membangunkannya. Chika yang kelihatan cape ternyata pas aku bangunkan ia langsung sadar, Aku kira ia g' dengar dengan suaraku, karena suaraku lebih pelan menurut biasanya. Takut mengagetkan dia yang lagi sakit. Akhirnya kamipun sholat berjamaah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai sholat dan berdoa kami saling bercerita satu sama yang lainnya. Ia mulai menceritakan masalah yang paling pribadi ke Aku, masalah keluarga, temen dekat, bahkan kenapa ia luka-luka seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Ra maafin Gue ya, karena belakangan ini Gue jauh dari loe n jarang di rumah, Gue lagi suntuk berat belakangan ini, tapi sekarang Geu baru sadar, bahwa masalah yang Gue hadapi belum seberapa bila di bandingin dengan masalah orang lain.Lagian kalau Gue lari dari masalah malahan Gue dapet masalah baru kaya' badan gue ini" jelas Chika yang berfikir lebih dewasa saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Iya, K' masalah ortu kamu yang cerai, terus masalah dengan temen dekat kamu, anggap aja sebagai episode pembelajaran diri, siapa tahu dengan kejadian ini, kamu bisa lebih mateng dalam bertindak dan berfikir, semua pasti ada hikmahnya, luka yang ada di hati lebih terasa sakit ketimbang luka yang ada di tubuh ini, tapi walaupun begitu hati akan sembuh dari luka-luka itu bila kita selalu memohon pada Allah untuk di beri kekuatan dan kebersihan hati. Jangan sedih ya, kalau ada apa-apa Aku siap menolong kamu" Ku pegang tangan nya untuk meyakinkan bahwa Aku memang sangat bersedia membantunya semampuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Makasih ya, Ra, Loe emang teman gue yang paling baek."&lt;br /&gt;" G perlu ucapin terima kasih, sudah sepantasnya kita hidup saling tolong-menolong antara sesama, apalagi dengan Chika yang imut. He..he.." Aku mulai becanda dengannya biar g' kelihatan serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;# # #&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Pagi yang ceria ini kembali menemani Aku di awal kehidupan baru, karena hari ini adalah hari baru yang harus ku isi dengan kegiatan yang bermanfaat, bukan hari kemarin yang telah berlalu. Matahari yang tersenyum menyapaku dengan sinarnya yang elok, embun pagi juga membasahi dedaunan yang memberikan kesejukan di setiap mata memendang. Ku nikmati suasana pagi ini dengan melepaskan pandangan ke seluruh penjuru yang dapat ku saksikan di balkon rumahku itu. Bangunan Anwar sadat terlihat jelas disitu, stadion bola juga bisa ku lihat dari balkon rumahku itu, luas, hijau dan menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"K' kok senyum-senyum sendiri!" Ani mengejutkan fantasiku&lt;br /&gt;" Nggak!" jawabku singkat&lt;br /&gt;" Udah tiga bulan juga ya K' kita bersama" Sambung Ani&lt;br /&gt;" Kenapa udah bosenya sama kakak?" tanyaku balik&lt;br /&gt;" Nggak!" jawab Ani kontan&lt;br /&gt;" Atau jangan-jangan Ani mau pindah?" tanyaku menyelidik&lt;br /&gt;" G' kok K', Aku mau ngomong sesuatu yang rahasia, tapi gimana ngomongnya ya?" Ani tampak ragu untuk mengutarakan langsung maksud dan tujuannya, Aku tulis aja ya Mbak! Pintanya.&lt;br /&gt;" Boleh, ntar kalau kakak bisa Bantu, kakak bantu deh mecahin masalahnya.Oke!" jawabku&lt;br /&gt;" Syukron ya K"&lt;br /&gt;"Iya sama-sama"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;# # #&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TO: Kakakku yang baik&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Semoga dengan membaca surat ini kakak dalam keadaan sehat dan ceria selalu, Aku bingung mau dimulai darimana AKu menceritakan hal ini pada kakak. Yang jelas ku harap kakak bisa memberikan solusi pada Ku, Tepatnya seminggu sesudah ujian Aku ditelpon oleh orang tuaku kalau Aku akan dinikahkan dengan orang satu kampong denganku, Kata ayahku ia belajar di sini, MUHAMMAD HABIB namanya. Aku akan selalu patuh terhadap perintah orang tuaku selagi itu baik. Kakak bisa g' temenin Aku ke rumah madem aisyah hari Jumat besok. Katanya Aku dan Dia akan Ta'aruf disana. Tolongin Aku ya K'&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ADEKMU ANI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ku lipat surat dengan hati-hati, dengan perasaan hati yang juga sangat hati-hati. SUNGGUH takdir adalah ketetapan Nya, kepunyaan Nya, K' HABIB mungkin bukan jodohku. Jawabanku yang terlalu lama ku berikan, ternyata ada peristiwa lain dibalik ini semua, hanya Allahlah milik segala-galanya. AKU Ikhlas dengan keputusan ini. Bukankah dengan pengorbanan semacam ini, tanda Aku sangat sayang pada Adekku Ani. Met bahagia doaku dalan hati. Hanya ALLAH yang tahu perasaanku kali ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2680618420661537872-4103581527880996009?l=sastrapapyrus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/feeds/4103581527880996009/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/2009/08/korban-perasaan-tanda-kasih-sayang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2680618420661537872/posts/default/4103581527880996009'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2680618420661537872/posts/default/4103581527880996009'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/2009/08/korban-perasaan-tanda-kasih-sayang.html' title='Korban Perasaan Tanda Kasih Sayang'/><author><name>Lingkaran Sastra Papyrus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16738817486361889053</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_rYfH5iQkQq4/SotVruvhnKI/AAAAAAAAADs/3qQR5AZIxAc/s72-c/kartun3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2680618420661537872.post-7040512456128847792</id><published>2009-08-18T16:49:00.000-07:00</published><updated>2009-08-20T11:41:03.894-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Senja Yang Hilang</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oleh; Meta Hirata&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_rYfH5iQkQq4/SotAP5kxv8I/AAAAAAAAADk/Lq8c4noQ7zo/s1600-h/kala_senja_datang_by_rezadewangga.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 179px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_rYfH5iQkQq4/SotAP5kxv8I/AAAAAAAAADk/Lq8c4noQ7zo/s200/kala_senja_datang_by_rezadewangga.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371457622466740162" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senja pun hilang. Seketika semuanya gelap dan kosong, aku masuk dalam dimensi ruang yang tak kumengerti...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba tubuhku kurasakan berada di tempat yang asing, aku tak mengerti dimana itu, aku hanya sendiri, aku kini masih termenung sendiri, hembusan angin musim panas mengalun lembut menerobos celah-celah rambutku yang merah. Kupandangi pasir yang terhampar luas dilautan padang gurun yang gersang, tapi sore ini senja dimusim panas terlalu indah jika sekedar gersang. Ia hangat, cerah, begitu mempesona berselendang matahari senja yang merona. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Patutkah semua untuk kujadikan kenangan?” Kuputar lagi episode demi episode yang pernah aku jalani. Berkelebat bayang demi bayang yang tertulis dengan tinta abadi diatas lembaran-lembaran putih jalan hidupku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersipu malu, tersenyum sejenak. Me-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;replay&lt;/span&gt; bayang-bayang itu. Kurasa manis, sungguh teramat manis. Pandanganku sekali lagi kuedarkan menatap bayangan itu, kemudian terpejam sejenak mengulangnya dalam dimensi gelap labirin-labirin kosong. Mataku kembali terbuka, kembali kutatap episod manis yang ia suguhkan. Sarafku seakan berhenti untuk kembali memutarnya. Mungkin enggan, mungkin dia ingin membiarkan aku tetap tersenyum, mungkin dia hanya ingin menyuguhkan betapa indahnya senyum itu. Senyum yang memberikan ribuan cahaya dalam relung hati yang suram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Oh... benarkah cahaya itu milikmu?” Tanyaku pada hembusan angin. Kudekatkan pandangan mataku lagi, lagi, dan lagi.&lt;br /&gt;“Tuhan, cahaya itu apakah benar cahaya dia? Tapi, bukankah cahaya adalah lambang kesucian?” ratapku sejenak pada Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat lagi sesosok cahaya itu. Tertunduk malu dalam balutan jilbab polos berwarna biru. Kini kubertanya pada langit.&lt;br /&gt;”Lihatlah langit! cahaya itu dalam balutan jilbab polos berwarna biru, bukankah seperti dirimu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warna biru yang menyejukkan pandangan mataku. Kupandang dia seperti memandang dirimu. Kuharapkan ada kedamaian yang sama disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuturunkan pandanganku berlahan mengamati cahaya itu. Tak sedikitpun dia mencuri pandang padaku. Sesosok cahaya itu tetap terdiam disana. Lalu kumelangkah mendekat kearahnya, dalam jilbab itu kutemukan wajah yang tak kalah bercahaya. Wajah yang sendu, wajah yang melukiskan putihnya kejujuran dan memancarkan eloknya kesetiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lamat-lamat kudengar suara kecil melantun sangat merdu. Kuyakin itu suara cahaya berjilbab polos berwarna biru itu. Angin terhembus sepoi menyampaikan kata-katanya untuk menggugah hatiku. Suara itu mengalun lembut menerobos masuk kedalam hatiku. Suara itu menyebar menggetarkan dinding hati yang mulai rapuh. Suara itu membawa ruh untuk menghidupkan cinta yang mati. Suara itu membawa embun surgawi untuk menyirami bibit-bibit cinta yang tersisa dilahan yang kering kerontang tak berdaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ragaku, jiwaku dan hatiku kembali hidup saat itu. Rasanya ribuan ucapan terima kasih takkan sanggup membayar kebaikannya untukku. Kembali aku berfikir apa yang harus aku berikan padanya. Apa yang harus kulakukan untuknya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin kembali berhembus lewat helaian rambutku, angin mengajariku untaian kata-kata. kata-kata yang patut ku ucapkan untuknya. Kata-kata dari dinding hatiku yang dulu tak kumengerti. Sekali lagi aku pejamkan mata ini. Kucoba tuk menarik nafas untuk mengumpulkan tenaga yang tersisa ditubuh yang mulai rapuh. Kualirkan untaian kata itu berlahan dari hati menuju dinding saraf yang kan terus berjalan mengetuk pita suaraku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;”...ukhti...uhibbuki fillah...”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Senja semakin tenggelam diufuk barat, kurasakan kemiluan cahaya hangatnya menyirami sekujur tubuhku yang lelah. Saat kuangkat pandangan mataku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ouhhh... silau cahayanya menghujam mataku. Perih...” Sontak kupejamkan mata. Dunia kembali gelap, mataku kembali terbuka sedikit demi sedikit. Samar-samar masih kulihat semburat cahaya itu. Kini semakin jelas tergambar cahaya itu adalah seorang gadis berjilbab biru, yah biru seperti langit. Dia sejukkan pandangan mataku, dia hembuskan kedamaian dalam relung jiwaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Gadis, rupanya kau tetap disana, tampak diam namun mempesona.” Kuputar lagi barisan-barisan episode yang terpotong dari hidupku. Kugerakkan jiwa untuk menelusuri jejak rekam yang pernah kusimpan dalam memori ingatanku. Kucoba memejamkan mata sedikit untuk mengingat masa itu. Sejenak kumerenung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Stop...!!!” mulutku tiba-tiba berteriak pada putaran itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataku kembali terbuka mengamati cincin yang ada dijari manis tangan kananku. Cincin dijari manis tangan kanan adalah simbol ikatan seseorang dengan gadisnya, kuingat kata guruku berkelebat tiba-tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sontak aku berpikir.&lt;br /&gt;”Aku sudah menjalin ikatan,dengan siapa?”&lt;br /&gt;”Apakah aku sudah punya gadis, siapakah gadis itu?”&lt;br /&gt;”Bukankah aku baru mengucapkan ikrar cinta pada gadis bercahaya berjilbab biru polos itu.” Pertanyaan itu mencoba menggodaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali kuputar lambaran-lembaran memori dalam otakku. Tak kutemukan apapun disana. hanya bayang gelap terus mendominasinya. Hingga kupejamkan mata tak sedikitpun terbuka ingatan itu. Aku semakin lelah tak berdaya. Kutegakkan pandangan yang semakin melemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataku terbelalak heran.&lt;br /&gt;”Oh... ya...???” Otakku kembali dipenuhi cahaya.&lt;br /&gt;Byarrr, terang benderang, cerah, bagaikan langit siang tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuamati jari manis tangan kanan gadis yang muncul dalam putaran penggalan episode itu. Kuyakinkan disana, dijari itu terselip cincin yang sama persis seperti yang ada dijariku. Cincin itu semakin membuat aku yakin dengan tiga permata biru yang berkerlipan tertimpa cahaya sama seperti punyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plasss...!!!&lt;br /&gt;Tiba-tiba gelap. Bayangan itu hilang, musnah begitu saja. Tak mampu aku ulangi untuk sekedar mengingatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kini aku hanya mampu terdiam. Sejenak kau rasakan tubuhku mulai merasakan aliran darah dalam pori-porinya, udara yang masuk keparu-paruku juga mulai berhembus pelan. Badanku bergetar. Sepertinya ada suara merdu didekatku. Kuyakin itu lantunan ayat-ayat suci kalam Ilahi. Suara itu mengalir lembut lewat telingaku, aku hayati makna dari setiap katanya. Sungguh mendamaikan hatiku. Kudengarkan lamat-lamat ayat demi ayat. Kuhayati setiap hurufnya mengalirkan angin kedamaian dalam jiwaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menemukan diriku dalam dimensi yang berbeda. Kurasakan jiwaku tak lagi berpijak pada bumi. Aku terasa melayang bercumbu bersama tiupan angin. Aku takut ini adalah kematianku. Namun tak kurasakan Izroil menjemput ruhku, aku hanya melayang bersama sepoi angin di alam yang berdimensi serba putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ataukah aku hanya bermimpi? kurasa juga tidak. Aku berada di alam yang tak kumengerti. Dan tak sekalipun aku terbangunkan dari mimpi. Namun lantunan ayat-ayat suci itu masih dapat kudengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan kubuka mataku, sungguh terasa berat. Kulihat setiap sudut ruangan serba putih. Aroma khas obat menusuk hidungku. Kembali menyadarkan kalau ternyata hidungku masih bernafas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ourrrggg...” Aku kesulitan untuk menggerakkan badanku. Rasanya semua hanya beku kaku terdiam. Aku sama sekali tidak bisa menggerakkannya sedikitpun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah mengapa aku sendiri masih bertanya pada ruangan putih ini.&lt;br /&gt;Kenapa dan sejak kapan aku dirumah sakit ini?&lt;br /&gt;Mungkin gadis yang membaca la-quran disampingku tau.&lt;br /&gt;”Hai gadis, dimanakah aku?”&lt;br /&gt;Dia hanya diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai gadis, dimanakah aku?” Kucoba berulang-ulang memanggilnya, namun gagal. Seditik kemudian aku baru sadar, ternyata mulutku masih terdiam membisu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aaauuurrgg...” gerutuku.&lt;br /&gt;Hanya potongan jeritan yang entah didengarnya atau tidak.Tapi aku masih mencoba. Padahal aku sangat ingin bertanya kepadanya. Ingin kutanyakan tentang aku, aku sendiri tak tau kini siapa sebenarnya aku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aneh, kenapa aku bisa dirumah sakit ini?...” Sekarang aku coba sekuat tenaga.&lt;br /&gt;”..auurrgg...ya Allah...ya Robbi...?!?” Tubuhku mulai bisa kugerakkan berlahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Alhamdulillah&lt;/span&gt; ya Allah!" Teriak gadis disampingku. Didekapnya mushaf kecil itu, matanya kulihat berkaca-kaca.&lt;br /&gt;"ya Allah, ya Robbi… Mas yus sudah sadar, terima kasih Tuhan”&lt;br /&gt;"Mas, mas, ini aku mas, fatimah… fatimah adik mu?" Gadis itu hanya bingung bercampur gembira, mukanya masih tersendu menangis haru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya Allah… bentar ya mas, aku panggil dokter joko dulu, mas tenang saja”&lt;br /&gt;” Oh ya, aku harus telpon mbak resya, dia sudah lama nugguin mas sadar loh. Pasti gembira banget lihat mas sudah sadar.”&lt;br /&gt;”Ya sudah mas tenang dulu ya, fatim panggil dokter joko dulu. Inget loh mas… jangan mikir yang berat dulu, mas belum kuat. Nanti kalau terasa pusing, minum saja obat di meja samping yang warnanya hijau." Pintanya tergopoh-gopoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu bergegas berlari keluar. Aku masih terpaku dengan ucapannya tadi. Tak mampu kuingat semua dan membuatku cukup bingung dengan keadaan yang tiba-tiba ini. Kucoba menguraikan ingatan-ingatan tadi sedikit demi sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Yus?...”&lt;br /&gt;”Apakah ini namaku?...”&lt;br /&gt;Entahlah, mungkin iya. Kulewati lagi ingtanku. Gadis disampingku tadi adalah fatimah adikku. Aku punya adik yang tadi mebaca al-qur’an disampingku, suaranya merdu mendayu-dayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus ada satu lagi resya, siapakah dia?&lt;br /&gt;Apakah gadis yang bercahaya berjilbab biru polos dalam mimpi itu?&lt;br /&gt;Entahlah aku masih belum bisa menguraikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Auuuhhhggg...ya Allah kepalaku” Kurasakan kepalaku pusing. Sangat sakit. Kuhentikan ingatan-ingatan itu. Kuraih pil hijau diatas meja disamping tempat tidurku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pusing dikepalaku berlahan menghilang setelah kutelan pil hijau itu. Dokter pun datang dengan si fatimah. Dia mulai memeriksa keadaanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ok, gini mbak fatim, mas kamu sudah sadar. Ingatanya sudah cukup kuat untuk dipulihkan kembali. Kita harus menjalani terapi dan tentunya akan ada pengobatan yang terus berlanjut dibawah pengawasan saya. Saya sungguh takjub dengan mas kamu. Ini semua berkat  pertolongan Allah tentunya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ok well, sebulan kedepan kita akan mencoba terapi untuk mas kamu. Saya minta tolong untuk menyiapkan beberpa hal yang bisa membangkitkan ingatannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh ya, jangan lupa kalau bisa datangkan orang yang terakhir kali berinteraksi dengannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuperhatikan dokter itu berbicara sambil tersebyum pada fatimah adikku. Aku hanya mengamati dalam kebingunganku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya dok, terima kasih, saya akan persiapkan semuanya" fatimah tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau begitu, saya tinggal dulu,&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Assalamualaikum&lt;/span&gt;." kata dokter yang memeriksaku sambil berlalu keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wa’alaikum salam&lt;/span&gt;” fatimah menjawab dengan sopan sambil berjalan mengantarkan dokter sampai kepintu ruangan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan kugerakkan tangan, kaki dan badanku. Berat dan sangat berat, namun aku terus berusaha dibantu gadis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari selanjutnya aku muali dilatih kembali bergerak untuk mengembalikan fisikku yang lemah. Terapi pun kujalani. Kini aku mulai bisa mengingat siapa diriku. Aku adalah yus, lengkapnya Yusuf Al-amin. Aku adalah seorang mahasiswa disalah satu perguruan tinggi Islam di negeri ini. Gadis itu adalah fatimah adik semata wayangku. Dia selalu menemani aku selama perawatan ini. Aku ternyata mengalami kecelakaan di sore hari tepat setelah aku silaturahmi ketempat salah satu orang yang aku kenal, itupun aku masih belum bisa mengingatnya. Dan masih banyak hal lagi yang kembali dalam memoriku. Aku kini sudah mulai bisa kembali berinteraksi dengan orang-orang disampingku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun satu hal yang belum aku ingat, bayang-bayang dalam mimpi di padang pasir senja itu. Dan siapakah gadis itu? Aku masih termenung mencoba menguraikan semua. Aku hanya bisa simpulkan gadis dalam mimpi itulah yang mungkin menjadi teman hidupku. Kemarin adikku juga cerita kalau aku sebelumnya sudah melamar seorang gadis dan memberikan cincin yang sama seperti yang kupakai sebagai tanda ikatan. Toh dengan cerita itu aku juga masih tampak bingung. Tak dapat kurangkai sedikitpun simpul untuk mecapai titik terangnya. Dalam mimpi itu aku tak bisa melihat dengan jelas wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sore ini matahari cerah merekah, mengiring senja yang berkilau merah diufuk barat sana. Kutatap pohon, bunga dan rumput-rumput ditaman ini bergoyang berselendangkan cahayanya yang jingga merona layaknya bidadari yang menari-nari bersama mentari. Sore yang indah pikirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Oh ya, aku pernah menemukan sore yang indah ini. Tapi dimana dan kapan?” Aduh, masih saja ingatanku terlalu lemah untuk mengingat masa laluku. Gerutuku sendiri.&lt;br /&gt;ya begitulah. Lagi-lagi aku tak pernah sempurna mengingatnya. kurenungi sore ini sambil meratap pada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ilahi Robbi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, aku ingin mengulang bayang-bayangan itu. Aku ingin berada di lautan padang pasir saat senja untuk menemui gadis berkerudung biru itu. Ya Allah, benarkah ia cahaya yang kan terangi hidupku Izinkanlah aku memandangnya walapun hanya sekali jika lantas Kau kan cabut nyawaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas...mas...mas..."&lt;br /&gt;kudengar suara teriakan disana. Aku terhentak kaget, kemudian menoleh kearah lorong rumah sakit yang sunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas, ini mbak resya datang mas, mbak resyamu datang" Adikku berlari kearahku, seorang gadis berjalan cepat dibelakangnya. Aku masih mencoba membuka ingatanku. Kucoba membuka lembaran-lembaran memori melewati labiri-labirin yang gelap dan kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, seketika aku terhenyak. hatiku tiba-tiba berdetak. dadaku kembang-kempis menahan rasa yang begitu saja muncul. Aliran darahku mengalir cepat. Saraf-saraf mulai hidup. Seperti terbangun dari tidur yang panjang dan melelahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simpul-simpul yang tercerai mulai bersatu kembali. Aku mulai bangkit dan berusaha berlari menjemput gadis berjilbab biru itu. Ingatanku mulai pulih sempurna. Aku terus mencoba berlari kearahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah maha besar diriMu, ingatanku benar-benar telah Engaku kembalikan. Dalam mimpi itu, ternyata gadis yang beberapa hari yang lalu diceritakan adikku, gadis itu adalah resya tunanganku. senja benar-benar mengungkapkan semua padaku. Resya gadis yang sudah memberiku cahaya dalam hidup yang kelam, gadis yang membimbingku menuju jalan yang dipenuhi cahaya iman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terus berlari, rasanya badanku kini sangat ringan, aku terasa mempunyai dua sayap untuk terbang menghampirinya. Aku ingin menghampiri cahaya itu, aku sangat merindukan cahaya itu, tak kuhiraukan adikku berteriak dari kejauhan, aku hanya terus berlari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas, hati-hati mas, awas ada tangga didepanmu maaasss..." Teriakan adekku semakin keras meyongsong aku yang terus saja berlari mengejar cahaya itu. Tak sempat kulihat keadaan didepanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bruk...?!?&lt;br /&gt;Tak kusadari aku tergelincir, kepalaku roboh jatuh tepat diatas tangga keramik yang runcing, hanya sempat kupanggil cahaya itu, "resya". Namun tubuhku sudah roboh, kulihat darah membanjiri lantai putih itu, kudongakkan kepala untuk menggapai cahaya itu, ingin kulambaikan tangan namun separuh nyawaku sepertinya sudah melayang bersama Izroil sang pencabut nyawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya cahayaku resya sudah didepanku memegang tangan kananku, samar-samar kulihat matanya meneteskan air mata. Sebelum akhirnya semua gelap, nyawaku tercerabut sempurna dari ragaku yang malang. Senja pun hilang bersama datangnya gelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Tanah di atas kuburan itu aku rasa masih belum kering oleh tetesan air matanya. kujadiakan semua sebagai saksi atas dukanya yang begitu dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senja sore ini kurasakan masih berduka, kilauan cahaya yang seharusnya indah kini tak lebih hanya semburat garis-garis merah kecoklatan yang menakutkan dan membuat hatinya semakin perih. Cahaya itu tajam menghujamkan kepedihan ke dalam lubuk hati menjadikannya semakin perih. Dia terlalu shock akan kematian tunangannya. Calon imam dalam menyempurnakan agamanya dan sunnah Rasul. Dia masih tak percaya akan semua ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kejadian itu menyadarkannya tentang arti cinta, hidup dan kematian yang telah digariskan di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;lauhul mahfudz &lt;/span&gt;sana. Sebagai hamba kita hanya wajib berusaha, ada pun takdir hanya Allah yang menentukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Begitu kejamkah takdir?” protesnya seketika itu, tapi dia lantas sadar bahwa gerutuannya tak lebih hanyalah sia-sia belaka. Hanya hasutan setan yang terus saja mengintimidasinya dalam kebimbangan ini. Mereka sangat tak peduli dengan dukanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil meratap pada sang Maha kuasa, dia pun berdoa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Ya Allah, ya Tuhanku... saat tumpuan jiwa ini hanya terpaku padanya namun mengapa Engkau ambil dia dari sisiku selamanya? Saat kutemukan cinta suci dihatinya, mengapa tak Engkau izinkan aku memeluknya? Saat azzam ini terpatri untuk menyempurnakan agamamu, mengapa Engkau tak izinkan aku berjuang bersamanya? ya Allah jika memang yus adalah cinta dalam hatiku, izinkan aku menyimpanya selama hidupku. Jika memang yus bukanlah jodoh yang kau kirimkan sebagai imamku, kuharapkan ada mujahid yang seperti dia untuk kujadikan pejuang pendampingku".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia merenungi kembali kisah-kisah itu, saat menemukan kata cinta untuk yang pertama kali. Dia hanya bisa berdoa memohon kepada Allah, semoga cintanya pada hati yang benar. Cinta itupun tertuju padaku. Aku adalah yus tepatnya yosef. Aku seorang pemuda katolik yang mempunyai keluarga berbeda agama. Keluargaku pun terpecah. Aku ikut bapak, seorang misionaris. Sedangkan adikku hidup bersama ibu yang memilih kembali sebagai muslim setelah berpindah katolik. Dia hanya bisa menolak dengan berat hati karena kita beda agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebesar apapun cinta itu, percuma jika Allah tidak merestuinya. Dia hanya bisa terus memohon dan pasrah, hingga waktu itu pun tiba. Hingga aku menemukan hidayah dan mengucapkan kalimat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;syahadat&lt;/span&gt; saat aku bertemu ibu kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tahun kemudian aku kembali dari studi di kairo. Sekarang aku sudah berbeda, aku adalah seorang muslim sejati yang kokoh memegang agama Islam. Kini dia tak kuasa menolak lamaranku. Aku memberikan cincin itu sebai tanda ikatan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun musibah itulah menimpaku, aku kecelakaan dan menderita gagar otak yang luamayan serius hingga mengalami hilang ingatan yang menghapus memori otakku dan membuat diriku koma berminggu-minggu. Dia sangat khawatir tentunya. Kejadian itu tepat 3 hari sebelum kami mengikrarkan akad nikah. Tak henti-hentinya ia memohon pada Allah, siang dan malam. Sebulan kemudian aku pun sadar dan mulai pulih dari hilang ingatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu mestinya dia sangat gembira karena doa-doanya selama ini didengar oleh Allah. Tapi senja itu lain, dia merasakan cahayanya sedikit buram menggambarkan kepedihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musibah itu pun lagi-lagi mencoba menguji ketabahan resya. Aku meninggal dunia setelah terjatuh dari tangga ketika berlari mengejarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya Allah mengapa begitu perih duka ini, ya Allah... belum sembuh rindu penantianku yang panjang, engkau sudah menjemput dia ke pangkuanMu" &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;resya pun terisak&lt;/span&gt;&lt;span class="post_text"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; bercampur sedih.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya mulutnya mampu mengucap lirih "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Innallilahi wa inna ilaihi rajiun&lt;/span&gt;. Ya Allah., ya Robbi, inikah takdirMu untukku? Sekuat tenaga kupertahankan keyakinanku akan hikmah takdir yang telah digariskan" Suaranya terbata-bata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senja pun mulai hilang seiring datangnya malam...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cairo tengah malam jumat, 14 Agustus 09&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2680618420661537872-7040512456128847792?l=sastrapapyrus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/feeds/7040512456128847792/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/2009/08/senja-yang-hilang_18.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2680618420661537872/posts/default/7040512456128847792'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2680618420661537872/posts/default/7040512456128847792'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/2009/08/senja-yang-hilang_18.html' title='Senja Yang Hilang'/><author><name>Lingkaran Sastra Papyrus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16738817486361889053</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_rYfH5iQkQq4/SotAP5kxv8I/AAAAAAAAADk/Lq8c4noQ7zo/s72-c/kala_senja_datang_by_rezadewangga.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2680618420661537872.post-3766097471601406990</id><published>2009-08-16T14:57:00.000-07:00</published><updated>2009-08-16T15:11:26.072-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Indonesiaku, Juga Indonesiamu.</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oleh; Mukhlis Rahmanto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_rYfH5iQkQq4/SoiDMR_aY3I/AAAAAAAAACk/0n-wSa6eRRY/s1600-h/bendera.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 143px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_rYfH5iQkQq4/SoiDMR_aY3I/AAAAAAAAACk/0n-wSa6eRRY/s200/bendera.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5370686802650358642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menyukai matahari hari ini&lt;br /&gt;Seperti ku mencintai Indonesiaku&lt;br /&gt;Lihat Gajah mada menggelar layar, hunus pedang&lt;br /&gt;Dari Biak di timur sampai barat negeri campa&lt;br /&gt;Ingat tegas para pendahulu yang mengacir&lt;br /&gt;Inlander dan Nippon dari  tanah negeri&lt;br /&gt;Tersebut nama Diponegoro, Teuku Umar, Hasanudin,&lt;br /&gt;Sudirman, dan Bung Tomo&lt;br /&gt;Mengajarkan arti kepemilikan dan cinta mendalam&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Lalu suara merdeka Soekarno Hatta&lt;br /&gt;Terkumandang ke penjuru dunia&lt;br /&gt;"1945, kemerdekaan Indonesia"&lt;br /&gt;Maka ada episode orde lama, baru, dan terbaru&lt;br /&gt;Mengerah seluruh untuk menjawab penuh&lt;br /&gt;Menata batu bata yang tertulisi kata "kemerdekaan"&lt;br /&gt;Membuktikan dengan ruas peras otak&lt;br /&gt;Degup keras hati, kepalan tangan dan kaki&lt;br /&gt;"Kami ini betul-betul orang Indonesia"&lt;br /&gt;Negeri elok dari timur nun jauh&lt;br /&gt;Zamrud khatulistiwa&lt;br /&gt;Meski sedikit aib tergantang&lt;br /&gt;Aku pantas busung dada jadi anak negerinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membenci matahari hari ini&lt;br /&gt;Seperti ku membenci indonesiaku&lt;br /&gt;Ada orang lahir di Bogor, besar di Amsterdam&lt;br /&gt;Bangga menyebut ke-Amsterdam Belandanya&lt;br /&gt;Artinya nasionalisme yang cekak&lt;br /&gt;Ada sepatu Cibaduyut, malah berkata lebih sreg&lt;br /&gt;Dengan Nike atau Adidas&lt;br /&gt;Ada Dagadu, tapi diam-diam senyum pada Giorgio Armani&lt;br /&gt;Artinya materialisme yang menggila&lt;br /&gt;Ada reformasi yang cuma mari kita bersama berjanji&lt;br /&gt;Ada biasa pada darah manusia, tinggal membakarnya&lt;br /&gt;Ada sistem korup yang begitu aduhai menggoda siapa saja&lt;br /&gt;Ada joget binatang yang malah memakai baju moral&lt;br /&gt;Pada berantainya tayangan televisi kita&lt;br /&gt;Ada sedan BMW dan Mercy melaju mulus di jalan-jalan utama negara&lt;br /&gt;Ada Tuhan yang dikelilingi oleh asap kemenyan takhayul&lt;br /&gt;Ada agama yang dikata, "ritual biasa sajalah"&lt;br /&gt;Ada juga miskin dan kaya, coba kau ukur jarak  langit dan bumi&lt;br /&gt;Dan tentu ada kita di tengah sana&lt;br /&gt;Anak negerinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku cinta benci&lt;br /&gt;Renyah alot jiwaku, Indonesiaku&lt;br /&gt;Harus renyah&lt;br /&gt;Serenyah tegar bangga Sartono mengunyah keripik kentang&lt;br /&gt;Tertulis "made in Indonesia" pada bungkusnya&lt;br /&gt;Didepan sebuah restoran makan ala paman sam&lt;br /&gt;Pada suatu siang di Maydan Tahrir&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2680618420661537872-3766097471601406990?l=sastrapapyrus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/feeds/3766097471601406990/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/2009/08/indonesiaku-juga-indonesiamu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2680618420661537872/posts/default/3766097471601406990'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2680618420661537872/posts/default/3766097471601406990'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/2009/08/indonesiaku-juga-indonesiamu.html' title='Indonesiaku, Juga Indonesiamu.'/><author><name>Lingkaran Sastra Papyrus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16738817486361889053</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_rYfH5iQkQq4/SoiDMR_aY3I/AAAAAAAAACk/0n-wSa6eRRY/s72-c/bendera.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2680618420661537872.post-4767482847553674689</id><published>2009-08-15T14:18:00.000-07:00</published><updated>2009-08-15T14:38:30.034-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Sepanjang Husein dan Khan Khalili</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oleh; Mukhlis Rahmanto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_rYfH5iQkQq4/Socqhp2G8RI/AAAAAAAAACc/z_sGG3hSePU/s1600-h/4774_106057776864_746656864_2078159_2414852_n.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_rYfH5iQkQq4/Socqhp2G8RI/AAAAAAAAACc/z_sGG3hSePU/s200/4774_106057776864_746656864_2078159_2414852_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5370307838319456530" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati pertama yang ku dapat adalah lantunan seorang qari&lt;br /&gt;Mengisi dan memecah gemuruh teriakan mereka kaki&lt;br /&gt;Menuju mihrab&lt;br /&gt;Menuju sebelahnya dengan putaran suhbah hadiah&lt;br /&gt;Menuju gang-gang bercinderamata khas&lt;br /&gt;Hingga tiba riak jatuh selembar seratus piesters&lt;br /&gt;Harga pas untuk satu ujung&lt;br /&gt;barisan lantunan ayat&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huseinku, tangisku&lt;br /&gt;Aku kira mengenang adalah jalan pemberian sejarah&lt;br /&gt;Helai rambut, tempat celak, secarik kain jubah&lt;br /&gt;Pegang pula itu pedang keberanian Baginda&lt;br /&gt;Dekap pula itu kelambu putih selimut keabadian sang cicit&lt;br /&gt;Hingga jadi satu kebaikan sejarah adalah mengobar rindu&lt;br /&gt;Pun sejarah menempatkan jiwa di tengah perempatan jalan pilihan&lt;br /&gt;Ketidakjelasan&lt;br /&gt;Lebih kuat sanadnya palsu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berhenti sebentar&lt;br /&gt;Kerumunan orang-orang bule bermatakan tiga;&lt;br /&gt;Mata ujung senjata dan mata serdadu penjaga&lt;br /&gt;Wanita-wanita besar baladina berpakaian hitam meratap dewasa;&lt;br /&gt;Jalan hidup yang tidak bisa ditakwilkan&lt;br /&gt;Anak-anak meneriaki balon jingga-kuning yang mengudara&lt;br /&gt;Bus-bus mengucur deras denah pariwisata&lt;br /&gt;Patung-patung Firaun mencoba hidup&lt;br /&gt;Merah karkade tak semerah warna pajangan pakaian penari perut&lt;br /&gt;Bangunan istana Mamalik seperti tak mau mengeriput tua&lt;br /&gt;Lalu terekam dan terkenang begitu saja&lt;br /&gt;dalam sebuah kamera&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua arah pilihan sepanjang Husein dan Khan Khalili&lt;br /&gt;Satu jalan bernama dunia fana&lt;br /&gt;Satu jalan bernama akhirat penuh nikmat &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2680618420661537872-4767482847553674689?l=sastrapapyrus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/feeds/4767482847553674689/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/2009/08/sepanjang-husein-dan-khan-khalili.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2680618420661537872/posts/default/4767482847553674689'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2680618420661537872/posts/default/4767482847553674689'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/2009/08/sepanjang-husein-dan-khan-khalili.html' title='Sepanjang Husein dan Khan Khalili'/><author><name>Lingkaran Sastra Papyrus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16738817486361889053</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_rYfH5iQkQq4/Socqhp2G8RI/AAAAAAAAACc/z_sGG3hSePU/s72-c/4774_106057776864_746656864_2078159_2414852_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2680618420661537872.post-6547948152562448366</id><published>2009-08-15T13:25:00.000-07:00</published><updated>2009-08-15T13:37:07.442-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Aku</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oleh; Ahmad Jibril&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku …&lt;br /&gt;Aku adalah sayap-sayap malaikat&lt;br /&gt;Yang terbang di atas nirwana                                      &lt;br /&gt;Melintasi dimensi waktu&lt;br /&gt;Dan tak pernah tentu arah …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terbang …&lt;br /&gt;Di atas sanubari dan jiwa&lt;br /&gt;Yang lenyap dalam parade kemunafikan&lt;br /&gt;Dan keserakahan dunia&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin aku adalah manusia&lt;br /&gt;Berjiwa malaikat namun berhati syetan&lt;br /&gt;Aku …&lt;br /&gt;Yang dapat memainkan sabda langit&lt;br /&gt;Dan memutar balikkan takdir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku …&lt;br /&gt;Adalah jiwa-jiwa yang membangkang&lt;br /&gt;Kepastian alam&lt;br /&gt;Aku …&lt;br /&gt;Mungkin nafsu yang bergejolak&lt;br /&gt;Dalam setiap debar jantung&lt;br /&gt;Dan denyut nadi setiap mahluk&lt;br /&gt;Yang mengaku bertuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan ku yang menjamah bumi dan langit&lt;br /&gt;Kakiku yang berjalan di atas kehampaan udara&lt;br /&gt;Tubuhku yang menjadi dambaan&lt;br /&gt;Para malaikat dan bidadari syurga&lt;br /&gt;Namun …&lt;br /&gt;Aku…&lt;br /&gt;Aku tak pernah tau siapa&lt;br /&gt;Aku sebenarnya&lt;br /&gt;Hingga saat ini aku&lt;br /&gt;Tak pernah tau&lt;br /&gt;Siapa ,kemana dan dari mana&lt;br /&gt;Aku …&lt;br /&gt;Akupun tak tau&lt;br /&gt;Mungkin aku adalah kamu&lt;br /&gt;Atau kamu adalah aku&lt;br /&gt;Akupun …&lt;br /&gt;Tak tau …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                                                      KEMMASS  04-02-2007    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2680618420661537872-6547948152562448366?l=sastrapapyrus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/feeds/6547948152562448366/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/2009/08/aku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2680618420661537872/posts/default/6547948152562448366'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2680618420661537872/posts/default/6547948152562448366'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/2009/08/aku.html' title='Aku'/><author><name>Lingkaran Sastra Papyrus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16738817486361889053</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2680618420661537872.post-2361469070123488729</id><published>2009-08-15T13:17:00.000-07:00</published><updated>2009-08-15T13:20:54.071-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Sang Kumbang Dimanakah Bisamu</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oleh;  M. Yusuf Hasibuan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila hati tersiram putik sari&lt;br /&gt;Seluruh tubuh kan bergetar&lt;br /&gt;Untuk katakan perasaan ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu sungguh tegas&lt;br /&gt;Berjalan tanpa istirahat&lt;br /&gt;Sampaikan akhir masa&lt;br /&gt;Membuat hatiku tersiksa&lt;br /&gt;Karena ku merasa kekurangan&lt;br /&gt;Untuk menyuburkan sang mawar&lt;br /&gt;Bahagialah engkau dengan kumbang pilihanmu&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuyakin bila kau bahagia&lt;br /&gt;Maka aku lebih gembira&lt;br /&gt;Namun bila kau sengsara&lt;br /&gt;Maka aku lebih tersiksa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Bulan kaulah jadi saksi  perasaan haqiqiku&lt;br /&gt;    Bintang kaulah jadi pengacara hatiku&lt;br /&gt;    Matahari adakah cahayamu&lt;br /&gt;    Membuat sang mawar terpesona&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Bumi adakah gaya gravitasimu&lt;br /&gt;Yang merayunya&lt;br /&gt;Langit adakah bentukmu&lt;br /&gt;Yang melindunginya&lt;br /&gt;Pelangi adakah warnamu&lt;br /&gt;Yang memikatnya    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2680618420661537872-2361469070123488729?l=sastrapapyrus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/feeds/2361469070123488729/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/2009/08/sang-kumbang-dimanakah-bisamu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2680618420661537872/posts/default/2361469070123488729'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2680618420661537872/posts/default/2361469070123488729'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/2009/08/sang-kumbang-dimanakah-bisamu.html' title='Sang Kumbang Dimanakah Bisamu'/><author><name>Lingkaran Sastra Papyrus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16738817486361889053</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2680618420661537872.post-4699322323982455845</id><published>2009-08-15T13:09:00.000-07:00</published><updated>2009-08-15T13:14:07.723-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Meraba Orientasi Diri</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oleh; Dahnia Ishak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu yang mengurai makna&lt;br /&gt;Tanpa sungkan, menelusuri rangkaian pristiwa&lt;br /&gt;Membuatku terhanyut dalam bimbang&lt;br /&gt;Menyisakan guratan impian&lt;br /&gt;yang menyiksa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam kelam yang menghimpit sepi&lt;br /&gt;Kuraba orientasi diri&lt;br /&gt;Kucoba menjamah kembali&lt;br /&gt;Sinar gemerlapmu yang sempat terlupa&lt;br /&gt;Hanyut bersama gelak tawa tak sempurna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama syahdunya rasa&lt;br /&gt;Kumencari aroma Tubuhmu&lt;br /&gt;Mencoba memupuk kembali desau rindu&lt;br /&gt;Yang nyaris tenggelam dan menghilang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam rangkaian kata&lt;br /&gt;Kubisikan kembali tulusannya kejolak cinta&lt;br /&gt;Yang menjemput senandung hatiku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                                  Buutrie 05 mei 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2680618420661537872-4699322323982455845?l=sastrapapyrus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/feeds/4699322323982455845/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/2009/08/meraba-orientasi-diri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2680618420661537872/posts/default/4699322323982455845'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2680618420661537872/posts/default/4699322323982455845'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/2009/08/meraba-orientasi-diri.html' title='Meraba Orientasi Diri'/><author><name>Lingkaran Sastra Papyrus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16738817486361889053</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2680618420661537872.post-1607215722264087935</id><published>2009-08-14T08:38:00.000-07:00</published><updated>2009-08-14T09:29:33.100-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Nyawa Kedua Nabila</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oleh; Pahdina Daniyati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_rYfH5iQkQq4/SoWIpZCNqVI/AAAAAAAAACU/8ugL4x1Y9PQ/s1600-h/jilbab_kartun.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 110px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_rYfH5iQkQq4/SoWIpZCNqVI/AAAAAAAAACU/8ugL4x1Y9PQ/s200/jilbab_kartun.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5369848375385368914" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Aku masih punya kaki. Tentu saja aku lebih baik dari padamu gadis sialan. Diam-diam kalimat itu menelusupi benakku. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Astaghfirullah&lt;/span&gt;. Kuhampiri cermin besar yang ada di kamar sempitku. Cermin tersebut dengan jujur mengakui bahwa kakiku cukup indah dan bahkan lebih baik daripada kaki gadis sialan itu yang bahkan berdiri pun tidak mampu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Akhhh..." teriakku mencoba melepas penat dan bosan yang menyelimutiku. Selendang yang tadinya meliliti kepalaku kulemparkan ke cermin.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suhu darahku mencapai puncak derajat tertinggi. Aku benar-benar marah pada Nabila. Masalahnya sangat sepele, tapi karena kekesalanku padanya memang benar-benar bertumpuk dan baru hari ini tertumpahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi ketika menunggu jemputan Madam Nagla', aku bertemu 'Abdu, teman lamaku ketika masih duduk di Tsanawi. Sudah lama kami tidak bertemu. Sebenarnya aku ingin lebih lama lagi ngobrol dengannya, namun Nabila terus saja memanggilku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat Nabila yang sepertinya tidak suka dengan kehadiran 'Abdu, tentu saja 'Abdu merasa tidak enak dengan kami dan mohon pamit untuk pulang. Aku meradang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Enti taf'al kedza leeh?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Asma', isma'iini&lt;/span&gt;. Tidak baik berbincang-bincang dengan laki-laki sedekat itu. Sadarkah kamu tadi matanya itu bergentayangan...ah tidak usah dibahas lagi"&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Hhh!!! Omong kosong apa lagi itu? Tadi aku melihat 'Abdu biasa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi apa yang kamu lakukan tadi sudah membuatnya tersinggung, Nabila!!!" aku menekankan kata 'tersinggung' dalam kalimatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Atau kamu iri ya melihat aku berbincang-bincang dengannya? Karena kamu tidak bisa melakukannya kan? Mana ada orang yang mau denganmu" ‌cecarku. Wajahku menghangat, aku benar-benar sudah muak. Bukan sekali ini Nabila mencampuri urusanku, sudah sering dan aku mencoba bersabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Astaghfirullah&lt;/span&gt;, aku tidak bermaksud seperti itu"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajahnya terlihat memelas. Aku lalu meninggalkannya yang kini memanggilku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Asma' ...Asma'"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa masih memanggilku? Tidak ada yang akan menuntun ya? Sebentar lagi juga Madam Nagla' menjemputmu. Aku pun terus berlalu dan menjauh dengan hati kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;###&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bis ini benar-benar sesak, semua orang berjejalan. Banyak mahasiswa asing dalam bis ini yang mayoritas dari mereka bermukim di Nasr City. Mereka terlihat akrab ngobrol bersama teman-temannya tanap meperdulikan orang sekeliling mereka. Akrab sekali. Aku sendiri berdiri di dekat mereka. Kakiku terasa pegal. Aku menyesal menaiki bis ini. Mungkin karena sudah lama aku tidak naik bis ke kuliah semenjak aku menemani Nabila. Yah...aku selalu ikut mobil ibunya bila kami pergi ke kuliah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun untuk hari ini aku tidak ingin menemani Nabila juga tidak ingin bertemu dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kuliah banat... kuliah banat&lt;/span&gt;". Teriakkan sopir bis membangunkan aku dari lamunanku. Aku tersentak. Sudah sampai. Dengan bergegas aku menuruni bis menyebalkan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menjejak tanah sebuah kaleng kosong menyambutku. Kutendang benda itu sebagai pelampiasan kerisauanku yang tidak juga hilang. Lalu kembali mengayunkan langkah yang tertunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah kakiku mendadak kuurungkan ketika kulihat sebuah sedan merah berhenti di depan gerbang kuliah. Aku mengenalinya. Aku mundur dan berlindung di balik tiang mahathah Metro depan kuliah. Nabila turun dari mobil itu dibantu ibunya. Ternyata dia masih saja nekat ke kuliah. Tak lama kemudian sang ibu masuk setelah sebelumnya dia mencium pipi anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabila melambaikan tangannya. Kebiasaannya setiapkali mobil itu akan melaju dan menjauh. Jika mobil tersebut tidak lagi kelihatan barulah Nabila menjalankan kursi rodanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah dia sedang memikirkan apa, dia hampir saja menabrak seseorang namun dengan sigap tangannya memutar kusi rodanya. Malangnya kursi itu berputar ke arah yang salah dan menuruni tanjakan ke arah jalan raya, kursipun terbalik. Nabila terjatuh ke aspal. Sebuah mobil yang sedang melaju berhenti mendadak. Aku tertegun sesaat. Ah, hampir saja. Nabila merangkak mencoba meraih tasnya dengan susah payah. Orang-orang disana langsung turun tangan membantunya menaiki kursi roda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar ceroboh. Batinku. Rasa iba mengetuk-ngetuk pintu hatiku tapi tetap saja tidak menggerakkanku untuk mendekatinya. Entah setan apa yang sedang menahanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bingung apakah aku tetap akan kuliah atau tidak. Kuputuskan untuk tidak saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;###&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabila adalah anak bungsu Tuan Ismail yang tinggal di tingkat 3 di imarah yang dijaga ayahku. Sebelumnya dia kuliah di 'Ain Syams, sebuah universitas bergengsi di Kairo yang pastinya tidak terjangkau oleh orang rendahan sepertiku. Kuliahnya terhenti di saat dia mengalami kecelakaan yang menyebabkan kelumpuhan kakinya. Waktu itu dia jatuh dari balkon rumahnya, ketika dia mencoba menggantungkan pot bunga ke ujung langit-langit balkon. Benar-benar sebuah kecerobohan. Bagiku Nabila adalah gadis yang ceroboh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir setahun dia depresi disebabkan kecelakaan yang menimpanya tersebut. Ketika suatu hari keluarganya dikejutkan dengan permintaannya untuk kuliah lagi. Bukan di 'Ain Syams tapi Azhar. Penampilannya pun berubah. Sebelumnya Nabila menolak memakai jilbab, dengan alasan jilbab sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman. Baginya bukan saatnya lagi wanita terkungkung oleh tradisi agama. Wanita muslimah zaman sekarang harus bisa mengalahkan orang-orang barat. Hingga semuanya berubah total. Nabila yang dulu telah mati bersamaan dengan kematian kakinya. Rencana Tuhan memang tak terbaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibunya pun memanggilku. Saat itu aku memang baru menyelesaikan bangku Tsanawiy. Dia memintaku untuk menemaninya kuliah dan dia akan memberiku uang. Untuk hal ini Nabila tidak tahu apa-apa. Tentu saja aku mau. Dengan hanya menemani Nabila aku bisa mendapatkan uang, yang tentu saja akan kuperlukan pada saat aku kuliah. Karena gaji ayahku yang hanya seorang bawwab tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhanku yang semakin hari semakin bertambah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;###&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah sakit. Tangga-tangga imarah ini belum dibersihkan. Ibu menyuruhku dan ke dua adikku untuk menggantikan ayah membersihkannya. Dengan enggan aku melaksanakannya. Semuanya kukerjakan dengan cepat. Setelah selesai aku mencuci mobil para penghuni imarah kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Asma'...Asma' ta'aliy&lt;/span&gt;" itu suara Nabila, aku melihat dia melambaikan tangannya ke arahku dari balkon rumahnya. Ah... ternyata dia dari tadi memperhatikanku. Nabila tersenyum ramah, sepertinya dia tidak marah dengan kejadian kemarin sewaktu aku meninggalkannya sendirian di depan kuliah. Kuakui dia cantik sekali hari ini. Tentu saja, karena dia pasti dengan rajin merawat tubuhnya dengan alat-alat kosmetik mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Yalla, ta'ali, wahesytini awiy&lt;/span&gt;" teriaknya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aiwa, istanniy&lt;/span&gt; aku selesaikan pekerjaanku dulu", balasku berteriak. Dari arah dalam Madam Nagla' muncul dan memanggilku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh iya Asma', sebelum naik tolong belikan pesananku ya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menurunkan sebuah keranjang dari balkon rumahnya. Setengah berlari aku menyambutnya. Di dalamnya terdapat uang 50 pound dan secarik ketas berisi catatan pesanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;###&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabila menyambutku dengan sumringah ketika aku memasuki rumahnya. Madam Nagla' meraih kantong belanjaan yang ia pesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf kami tidak bisa menjengukmu, aku sangat sibuk di rumah sakitأ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menjengukku?" mataku beralih menatap Nabila heran. Dia mengedipkan matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Yalla ya mama&lt;/span&gt; masakan mama di dapur menunggu" kata Nabila memperingatkan tapi bagiku itu hanya untuk mengalihkan perhatian Madam Nagla'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ma'alisy&lt;/span&gt;" aku bilang pada mama bahwa kamu sakit beberapa hari ini"‌jelasnya. Lalu dia menarik tanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo ke kamar, aku ingin memperlihatkan sesuatu padamu"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mendorong kursi rodanya memasuki kamarnya. Seketika penciumanku menangkap keharuman dan suasana yang indah ketika memasukinya. Kamar Nabila berwarna biru, warna kesukaannya. Kamar yang apik dan rapi. Karpetnya juga empuk. Dilengkapi satu dipan dengan sprei biru berbunga-bunga kuning dan lemari pakaian berukuran sedang dengan motif ukiran bunga. Di samping lemari ada meja belajar dengan seperangkat komputer di atasnya. Komputer itu aku sering aku gunakan menjelajah dunia maya. Nabila tidak keberatan dengan kebiasaanku tersebut. Di dinding dekat pintu masuk ada poster berbingkai. Satu-satunya gambar yang menghiasi kamar ini. Gambar seorang tua dengan janggut putih memenuhi wajahnya dan di atas kepalanya sehelai kain putih menutupi. Aku mengenalnya sebagai seorang pejuang hamas yang meninggal karena dibom oleh Israel beberapa waktu yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku duduk di atas kasur, sedang Nabila keluar kamar. Mengambil minuman, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataku masih tetap terpaku dengan gambar itu. Aku sudah sering keluar masuk kamar ini, tapi gambar ini tetap saja menarik perhatian. Aku hanya heran saja jika gambar sebesar ini tergantung di kamar seorang gadis. Biasanya seorang gadis memasang sebuah lukisan atau foto dirinya di kamarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sedang apa?" tegur Nabila yang masuk tanpa aku menyadari. Dia meletakkan sebotol 'ashir di sampingku. Aku mengangkat pundakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak ada...hanya... gambar itu, awet sekali berada di tempatnya" aku memutar telunjukku mengarah ke gambar tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh gambar itu ya, sepertinya sudah sangat kotor"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangannya mencoba meraihnya. Melihatnya seperti kesusahan, aku membantu mengambilnya. Dia membuka laci bawah meja dekat dipannya, dan mengeluarkan secarik kain lap dari sana. Tangannya pun mulai berkerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa kau tidak ingin menggantinya dengan gambar yang lain?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepalanya beralih ke arahku. Dia berpikir sesaat lalu menggelengkan kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kurasa tidak.."آ‌ujarnya pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gambar ini memberi aku sebuah motivasi dalam menjalani hari-hari. Perjuangannya dalam mengarungi hidup benar-benar menggugah hatiku. Aku telah jatuh cinta dengan semangat dan pengorbanannya"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengernyitkan dahiku mencoba memahami perkataannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أBeberapa bulan yang lalu aku membaca riwayat hidupnya di Internet. Saat itu aku masih depresi karena kecelakaan yang merampas ke dua kakiku" Nabila menghentikan kalimatnya sejenak dan melanjutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setelah aku membaca riwayatnya. Aku merasa tidak ada apa-apanya dibanding dia. Dia lumpuh semua anggota badan sedang aku hanya tidak bisa mempergunakan kakiku. Aku masih punya tangan dan masih bisa melakukan apa-apa. Dia dengan kelumpuhan di hampir semua anggota badannya bisa menjadi figur buat semua orang. Sedang aku? Apa yang telah aku lakukan selama ini? Tidak ada artinya"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lalu aku?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku mendapatkan peluang lebih banyak darinya. Aku ingin mengabdi untuk semua orang. Karena itu aku memutuskan untuk kuliah lagi. Sebelumnya aku pesimis dengan niatku. Yah tapi segala sesuatu yang kita putuskan pasti ada resikonya. Dan perjalanan yang kita lalui tidak mungkin selamanya mulus. Dengan azam ini aku mencoba untuk terus maju"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh Asma'&lt;span style="font-style: italic;"&gt; ashir&lt;/span&gt;nya diminum"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh iya...iya"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu, aku juga masih takut akan masa depanku. Terkadang aku tak tahan dengan tatapan iba orang-orang di sekelilingku. Aku benci dengan kaki yang tidak berguna ini. Aku iri denganmu, Asma'. Kau punya anggota tubuh lengkap dan cerdas. Kau punya banyak kesempatan lebih dariku untuk beramal. Tapi aku tetap harus bersyukur, karena Allah masih memberiku kesempatan hidup untuk memperbaiki diri. Allah memberiku nyawa ke dua dengan jiwa dan semangat yang berbeda. Ah, jika menengok kebelakang melihat masa laluku, aku benar-benar malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata Nabila mengalir seperti air dan seketika berhimpun menjadi ombak besar yang menerjangku. Aku memang punya banyak kesempatan beramal daripada Nabila, tapi tersia-siakan. Aku juga mengakui kecerdasan akademisku lebih tinggi dari Nabila, tapi Nabila juga mempunyai "kecerdasan" yang melebihiku. Dia sangat tekun dalam belajarnya. Buku-bukunya juga berjilid-jilid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh iya aku lupa, kemarin mama membelikan aku beberapa abaya. Kamu mau lihat?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa menunggu persetujuanku, Nabila membuka daun pintu lemarinya. Dia mengeluarkan sebuah kantong bermerk nama salah satu mall terkenal di Kairo ini. Isinya abaya-abaya cantik beserta jilbab yang sepadan. Pikiranku menerawang, andai saja aku mampu membelinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu boleh pilih sesukamu?" ‌bisik Nabila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untukku? Benarkah?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabila mengangguk dengan senyum ketulusannya. Ah kau sekali lagi melampaui aku Nabila. Meski tanpa aku katakan aku akui dari dulu aku iri padamu sebagaimana kau iri padaku.♀&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2680618420661537872-1607215722264087935?l=sastrapapyrus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/feeds/1607215722264087935/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/2009/08/nyawa-kedua-nabila.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2680618420661537872/posts/default/1607215722264087935'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2680618420661537872/posts/default/1607215722264087935'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/2009/08/nyawa-kedua-nabila.html' title='Nyawa Kedua Nabila'/><author><name>Lingkaran Sastra Papyrus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16738817486361889053</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_rYfH5iQkQq4/SoWIpZCNqVI/AAAAAAAAACU/8ugL4x1Y9PQ/s72-c/jilbab_kartun.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2680618420661537872.post-4050070324663886859</id><published>2009-08-13T09:02:00.000-07:00</published><updated>2009-08-13T09:20:29.322-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Teater; Dunia Tuhan atau Syetan...!?</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Publisher.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Publisher 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if !mso]&gt; &lt;style&gt; v\:* {behavior:url(#default#VML);} o\:* {behavior:url(#default#VML);} b\:* {behavior:url(#default#VML);} .shape {behavior:url(#default#VML);} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if pub]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;b:publication type="OplPub" oty="68" oh="256"&gt;   &lt;b:ohprintblock priv="30E"&gt;285&lt;/b:OhPrintBlock&gt;   &lt;b:dptlpagedimensions type="OplPt" priv="1211"&gt;    &lt;b:xl priv="104"&gt;7772400&lt;/b:Xl&gt;    &lt;b:yl priv="204"&gt;10058400&lt;/b:Yl&gt;   &lt;/b:DptlPageDimensions&gt;   &lt;b:ohgallery priv="180E"&gt;259&lt;/b:OhGallery&gt;   &lt;b:ohfancyborders priv="190E"&gt;261&lt;/b:OhFancyBorders&gt;   &lt;b:ohcaptions priv="1A0E"&gt;257&lt;/b:OhCaptions&gt;   &lt;b:ohquilldoc priv="200E"&gt;280&lt;/b:OhQuillDoc&gt;   &lt;b:ohmailmergedata priv="210E"&gt;262&lt;/b:OhMailMergeData&gt;   &lt;b:ohcolorscheme priv="220E"&gt;283&lt;/b:OhColorScheme&gt;   &lt;b:dwnextuniqueoid priv="2304"&gt;1&lt;/b:DwNextUniqueOid&gt;   &lt;b:identguid priv="2A07"&gt;0%\\2&amp;quot;8P(5DV\N\1B?',6MP&lt;/b:IdentGUID&gt;   &lt;b:dpgspecial priv="2C03"&gt;5&lt;/b:DpgSpecial&gt;   &lt;b:ctimesedited priv="3C04"&gt;1&lt;/b:CTimesEdited&gt;   &lt;b:nudefaultunitsex priv="4104"&gt;0&lt;/b:NuDefaultUnitsEx&gt;  &lt;/b:Publication&gt;  &lt;b:printerinfo type="OplPrb" oty="75" oh="285"&gt;   &lt;b:ohcolorsepblock priv="30E"&gt;286&lt;/b:OhColorSepBlock&gt;   &lt;b:finitcomplete priv="1400"&gt;False&lt;/b:FInitComplete&gt;   &lt;b:dpix priv="2203"&gt;0&lt;/b:DpiX&gt;   &lt;b:dpiy priv="2303"&gt;0&lt;/b:DpiY&gt;  &lt;/b:PrinterInfo&gt;  &lt;b:colorseperationinfo type="OplCsb" oty="79" oh="286"&gt;   &lt;b:plates type="OplCsp" priv="214"&gt;    &lt;b:oplcsp type="OplCsp" priv="11"&gt;     &lt;b:ecpplate type="OplEcp" priv="213"&gt;      &lt;b:color priv="104"&gt;-1&lt;/b:Color&gt;     &lt;/b:EcpPlate&gt;    &lt;/b:OplCsp&gt;   &lt;/b:Plates&gt;   &lt;b:dzloverprintmost priv="304"&gt;304800&lt;/b:DzlOverprintMost&gt;   &lt;b:cproverprintmin priv="404"&gt;243&lt;/b:CprOverprintMin&gt;   &lt;b:fkeepawaytrap priv="700"&gt;True&lt;/b:FKeepawayTrap&gt;   &lt;b:cprtrapmin1 priv="904"&gt;128&lt;/b:CprTrapMin1&gt;   &lt;b:cprtrapmin2 priv="A04"&gt;77&lt;/b:CprTrapMin2&gt;   &lt;b:cprkeepawaymin priv="B04"&gt;255&lt;/b:CprKeepawayMin&gt;   &lt;b:dzltrap priv="C04"&gt;3175&lt;/b:DzlTrap&gt;   &lt;b:dzlindtrap priv="D04"&gt;3175&lt;/b:DzlIndTrap&gt;   &lt;b:pctcenterline priv="E04"&gt;70&lt;/b:PctCenterline&gt;   &lt;b:fmarksregistration priv="F00"&gt;True&lt;/b:FMarksRegistration&gt;   &lt;b:fmarksjob priv="1000"&gt;True&lt;/b:FMarksJob&gt;   &lt;b:fmarksdensity priv="1100"&gt;True&lt;/b:FMarksDensity&gt;   &lt;b:fmarkscolor priv="1200"&gt;True&lt;/b:FMarksColor&gt;   &lt;b:flinescreendefault priv="1300"&gt;True&lt;/b:FLineScreenDefault&gt;  &lt;/b:ColorSeperationInfo&gt;  &lt;b:textdocproperties type="OplDocq" oty="91" oh="280"&gt;   &lt;b:ohplcqsb priv="20E"&gt;282&lt;/b:OhPlcqsb&gt;   &lt;b:ecpsplitmenu type="OplEcp" priv="A13"&gt;    &lt;b:color&gt;134217728&lt;/b:Color&gt;   &lt;/b:EcpSplitMenu&gt;  &lt;/b:TextDocProperties&gt;  &lt;b:storyblock type="OplPlcQsb" oty="101" oh="282"&gt;   &lt;b:iqsbmax priv="104"&gt;1&lt;/b:IqsbMax&gt;   &lt;b:rgqsb type="OplQsb" priv="214"&gt;    &lt;b:oplqsb type="OplQsb" priv="11"&gt;     &lt;b:qsid priv="104"&gt;3&lt;/b:Qsid&gt;     &lt;b:tomfcopyfitbase priv="80B"&gt;-9999996.000000&lt;/b:TomfCopyfitBase&gt;     &lt;b:tomfcopyfitbase2 priv="90B"&gt;-9999996.000000&lt;/b:TomfCopyfitBase2&gt;    &lt;/b:OplQsb&gt;   &lt;/b:Rgqsb&gt;  &lt;/b:StoryBlock&gt;  &lt;b:colorscheme type="OplSccm" oty="92" oh="283"&gt;   &lt;b:cecp priv="104"&gt;8&lt;/b:Cecp&gt;   &lt;b:rgecp type="OplEcp" priv="214"&gt;    &lt;b:oplecp priv="F"&gt;Empty&lt;/b:OplEcp&gt;    &lt;b:oplecp type="OplEcp" priv="111"&gt;     &lt;b:color&gt;16711680&lt;/b:Color&gt;    &lt;/b:OplEcp&gt;    &lt;b:oplecp type="OplEcp" priv="211"&gt;     &lt;b:color&gt;52479&lt;/b:Color&gt;    &lt;/b:OplEcp&gt;    &lt;b:oplecp type="OplEcp" priv="311"&gt;     &lt;b:color&gt;26367&lt;/b:Color&gt;    &lt;/b:OplEcp&gt;    &lt;b:oplecp type="OplEcp" priv="411"&gt;     &lt;b:color&gt;13421772&lt;/b:Color&gt;    &lt;/b:OplEcp&gt;    &lt;b:oplecp type="OplEcp" priv="511"&gt;     &lt;b:color&gt;16737792&lt;/b:Color&gt;    &lt;/b:OplEcp&gt;    &lt;b:oplecp type="OplEcp" priv="611"&gt;     &lt;b:color&gt;13382502&lt;/b:Color&gt;    &lt;/b:OplEcp&gt;    &lt;b:oplecp type="OplEcp" priv="711"&gt;     &lt;b:color&gt;16777215&lt;/b:Color&gt;    &lt;/b:OplEcp&gt;   &lt;/b:Rgecp&gt;   &lt;b:szschemename priv="618"&gt;Bluebird&lt;/b:SzSchemeName&gt;  &lt;/b:ColorScheme&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if pub]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;b:page type="OplPd" oty="67" oh="266"&gt;   &lt;b:ptlvorigin type="OplPt" priv="511"&gt;    &lt;b:xl&gt;-87325200&lt;/b:Xl&gt;    &lt;b:yl&gt;-87325200&lt;/b:Yl&gt;   &lt;/b:PtlvOrigin&gt;   &lt;b:oid priv="605"&gt;(`@`````````&lt;/b:Oid&gt;   &lt;b:ohoplwebpageprops priv="90E"&gt;267&lt;/b:OhoplWebPageProps&gt;   &lt;b:ohpdmaster priv="D0D"&gt;263&lt;/b:OhpdMaster&gt;   &lt;b:pgttype priv="1004"&gt;5&lt;/b:PgtType&gt;  &lt;/b:Page&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */ @font-face 	{font-family:"Monotype Corsiva"; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:script; 	mso-font-pitch:variable; 	panose-1:3 1 1 1 1 2 1 1 1 1; 	mso-font-signature:647 0 0 0 536871071 -539557888;} @font-face 	{font-family:"Times New Roman"; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	panose-1:2 2 6 3 5 4 5 2 3 4; 	mso-font-signature:31367 -2147483648 8 0 1073742335 -65536;}  /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	text-indent:0pt; 	margin-left:0pt; 	margin-right:0pt; 	margin-top:0pt; 	margin-bottom:0pt; 	text-align:left; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-default-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ascii-font-family:"Times New Roman"; 	mso-latin-font-family:"Times New Roman"; 	mso-greek-font-family:"Times New Roman"; 	mso-cyrillic-font-family:"Times New Roman"; 	mso-armenian-font-family:Sylfaen; 	mso-hebrew-font-family:"Times New Roman"; 	mso-arabic-font-family:"Times New Roman"; 	mso-devanagari-font-family:Mangal; 	mso-bengali-font-family:Vrinda; 	mso-gurmukhi-font-family:Raavi; 	mso-oriya-font-family:Sendnya; 	mso-tamil-font-family:Latha; 	mso-telugu-font-family:Gautami; 	mso-kannada-font-family:Tunga; 	mso-thai-font-family:"Angsana New"; 	mso-georgian-font-family:Sylfaen; 	mso-hangul-font-family:Batang; 	mso-kana-font-family:"MS Mincho"; 	mso-bopomofo-font-family:PMingLiU; 	mso-han-font-family:SimSun; 	mso-halfwidthkana-font-family:"MS Mincho"; 	mso-syriac-font-family:"Estrangelo Edessa"; 	mso-thaana-font-family:"MV Boli"; 	mso-latinext-font-family:"Times New Roman"; 	font-size:10.0pt; 	color:black; 	mso-font-kerning:14.0pt; 	mso-char-tracking:100%; 	mso-font-width:100%;} ol 	{margin-top:0in; 	margin-bottom:0in; 	margin-left:.25in;} ul 	{margin-top:0in; 	margin-bottom:0in; 	margin-left:.25in;} @page 	{mso-hyphenate:auto;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oleh; Imam Labib H.R*&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Aplikasi Dunia Teater Dalam Panggung Sandiwara Ke-Sejati-an)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_rYfH5iQkQq4/SoQ8P_fdV3I/AAAAAAAAACE/uvuew5Z8iXY/s1600-h/topeng_home.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 167px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_rYfH5iQkQq4/SoQ8P_fdV3I/AAAAAAAAACE/uvuew5Z8iXY/s200/topeng_home.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5369482901171558258" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;O&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;rang bilang dunia seni merupakan dunia miskin, gak jelas tanpa adanya masa depan yang cerah dan selalu identik dengan pandangan yang serba negatif. Benarkah orang yang berkecimpung dalam dunia seni tidak memiliki kantong tebal dengan celana sobek-sobek, rambut gondrong, acak-acakan, tidak pernah serius, tidak memiliki disiplin diri dalam hal kebersihan atau lain sebagainya. Betulkah orang yang bergelut dalam seni hidup tanpa aturan dan seenak perutnya. Semuanya juga hasil pandangan orang lain serta tingkah laku dari si pelakunya sendiri yang kurang memahami dan memaknai akan apa arti seni.”&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dan bukanlah kehidupan di  dunia ini sebagai bentuk aplikasi dari main-main dan senda gurau belaka. Padahal kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kalian memahaminya?&lt;/span&gt;” (Al An’am: 32)&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hakekatnya seni merupakan bentuk keindahan dan kelembutan yang membuat orang terpesona akan hasil karyanya dan menjadikan kepuasaan tersendiri bagi si penikmat seni dan pembuatnya. Seni adalah hati, hati identik dengan kelembutan. kelembutan unsur dari keindahan, keindahan aplikasinya menuju pada kedamaian. Kedamaian adalah inti ke-ma’rifat-an tentang TUHAN. Sedangkan  TUHAN adalah segala-galanya. Dalam hal inti, tak selamanya sesuatu yang berbau seni itu menjerumuskan dalam perkara yang negatif. Bahkan sejatinya seni itu bisa mendatangkan sesuatu yang sangat besar dan berharga asalkan si pencipta seni dapat membuat karyanya yang sangat memukau untuk diri sendiri atau orang lain. Biasanya sebuah karya seni dikatakan indah apabila dihasilkan dari perasaan yang sangat lembut keluar dari dalam diri si pencipta. “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Allah itu indah dan menyukai yang indah-indah&lt;/span&gt;”. “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Salah satu yang dibutuhkan untuk menghaluskan jiwa kita adalah seni&lt;/span&gt;” ( Prof. DR. Buya Hamka).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya seni ada berbagai macam bentuk salah satunya bisa diciptakan melalui aktifitas memerankan sesuatu diatas panggung sandiwara seperti teater. Dalam teater ada berbagai tahapan atau tingkatan untuk menghasilkan lakon yang terbaik dalam memainkan peran sandiwaranya diatas panggung. Seperti dalam dunia Tuhan (red; bumi panggung sandiwara Tuhan) manusia sebagai pemeran utamanya harus memerankan lakonnya sebagai pemain sebaik mungkin mulai dari lahir sampai ia meninggalkan pementasannya dari panggung Tuhan alias mati. Tidak luput juga bahwa ketika seorang pemain sandiwara sebelum memainkan perannya di panggung, ia harus terlebih dahulu melalui proses penggemblengan yang cukup lama dan keras, agar nantinya dapat menghasilkan sebuah karya pementasan yang spektakuler dan berkesan. “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama&lt;/span&gt;”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sebelum pementasan teater terlebih dahulu memilih sekenario mana yang baik dan siap untuk dipentaskan dalam panggung pementasan. “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Katakanlah; hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku&lt;/span&gt;” (Al-Kafirun: 1-6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Seorang penulis dan sutradara skenario memberikan petunjuk kepada para pemain akan isi, maksud dan tujuan skenario itu agar para pemerannya mengetahui karakter apa yang akan diperankannya nanti. Jika diibaratkan dalam panggung sandiwara Tuhan (Dunia) atau kehidupan sehari-hari, seorang penulis dan sutradara skenario adalah Tuhan itu sendiri (Allah Tuhan Yang Esa). sedangkan skenarionya adalah al Qur’an yang mana sebagai petunjuk manusia guna memainkan sandiwaranya di dunia dengan lakon dan karakter yang diberikan Allah untuk dirinya. Maka bersyukurlah jika kita mendapatkan petunjuk untuk memerankan diri kita sebagai manusia di panggung sandiwara-Nya sebagai orang yang baik bukan memerankan karakter antagonis (jelek). Jangan pernah sekali-kali merubah karakter kita sebagai manusia untuk mengingkari petunjuk dari sang penulis skenario dan sutradara jika tidak ingin mendapatkan cibiran (tertawaan) dari penonton. Firman Allah Swt; “Jika kalian mensyukuri akan segala nikmat yang telah Aku berkan kepadamu maka akan Aku tambahkan nikmat-Ku kepada kalian. Akan tetapi jika kalian ingkar akan segala nikmat-Ku maka sesungguhnya adzab-Ku sangatlah pedih”. “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sesungguhnya Aku (Allah) tidak menciptakan Jin (pemeran yang buruk) dan manusia (pemeran yang baik) kecuali untuk menyembah-Ku (Taat kepada Sang Pencipta Sekenario dan Sutradara Dunia)&lt;/span&gt;” &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Allah A’lam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Setiap lakon diharuskan untuk membaca serta menghayati skenario agar mengerti peran apa dan bagaimana yang harus dimainkanya diatas panggung nantinya yang akan disaksikan oleh banyak penonton (penikmat seni) lainnya. Jadi ketika manusia hidup haruslah mempelajari, mamahami serta membaca akan kandungan-kandungan isi skenario Tuhan (al qur’an) agar manusia hidup di dunia tidak terjerumus dalam kesesatan-kesesatan yang akan di perankan oleh kaum antagonis iblis, syetan dkk. “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus&lt;/span&gt;” (Ali Imran: 101). Dan tetaplah berusaha untuk bermain karakter yang ia perankan  sebaik mungkin seperti yang telah ditunjukkan oleh sutradara dan penulis skenario drama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Mulai melatih diri dengan peran yang akan kita perankan di atas panggung sedini mungkin. Belajarlah dan berlatihlah mulai dini (kecil) karena belajar ketika masih kecil bagaikan mengukir diatas batu sedangkan belajar dan berlatih ketika sudah dewasa seperti mengukir di atas air (mudah hilang). “Ajarilah anak-anak kalian dengan puisi sejak kecil” (Sayyidah Aisyah istri Rosulullah Saw). “Mencari  ilmu mulai dari buaian sampai ke liang lahat” (al hadist). Jadi berlatih belajar pementasan teater mulai dari ia mendapatkan skenario sampai ia mau mementaskan perannya diatas panggung masih mendapatkan ajaran, baik dari sang sutradara maupun dari kawan bermainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Kemudian tatkala sedang pentas diatas panggung diharuskan sang pemain agar bermain secara totalitas agar mendapatkan hasil karya yang terbaik buat dirinya dan penonton yang sedang menyaksikan pementasannya. Ibaratkan pentas diatas panggung untuk yang terakhir kalinya agar mendapatkan hasil yang sangat optimal dan baik. Begitu juga ketika kita sedang mementaskan peranan kita sebagai pemain sandiwara (manusia) di dunia, maka kita tidak perlu tanggung-tanggung memerankan diri kita secara total. Kita hidup di dunia ini hanyalah sekali saja seumur hidup. Maka mainkan peranan kita sebaik mungkin untuk mendapatkan aplaus dan tepuk tangan dari penonton serta pujian dari penulis sekenario dan sutradara diakhir pementasan. “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa yang menghendaki pahala dunia niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu dan barangsiapa yang menghendaki pahala akhirat maka Kami akan berikan (pula) kepadanya pahala akhirat dan Kami juga akan memberikan balasan kepada orang-orang yang bersyukur&lt;/span&gt;” (Al Imran: 145).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila di pertengahan pementasan terdapat suatu kesalahan maka seorang pemain sandiwara diperbolehkan untuk melakukan improvisasi (berbuat untuk menutupi kesalahanya dalam akting) dan secepatnya kembali semula kepada peran yang telah dimainkannya sesuai skenario. Agar tidak terjadi kesalahan yang besar dan fatal selanjutnya. “S&lt;span style="font-style: italic;"&gt;esungguhnya Tuhan-mu (mengampuni) bagi orang-orang yang mengerjakan kesalahan karena kebodohannya. Kemudian mereka bertobat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya). Sesungguhnya Tuhan-mu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang&lt;/span&gt;” (An Nahl: 119).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panggung teater merupakan salah satu bentuk terkecil dari aplikasi sandiwara dunia yang diciptakan Allah untuk kita perankan dengan sebaik-baiknya. Orang bergelut dalam dunia teater tidak selamanya teridentikkan dengan keburukannya, akan tetapi cobalah untuk melihat kepada sisi positifnya yang lain. Biasanya orang yang bergelut dalam dunia seni baik yang bergelut ke teater atau yang lainnya, hubungan persaudaraan, persahabatan diantara mereka sangatlah kental sekali. Hal-hal yang positif beginilah yang harus kita contoh dan aplikasikan ke dalam kehidupan keseharian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip teater yang utama adalah bisa memerankan suatu peran yang mungkin saja tidak ada pada diri kita. Akan tetapi kita dituntut untuk bisa memerankan karakter itu. Aplikasi ajaran itu sangat berdampak positif sekali jika pelakon mau menyadari dan memahaminya. Jadilah diri sendiri tapi juga harus bisa menjadi orang lain. “Lihatlah dalam hal dunia itu ke bawahmu akan tetapi dalam hal akhirat lihatlah ke atasmu”.  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Allah A’lam Bishawwab.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dialah Allah yang menciptakan, yang mengadakan, yang membentuk rupa, yang mempunyai nama-nama paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa Lagi Maha Bijaksana&lt;/span&gt;”. (Al-Hasyr: 24)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* aku manusia rendah yang tidak memiliki apa-apa mendapat kepercayaan sanggar mungilku Lingkaran Sastra Papyrus PCI-Muhammadiyah Kairo sebagai kepala keluarga periode: 2007-2008.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2680618420661537872-4050070324663886859?l=sastrapapyrus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/feeds/4050070324663886859/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/2009/08/teater-dunia-tuhan-atau-syetan-aplikasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2680618420661537872/posts/default/4050070324663886859'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2680618420661537872/posts/default/4050070324663886859'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/2009/08/teater-dunia-tuhan-atau-syetan-aplikasi.html' title='Teater; Dunia Tuhan atau Syetan...!?'/><author><name>Lingkaran Sastra Papyrus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16738817486361889053</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_rYfH5iQkQq4/SoQ8P_fdV3I/AAAAAAAAACE/uvuew5Z8iXY/s72-c/topeng_home.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2680618420661537872.post-2725188383856119937</id><published>2009-08-13T07:43:00.000-07:00</published><updated>2009-08-13T07:47:55.346-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='film'/><title type='text'>Bandara (2007)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_rYfH5iQkQq4/SoQnACyE-zI/AAAAAAAAAB8/xc4fJJuQJA8/s1600-h/cover2+copy.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 400px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_rYfH5iQkQq4/SoQnACyE-zI/AAAAAAAAAB8/xc4fJJuQJA8/s400/cover2+copy.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5369459537432869682" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Genre :&lt;/span&gt; Drama Dokumenter&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pemain :&lt;/span&gt; Affan Ardian, Istianah, Rahmadi Wibowo, Wahyudi Abdurrahim, Saifudin Zuhdi, Dedi Jamaluddin, Misbachul Munir&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sutradara :&lt;/span&gt; Mufti Afif&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Editor : &lt;/span&gt;Rudi Candra&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Naskah :&lt;/span&gt; Rudi Candra &amp;amp; A ginanjar S&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Produksi :&lt;/span&gt; Lingkaran Sastra PAPYRUS Cairo &amp;amp; Diandra El-Ikhlasy Production&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tayang :&lt;/span&gt; 21 Februari 2007&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Klasifikasi Penonton :&lt;/span&gt; 13 Tahun Keatas (13+)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2680618420661537872-2725188383856119937?l=sastrapapyrus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/feeds/2725188383856119937/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/2009/08/bandara-2007.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2680618420661537872/posts/default/2725188383856119937'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2680618420661537872/posts/default/2725188383856119937'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/2009/08/bandara-2007.html' title='Bandara (2007)'/><author><name>Lingkaran Sastra Papyrus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16738817486361889053</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_rYfH5iQkQq4/SoQnACyE-zI/AAAAAAAAAB8/xc4fJJuQJA8/s72-c/cover2+copy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2680618420661537872.post-1101979740359005778</id><published>2009-08-13T03:40:00.000-07:00</published><updated>2009-08-13T03:45:27.543-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sajak'/><title type='text'>Salam Penyair Untuk Pejuang</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oleh : HanG  Fa i SAl&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_rYfH5iQkQq4/SoPuCyCl6GI/AAAAAAAAABE/pDgmFTnPEHc/s1600-h/frew.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_rYfH5iQkQq4/SoPuCyCl6GI/AAAAAAAAABE/pDgmFTnPEHc/s200/frew.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5369396912315557986" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelombang-gelombang laut&lt;br /&gt;Buih-biuh menerpa ketepi&lt;br /&gt;Kerumunan para..para..para..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para penikmat tepian pantai&lt;br /&gt;Para borjuis berdendang&lt;br /&gt;Bergoyang-goyang para penguasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu itu dimiliki penjajah&lt;br /&gt;Dulu itu hanya tepian usang&lt;br /&gt;Dulu itu belum sempat kita nikmati..&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Jangan jadi manusia lupa daratan&lt;br /&gt;Kacang lupa kulitnya&lt;br /&gt;Setelah kering ditimpa panas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Durhaka terhadap bangsa&lt;br /&gt;Durhaka terhadap pejuang&lt;br /&gt;Sungguh celaka tak tau asal jadinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hahaha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah aku orang pelupa?&lt;br /&gt;Apakah aku orang yang ego?&lt;br /&gt;Aku tidak mau semua itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangsaka berkibar kesegala arah&lt;br /&gt;Sangsaka merah putih yang bersejarah&lt;br /&gt;Merah berkibar adalah goresan darah&lt;br /&gt;Darah para petualang sejarah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai para borjuis&lt;br /&gt;Kau tak-kan bisa lepaskan senyummu&lt;br /&gt;Di eloknya pantai tanpa beliau&lt;br /&gt;Wahai para jutawan&lt;br /&gt;Kau tak akan bisa dirikan&lt;br /&gt;gedung mewah Tanpa beliau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wahai semuanya..&lt;br /&gt;kalian tidak akan tentram&lt;br /&gt;tanpa keringat beliau&lt;br /&gt;beliau telah ukir negri ini&lt;br /&gt;dengan tetesan darah&lt;br /&gt;beliau berjuang tanpa mengharap sepotong&lt;br /&gt;kata indah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bukan pujian dari semua arah akan tetapi&lt;br /&gt;tahadus bi ni’mah&lt;br /&gt;akankah beliau ditelan sejarah&lt;br /&gt;dan akankah berlalu begitu saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku ingin cari beliau&lt;br /&gt;dimanakah beliau??&lt;br /&gt;Adakah dizaman ini?&lt;br /&gt;Yang berjuang dan membela kepentingan bersama&lt;br /&gt;Adakah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku telah teriakan aku cinta negriku&lt;br /&gt;Aku cinta bumi pertiwi&lt;br /&gt;Aku cinta semua suku&lt;br /&gt;Akulah pecinta agama-agama, karena islam&lt;br /&gt;Mengajariku&lt;br /&gt;Tapi rasis, egois, nepotis&lt;br /&gt;Is.. is.. is.. tidak mengerti aku apa itu is?&lt;br /&gt;Aku hanya penyaiir yang memupuk cinta&lt;br /&gt;Cinta terhadap timbangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangkitlah…&lt;br /&gt;Menjemput kemerdekaan hakiki&lt;br /&gt;Ingin ku usungkan didepan semua negri&lt;br /&gt;Aku ingin jadi beliau&lt;br /&gt;Apakah beliau masih ada?&lt;br /&gt;Ternyata beliau telah tiada&lt;br /&gt;Beliau adalah pahlawan tunas bangsa&lt;br /&gt;Beliau agamawan ditengah-tengah penjajah&lt;br /&gt;Manusia dua orang ini adalah pencerah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah beliau masih ada?&lt;br /&gt;Beliau sudah di alam yang berbeda&lt;br /&gt;Salam penyaiir untukmu pejuang&lt;br /&gt;Salam penyaiir untukmu agamawan&lt;br /&gt;Semoga tuhan bersamamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hei kamu!! Terima kasih buat kamu.&lt;br /&gt;Kamu-kamu yang seperti beliau.    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2680618420661537872-1101979740359005778?l=sastrapapyrus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/feeds/1101979740359005778/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/2009/08/salam-penyair-untuk-pejuang_13.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2680618420661537872/posts/default/1101979740359005778'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2680618420661537872/posts/default/1101979740359005778'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/2009/08/salam-penyair-untuk-pejuang_13.html' title='Salam Penyair Untuk Pejuang'/><author><name>Lingkaran Sastra Papyrus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16738817486361889053</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_rYfH5iQkQq4/SoPuCyCl6GI/AAAAAAAAABE/pDgmFTnPEHc/s72-c/frew.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2680618420661537872.post-8906618994305678755</id><published>2009-08-12T15:27:00.000-07:00</published><updated>2009-08-12T15:31:54.504-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Belaian Padang Pasir</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Oleh; Nadia Ulya*&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_rYfH5iQkQq4/SoNCaDWvbfI/AAAAAAAAAA0/Uy4XL4rMw_g/s1600-h/di-padang-pasir.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_rYfH5iQkQq4/SoNCaDWvbfI/AAAAAAAAAA0/Uy4XL4rMw_g/s200/di-padang-pasir.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5369208196100484594" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Menuntut ilmu itu jihad fi sabilillah, Insyaallah teman kita  Shofi termasuk dalam golongan para syuhada” Kak Sidiq menjelaskan dengan bijak. Kulihat tetes-tetes bening jatuh penuh haru membentuk danau kecil di pelupuk mata para pelayat saat pemakaman itu. Akupun tak kuasa menahan loncatan air mata yang terus mendesak keluar. Mati syahid, benarkah? Aku tak habis fikir, hatiku kembali bertanya. Shofi mungkin bisa disebut sebagai seorang syahidah. Tapi seandainya yang meninggal itu Aku? Bulu kudukku bergidik.&lt;br /&gt;    &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Darimana Na, jam segini baru pulang?” kulirik jam di dinding ruang tamu, jarumnya menunjukkan pukul 12:10 malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mmm… habis dari jalan sama Oma mbak” Jawabku asal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan sering pulang malam nggak bagus, ini demi keselamatan kamu juga, hati-hati dalam bergaul. Mbak Diah Cuma bisa ngingatin, “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya mbak” Jawabku singkat. Uh, sok nasehatin segala kakak kelasku ini, malam-malam Khutbah. Rutukku dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatiku kecut. Enam bulan di Kairo bermacam rasa kucicipi. Antri panjang di kuliah, berdesak-desakan di bis seperti sarden, tumpukan diktat kuliah tebal yang sulit dipahami, dijahili ammu-ammu yang kurang kerjaan. Kecopetan Ha Pe. Semua ini terpaksa kutelan. Ah, ternyata Kairo tak seindah yang kubayangkan, tak senyaman anganku. Akupun tak tahu, bunga-bunga mimpiku dulu kini berlabuh entah kemana. Yang kutahu kecewa itu hanya milik masa lalu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enam bulan yang lalu aku meninggalkan tempat kelahiranku, pulau Bangka. Kini kakiku telah menjejak di negeri seribu menara berkabut debu. Bapak rela menjual sepetak tanah warisan miliknya untuk biaya keberangkatanku. Keluargaku memang bukan tergolong keluarga yang mampu, Bapak bekerja sebagai nelayan. Sedangkan Ibu tukang jahit biasa. Berbeda dengan Shofi teman seberangkatku ke Kairo. Bapaknya mempunyai toko kerupuk terkenal di Bangka. Namun sayang, goresan takdir telah memanggilnya terlebih dahulu, usus buntu yang dideritannya merenggut cita dan meranggas masa mudanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terhempas, terngiang digendang telingaku pesan bapak ketika itu, tatkala senja mulai menjelang. Mengingatkanku kembali akan memory yang hampir terpisah bagai puzle-puzle yang berserakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belajar yang baik nak, jangan mikir yang macam-macam. Bapak dan Ibu pengen melihat kamu pulang dengan sukses”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ok Pak, Bu. Ina akan berikan kado terbaik buat kalian” Jawabku tegas. Bayangan itu menambah nyeri lubuk hatiku. Titian waktu menorehkan tinta lain. Apa yang telah kulakukan disini, akankah  mimpi indahku hadir kembali? Akankah kado yang telah kujanjikan dapat kuhadiahkan kepangkuan Bapak dan Ibu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padatnya aktivitas di Kairo, telah mengajariku setitik demi setitik arti memilih. Memotret realita, sebenarnya Akupun tidak bisa mengisolasi bahwa mesir adalah tempat yang sangat membosankan. Karena kutahu banyak sisi positif yang dapat kutemukan. Semuanya ada disini. Terbentang luas. “Kebebasan memilih” penggalan kata inilah yang mungkin menjadi alasanku. Hitungan detik inilah yang telah mengajariku beragam warna, Aku telah tergelincir bersama panorama yang ada. Pulang malam, aktif organisasi di mana-mana, chatting, nge-game, menganggap remeh muqarrar yang terlunta-lunta, jalan dan makan bersama Robet pacarku. Ya itulah Aku Nirina anak seorang nelayan yang terpoligami oleh keadaan. Survei mebuktikan, waktuku terus mengalir tanpa terasa yang menyisakan kesia-siaan dan kesenangan sesaat. Kurasakan jiwaku kini begitu tandus. Ruhiku kosong, Aku perlahan terbangun dari mimpi panjangku, Aku lelah dalam keterpurukan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak yakin seandainya saat ini Allah memanggilku, apakah aku pantas menyandang predikat syahidah sebagai seorang penuntut ilmu, yang memperjuangkan agama-Nya? Semburat fajar seakan tersenyum sinis turut mengejekku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, sebenarnya bibir ini terasa kelu tuk berucap. Bayangan wajah lelah  Bapak berlapiskan peluh, lembut belaian jari-jari Ibu yang perlahan mulai keriput membuatku tak sanggup mencipta kata. Berat rasanya, tetapi harus kukatakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak, Bu, Ina mo minta izin nikah” Ujarku gugup. Kutangkap keterkejutan Bapak dan Ibu di seberang. Kulanjutkan kata-kata walau berbagai rasa bergelayut di hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bantu Ina Istikharah, semoga diberikan-Nya yang terbaik”. Kurasakan helai-helai kecewapun tercipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solusi! Ya inilah solusinya. Namun aku sendiri belum bisa meyakininya. Benarkah menikah satu-satunya jalan? Aku kembali dalam bimbang yang melelahkan. Ya Allah hanya siraman rahmat dan petunjuk-Mu yang kuharapkan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, Adakah mimpiku ini suatu yang realitis atau hanya fantasi? Hanya bayangan pesona indah-Mu yang kini semakin dekat dan menggelitik relung hatiku, menghentakkan langkah-langkah kakiku. Serpihan bingkai cita-citaku kini  kembali  tertancap di dalam dada. Semoga dapat kusempurnakan kembali pada kesempatan ini…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di penghujung musim dingin 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kututup buku harian bersampul hijau bermotif kotak-kotak  yang mulai pudar dimakan usia itu. Kubaca tulisan yang tertera disampul bagian depan. “Belong to Nirina” Kuambil segelas air  putih, kuteguk sampai habis. Nirina sebuah nama yang masih melekat dalam ingatanku, sosok bidadari yang selalu mengisi hari-hariku. Mengiringi langkah dakwahku. Ia sosok isteri yang sholehah, seorang ibu yang rela mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan jundi Allah, Nur Habibah buah hati kami. Tak terasa bulir-bulir bening mengalir dipipiku.    &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2680618420661537872-8906618994305678755?l=sastrapapyrus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/feeds/8906618994305678755/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/2009/08/belaian-padang-pasir_12.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2680618420661537872/posts/default/8906618994305678755'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2680618420661537872/posts/default/8906618994305678755'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/2009/08/belaian-padang-pasir_12.html' title='Belaian Padang Pasir'/><author><name>Lingkaran Sastra Papyrus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16738817486361889053</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_rYfH5iQkQq4/SoNCaDWvbfI/AAAAAAAAAA0/Uy4XL4rMw_g/s72-c/di-padang-pasir.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2680618420661537872.post-8941418667962237563</id><published>2009-08-12T15:18:00.000-07:00</published><updated>2009-08-12T15:24:11.026-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Semalam Dalam Senyap</title><content type='html'>&lt;em&gt;Oleh; Dina Rosa&lt;/em&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_rYfH5iQkQq4/SoNAqRiaaDI/AAAAAAAAAAs/W_HB0WzRK7Q/s1600-h/IMG_0666.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_rYfH5iQkQq4/SoNAqRiaaDI/AAAAAAAAAAs/W_HB0WzRK7Q/s200/IMG_0666.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5369206275762186290" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah Mahathah kawasan Rab’ah al-Adawea&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam Kairo sebentar lagi menggenapkan gelapnya. Menepis senja yang sudah lama tak kelihatan sejak beberapa jam yang lalu. Mobil-mobil pun mulai sedikit yang lewat di jalan itu. Sementara, seorang gadis berdiri gelisah di mahathah tersebut. Sesekali dia duduk di bangku mahathah. Namun, kesendirian mengenyahkan kenyamanan di hatinya. Teman-temannya yang dari tadi bersamanya satu persatu telah menaiki bis idamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alicia mondar-mandir, menoleh ke samping dan kebelakang. Lalu matanya melirik jam di hp-nya, pukul sepuluh lewat. Badannya meremang. Rasa takut mulai menyelinapi hatinya. Dia teringat obrolannya dengan Kak Moni beberapa hari yang lalu.  &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Udah denger belum isu tentang pembunuh mania di Kairo?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belum. Emang gimana ceritanya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tuh orang kalo lagi kepengen bunuh orang dia akan bunuh siapa aja yang ditemuinya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang bener aja!! Di Kairo?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya. Jadi sekarang mesti hati-hati. Jangan sering pulang sendirian. Dan jangan pulang kemaleman. Pokoknya wasapada saja, jangan terlalu percaya dengan orang yang tak dikenal”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alicia sempat bergidik. Membayangkan seperti apa orang tersebut. Ada ya orang seperti itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa gak ditangkap aja?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katanya sekarang lagi dicari”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, jangan sampe ketemu ama tuh psikopat. Aku tuh anak Ayah dan Ibu satu-satunya. Jangan sampe mati sia-sia. Tapi gimana kalo malam ini aku ketemu ama orang gila itu? Aku tak ada alat untuk melindungi diri. Ah, semoga aja penyakitnya gak kumat. Eh, kalo lagi kumat. Ya, lari dong. Ih, salah sendiri gak mau diajak Laras nginep di rumahnya tadi. Tahu rasa, lo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alicia meredam bisikan-bisikan aneh hatinya dengan istighfar. Dia terus berdoa dan berdoa. Mobil-mobil yang lalu lalang semakin sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masa sih gak ada mobil sampe sekarang?” Alicia menghentakkan kakinya yang letih. Dia pun duduk lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah mobil sedan metalik berjalan lamban lalu mundur dan berhenti pas di depan Alicia. Pengemudinya menurunkan kaca mobilnya dan mengatakan sesuatu yang tidak ia pahami. Alicia termasuk orang baru di negri ini. Jadi kosa kata ‘amiyahnya belum memadai. Terkadang ia lama mikir untuk memahami percakapan orang Mesir. Alicia mendekati mobil tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eih?” tanya Alicia meminta laki-laki yang memakai kacamata itu mengulang kata-katanya. Laki-laki itu mengulanginya di tambah dengan isyarat tangan. Seolah-olah dia berkata, masuk saja dan aku akan memberi kamu uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah Alicia langsung pias, badannya gemetaran. Ia menggelengkan kepalanya dan lari. Yah, lebih baik lari dan terus berlari. Airmatanya secara perlahan keluar dari matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah agak jauh Alicia menoleh ke belakang. Mobil tersebut tak ada lagi. Ia menarik nafas lega. Dan berjalan pelan. Letih juga rasanya. Aliran nafasnya naik turun. Sebentar lagi simpang Masjid Nuril Khitob, semoga aja di simpang itu bis yang ia tunggu ada. Ketika tiba di mahathah samping masjid, dia duduk melepas letihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat ia duduk tenang, lagi-lagi sebuah mobil berhenti di dekatnya. Sebelum pengemudinya menurunkan kaca mobilnya, Alicia  bangkit dan mengayunkan langkah dengan cepat. Mobil tersebut mengejarnya. Alicia pun lari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Adek…adek… tunggu..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alicia menajamkan telinganya. Suara wanita. Gadis itu menghentikan ayunan kakinya lalu menoleh ke belakang. Sepotong wajah berjilbab biru menyembul dari dalam jendela mobil. Wajah khas Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau kemana, Dek?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ke Hay Tsamin Mbak”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ikut saya aja ya?  Jam segini sudah jarang mobil yang lewat”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alicia tersenyum dan mengangguk. Ia masuk ke dalam mobil tersebut dengan hati yang mulai merasa nyaman. Di samping Mbak itu seorang laki-laki yang mengemudikan mobil. Pasti suaminya, tebak Alicia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anak baru ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, Mbak”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“siapa namanya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alicia, Mbak”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, kalo saya panggil saja Mbak Setyo. Ini Mas Agus, suami saya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka pun ngobrol panjang lebar di sepanjang pejalanan. Alcia tidak merasa rikuh, mereka sangat ramah. Dalam hati Alicia bersyukur bisa bertemu beliau malam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Imarahnya yang mana, Lis?” tanya Mas Agus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang itu, Ustadz” Alicia menunjukkan tempat di mana imarahnya berdiri. Perlahan mobil berhenti di depan imarahnya. Alicia turun dengan perasaan lega.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lain kali, usahain jangan pulang terlalu malam ya?” pesan Mbak Setyo sebelum menutup kaca mobilnya dan beranjak pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alcia nyengir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Insyaallah, Mbak”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alicia tersenyum lucu mengingat kejadian barusan. Dia menaiki tangga dengan bernyanyi kecil. Malam ini rumah sepi. Teman-teman serumahnya menginap di rumah Mbak Sally yang semalam melahirkan. Kalau di rumah, dia tidak terlalu takut untuk sendirian. Sesampai di depan pintu rumahnya ia mengambil kunci di  sakunya. Tapi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Loh, kok kuncinya gak bisa masuk” Alicia mencoba beberapa kali. Tetap saja seperti semula. Sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ini kan kunci yang sering di pakai Mbak Moni. Alicia mengingat-ngingat lagi. Ia tetap merasa yakin. Dengan tergesa dia menuruni tangga imarah. Tujuannya adalah Box Minatel di depan imarah. Ia harus menghubungi Kak Moni di rumah Mbak Sally. Saat ini juga. Siapa sih yang rela menunggu di depan pintu rumah semalaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aduh, Lis, ma’alisy banget. Gantungan kuncinya udah Kakak ganti. Itu kunci lemari kakak. Ya udah, sekarang kamu ke sini aja. Nggak jauh kok”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertahanan Alicia pun jebol. Dia menangis sekuat-kuatnya. *   &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2680618420661537872-8941418667962237563?l=sastrapapyrus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/feeds/8941418667962237563/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/2009/08/semalam-dalam-senyap.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2680618420661537872/posts/default/8941418667962237563'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2680618420661537872/posts/default/8941418667962237563'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/2009/08/semalam-dalam-senyap.html' title='Semalam Dalam Senyap'/><author><name>Lingkaran Sastra Papyrus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16738817486361889053</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_rYfH5iQkQq4/SoNAqRiaaDI/AAAAAAAAAAs/W_HB0WzRK7Q/s72-c/IMG_0666.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2680618420661537872.post-3506890378649975802</id><published>2009-08-12T15:10:00.000-07:00</published><updated>2009-08-12T15:15:39.214-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Hanya Sehari</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oleh; Hafara el Quds*&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_rYfH5iQkQq4/SoM-U9AzIxI/AAAAAAAAAAk/ZJrgwaGdvAk/s1600-h/Di_batas_senja_Djogja_2_by_pagihari.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 259px; height: 220px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_rYfH5iQkQq4/SoM-U9AzIxI/AAAAAAAAAAk/ZJrgwaGdvAk/s320/Di_batas_senja_Djogja_2_by_pagihari.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5369203710451983122" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;D&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;i sore yang indah. Pemandangan yang elok. Kanan kiri jalan yang di tumbuhi pepohonan nan rindang. Untuk pertama kalinya aku menginjakkan kaki di negara khatulistiwa, negara yang beriklim tropis. kau katakan inilah surga dunia. Katamu juga, aku takkan mendapatinya di negaraku. “Ah itu hanya bualanmu,” sanggahku kala itu. Sebenarnya kau tak tahu apa-apa tentang keindahan negeriku. Kau hanya sebentar saja singgah di negaraku, hanya empat tahun. Waktu yang sebentar bukan. Lagi pula, ketika kau di negaraku, kau hanya berkutat di Qaherah saja. Rumah kontrakanmu pun terletak di daerah kumuh, di distrik sepuluh. Bagi kami, tempat itu tidak layak untuk ditempati oleh manusia berpendidikan. Karena melihat tingginya tingkat kriminal, orang-orang di tempat itu pada tidak beradab, dan tentu saja yang namanya tempat kumuh ya pasti banyak sampah, jalanan yang becek, huh menjijikkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda denganku, aku ditakdirkan menjadi anak orang kaya, selalu berkecukupan. Bahkan, orang tuaku tidak pernah menggelengkan kepala ketika aku minta sesuatu darinya. Ya, walaupun kita tinggal di satu kota, tapi kita tetap berbeda. Karena kau tinggal di daerah kumuh dan aku di daerah yang elit. Itulah yang membuat status kita tetap berbeda. Selain itu, kau orang A’jam. Dan perbedaan kita yang paling mendasar karena kepercayaan kita berbeda. Faktor inilah yang mungkin membuat ayahku sulit untuk menerimamu masuk dalam kehidupanku.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuakui, ayahku termasuk orang yang berpegang teguh dengan ajaran nenek moyangnya, tapi dia sebenarnya baik. Buktinya ia bisa memberikan kepada seluruh anak-anaknya kasih sayang yang lebih. Dan itupun kalau masalah kasih sayang. Kalau masalah harta jangan kau tanya. Ayahku sanggup membelikanku Renault Megan yang biasa aku kemudikan sendiri ketika aku berangkat kuliah di Cairo University. Padahal kau tahu sendiri kalau aku bukan anak satu-satunya. Karena adat di negeriku yang sangat mempercayai kata orang bijak “Banyak anak, banyak rejeki”. Aku masih punya empat orang kakak walaupun dua diantara mereka sudah menikah. Sedangkan adikku ada empat juga. Kau tahu adikku yang paling kecil, ya yang masih kelas enam ibtida’i, itu saja sudah di belikan ayahku handphone Nokia 6680. Apa kau masih meragukan taraf ekonomi keluargaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih ingat pertemuan yang tak disengaja itu. Tepat awal Juli saat liburan musim panas tahun lalu. Ketika aku ingin memasang papan nama di nisan mendiang ibuku bersama Pastor Yossef yang terletak di pekuburan Gereja Mary Girgis, di samping reruntuhan Roman Tower. Kau yang masih kelihatan lugu dan tak tahu apa-apa menanyakan perihal makam para kristus domba Allah. Pada waktu itu, Pastor Yossef kelihatan tidak senang denganmu yang menganggu upacara pengantian papan nisan itu. Aku juga tidak tahu alasan apa yang membuat Pastor berbuat seperti itu. Bisa jadi dari caramu berpakaian yang tidak menggambarkan kalau kau seorang Qibti, tapi itu sebenarnya wajar, karena kau orang A’jam. Mungkin juga dengan tidak adanya tatto salib di pergelangan tangan kananmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pastor Yossef tetap diam saat kau tanya, aku tak tega melihatmu diperlakukan seperti itu, lalu naluri kemanusiaanku bangit untuk segera menanggapimu. Kuberikan sebuah senyuman kearahmu, dan kuisyaratkan agar menunggu sebentar, sampai acara ini selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau yang kemudian mundur beberapa langkah mencoba mencari hal-hal baru yang sepertinya takkan kau temui selain di tempat ini. Kau tak salah jika ingin mengetahui seluk beluk tentang kaum Nasrani disini. Karena disinilah tempat yang dahulunya kemajuan kerajaan Roma yang mayoritas memeluk agama Nasrani itu maju pesat. Salah satu bukti omonganku, coba kau lihat Gereja Mary Girgis yang masih satu komplek dengan pekuburan ini. Gereja dengan desain Romawi kuno yang megah, yang di dalamnya terdapat foto-foto Pastor dari jaman Roma. Nasehatku, jangan kau tinggalkan ruang bawah tanah gereja karena di sana kau akan melihat ada beberapa buah alat hukuman pada jaman Roma. Di sana juga ada gua persembunyian hampa udara yang aku sendiri tak tahu siapa dulu yang bersembunyi di situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau pun mencoba mengabadikan semua yang kau lihat dengan kamera bututmu. Mencari objek yang pas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upacara itu selesai dan kau tampaknya menagih janjiku. Dengan perlahan kau mendekatiku ketika kau melihat Pastor Yossef berjalan meninggalkanku. Wajahmu menggambarkan rasa ketidaksenangan kepada Pastor Yossef. Aku bisa melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kukira kau seorang turis, yang akan bertanya dengan bahasa Inggris, aku sudah minder karena tak bisa berbicara dengan bahasa asing itu. Karena aku tidak suka dengan apa-apa yang berbau kapitalisme. Walaupun dengan bahasanya. Tapi tebakanku salah, kau ternyata seorang mahasiswa tingkat akhir Universitas al-Azhar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau pasti seorang muslim?” tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau gerakkan kepalamu mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah kuduga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Erlita, astagfirullah,” teriakmu ketika melihatku di pojokan jalan Abbas Saqot. Samar-samar kulihat kau membopongku sambil mencarikan taksi. Aku yang setengah sadar karena pengaruh minuman keras mabuk berat tak kuasa menahan tulang-tulangku untuk berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam taksi berwarna hitam putih yang sudah tak layak disebut taksi ini, kulihat wajahmu memamerkan kekhawatiran. Aku tidak sanggup membuka mata seutuhnya, resah. Diatas pahamu, sambil menggeliat kusandarkan kepalaku untuk sedikit mendapatkan kenyamanan. Kau yang sesekali mengipasiku dengan buku tipis yang kau bawa, aku sedikit mendapatkan angin segar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan aku,” kataku lirih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf atas apa Erlita?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan aku yang diam-diam mencintaimu. Maafkan aku yang mencari orang lain yang mirip denganmu, lalu aku anggap dia itu kamu. Aku tahu kita tidak mungkin bersama karena kita berbeda kepercayaan. Aku Nasrani dan kau Islam. Kau tidak mungkin berpindah kepercayaan, aku pun begitu. Kalau boleh aku bercerita, sekitar dua bulan yang lalu, aku berkenalan dengan orang yang sangat mirip denganmu, dia berkebangsaan Libanon. Kalian sangat mirip, jika mataku ini ditutup, lalu salah satu dari kalian berbicara, aku pasti tidak tahu suara siapa itu. Aku sudah menganggapnya dia adalah dirimu. Kalian teramat mirip. Aku terlalu bahagia waktu itu. Aku kelepasan. Mahkotaku yang paling berharga telah kuberikan padanya,” aku sesengukan tak kuasa menahan butiran kristal yang meleleh di pipiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau hanya bisa termangu memahami apa yang baru aku ucapkan. Terpantul dari sinar matamu, aku tahu sebenarnya kamu juga memendam perasaan yang sama terhadapku. Tapi apalah daya, orang mempunyai kepercayaan masing-masing yang tidak bisa digadaikan dengan kebersamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mobil peugeut 405 yang terbungkus balutan hitam dan putih ini sudah memasuki gerbang rumah sakit Rab’ah el Adawiyah. Aku masih bisa melihat kau berbicara dengan dokter jaga bahwa ada pasien kritis yang butuh pertolongan secepatnya. Aku juga masih melihat kepanikan itu belum hilang dari wajahmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang aku percaya apa yang kau katakan itu adalah sebuah kebenaran. Negerimu memang lebih indah dari negeriku. Dan Jogja memang jauh lebih indah dari Qaherah. Aku tak akan menyangkal lagi. Dan yang paling aku suka dari negerimu adalah kesopanan dalam bertingkah laku yang tidak aku temui di negeriku. Padahal kalau dipikir, negeriku lebih dekat dengan peradaban Islam dan tentunya mengajarkan tentang perilaku orang beradab. Tapi yang terjadi justru sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku baru sehari memeluk Islam. Dan aku baru mengerti keindahan agamamu di negerimu. Sungguh aneh. Semalam, aku menghafal surat al-Ikhlas. Alhamdulillah, aku sekarang sudah hafal tiga surat. Kata orang yang suka pakai sorban putih dan yang menjadi saksi keIslamanku, aku hafal triple Qul. Ah, ada-ada saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udara subuh yang segar mengirim aroma surga. Pelan-pelan masuk ke hidung, melewati bulu-bulu halus, terus masuk kedalam sampai paru-paru, membuat badan siap untuk menghadap Ilahi. Langit sebagai alas bagi para bintang untuk saling bercanda, terang. Ritual setiap pagi di langgar yang hanya dua rekaat itu cepat diselesaikan para jamaahnya. Tak puas hanya terpejam semalam, aku pun hanyut dalam dekapan selimut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti suara dentuman bom atom yang jatuh di Herosima dan Nagasaki, suara itu kembali, tepat di bawah bumi tempat kuberpijak. Ranjang tempat kutertidur, bergerak sendiri dengan irama maha dahsyat. Samar kudengar masyarakat pada teriak, panik, tak karuan. Aku sendiri bingung dengan apa yang harus kuperbuat. Untuk mencapai pintu saja, aku harus merangkak. Takut, panik, bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gempa..! Gempa..!” teriakan mereka yang kudengar. Aku tidak tahu apa maksud mereka. Aku masih mencoba meraih gagang pintu yang tinggal sedikit lagi kuraih. Dalam hati, aku mengira inilah akhir dunia. Inilah kiamat. “Ya Allah, ampunilah dosa-dosa semua orang mukmin dan orang muslim yang masih hidup atau pun yang sudah meninggal,” doa tulusku dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinding di sekitarku sudah pada retak. Bumi masih bergoyang kuat membuatku lebih susah meraih gagang pintu. Bruak.. Aku mendengar seperti sesuatu runtuh. Aku tak perduli. Yang penting sebentar lagi aku bisa membuka pintu lalu keluar menyelamatkan diri. Harapan tinggal harapan. Kakiku terjepit reruntuhan dinding. Berdarah, sakit, tak bisa bergerak. “Ya Allah, bantu aku,” pekikku. Dalam keadaan tak berdaya seperti ini, aku hanya bisa menyebut namaNYA. Praak.. aku mendengar suara itu lagi. Atap kamarku jatuh, aku mencoba melindungi kepalaku dengan kedua tanganku. Tapi manusia hanya bisa berusaha. Salah satu genteng yang jatuh mengenai tengkukku. Merah pekat darah segar segera meleleh melewati leher. Aku tak tahu, aku pingsan atau mati.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2680618420661537872-3506890378649975802?l=sastrapapyrus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/feeds/3506890378649975802/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/2009/08/hanya-sehari.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2680618420661537872/posts/default/3506890378649975802'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2680618420661537872/posts/default/3506890378649975802'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/2009/08/hanya-sehari.html' title='Hanya Sehari'/><author><name>Lingkaran Sastra Papyrus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16738817486361889053</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_rYfH5iQkQq4/SoM-U9AzIxI/AAAAAAAAAAk/ZJrgwaGdvAk/s72-c/Di_batas_senja_Djogja_2_by_pagihari.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2680618420661537872.post-4996266224690573730</id><published>2009-08-12T15:03:00.000-07:00</published><updated>2009-08-12T15:56:48.952-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Serpihan Puzzle yang Hilang</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Book Antiqua"; 	panose-1:2 4 6 2 5 3 5 3 3 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:right; 	mso-pagination:widow-orphan; 	direction:rtl; 	unicode-bidi:embed; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;Oleh: Nadia Ulya*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_rYfH5iQkQq4/SoM81uCostI/AAAAAAAAAAc/zps5jbMtGOk/s1600-h/Puzzle+of+State+Health+Reforms.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 192px; height: 128px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_rYfH5iQkQq4/SoM81uCostI/AAAAAAAAAAc/zps5jbMtGOk/s320/Puzzle+of+State+Health+Reforms.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5369202074345583314" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;eluit senja mulai memainkan perannya, kerudung cremku meliuk-liuk indah menirukan penari latar. Di atas jembatan, kupandangi arus air sungai nil yang mengalir teratur kehulu. Kapal-kapal berjoget gemulai terbawa irama gelombang. "Oh, sungai nil, selalu kau bawa titik-titik jenuhku bersama hanyut arusmu, seakan kau hadirkan kembali memory yang pernah kulalui bersamanya di sini. Dikolam kenangan ini, tidak akan ada detik kebersamaan yang bisa terlupakan. Tanpa hadirmu terasa sesuatu kurang lengkap, bagai potongan puzzle yang hilang" Tetes-tetes sebening kristal jatuh satu persatu dipipi dinginku diiringi tamparan lembut angin senja sore itu. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;****&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;"Andin, dapat paket salam nich dari mas Een"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan Veni kurespon dengan cibiran plus kerjapan mata nakal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ih, terima kasih kek. Berat tau bawain paket salamnya, lagian mubazir kalo nggak diterima".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya udah buat elo aja. Gue iklas" Canda renyahku disambut Veni dengan cubitan kecilnya. Mas Een satpam di sekolah kami, dia belum menikah. Padahal kerut-kerut diwajahnya menandakan kalau usianya sudah cukup lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"kekantin aja yuk, lapar nich. Tadi pagi nggak sempat sarapan. " Kugamit tangan Veni menuju kantin. Di koridor sekolah, kami berpapasan dengan sepupuku Akmal. Ditangannya terlihat ada beberapa buku. Pasti mau keperpustakaan batinku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mau kekantin, nich?" Sapanya ramah disertai senyum khas bertengger di bibirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya" Jawab kami serempak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mau keperpustakaan ya, kak?" Sambut Veni sedikit genit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"yup, mo balikin buku"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yuk, kita kekantin dulu kak, Andin laper banget nich" Irama cacing diperutku tidak bisa ditolerir lagi. Bergegas kutarik tangan Veni yang masih memasang tampang centilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ntar pulangnya barang kakak yach, udah janji nemenin paman mancing hari ini"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sip dech, Akhi" Ujarku menirukan panggilan untuk laki-laki yang biasa dipakai teman-teman rohis kak Akmal. Sekilas dari ekor mataku kulihat kak Akmal geleng-geleng dengan senyum simpulnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;****&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sudah hampir dua bulan lebih paman Rusli dipindah tugaskan di Riau. Paman Rusli kakak kesayangan papa semata wayang. Akmal adalah anak paman yang juga seperti anak papa menurutku. Beda usia kami hanya tiga tahun. Papa sangat sayang pada kak Akmal bahkan aku merasa kasih sayang untukku perlahan tergeser dengan hadirnya sosok Akmal. Aku Andin, anak paling macho diantara buah hati papa yang semuanya prempuan. Mungkin dikarenakan do'a-do'a papa yang menginginkan anak terakhirnya laki-laki. Namun yang lahir lagi-lagi perempuan. Entah kenapa seiring dengan berjalannya waktu, aku Andini lebih senang main dengan anak laki-laki. Boneka-boneka winnie the pooh, hello kitty enggan kusentuh, aku lebih tertarik dengan mainan mobil-mobilan, Pendekar laba-laba spidarman, perang-perangan dan mainan laki-laki yang lainnya. Lambat laun panggilan andin berganti menjadi Andi si macho.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;****&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Namun, rasa malu pada Allah sesungguhnya merupakn awal yang baik dalam perjalanan menuju perubahan. Masa-masa remaja SMP telah kulewati. Si macho Andin yang feminimnya hampir tertutup sifat tomboy perlahan mulai terkikis. Rambut yang dulu dipotong pendek sekarang tergerai panjang dilindungi kerudung anggun bertengger cantik di sana. Waktu itu keputusan papa yang sudah bulat dan atas dukungan mama dilengkapi persetujuan saudari-saudari cantikku tidak bisa diganggu gugat. Aku harus masuk pesantren. Kak Akmal yang sudah memasuki tahun ketiga dipesantren itu menjadi contoh konkrit yang selalu dijadikan alibi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lihat kakakmu Akmal, makin sholeh saja dia"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Rencananya setelah lulus nanti, Akmal akan ikut tes melanjutkan kuliah di Azhar Cairo loh, dek" Mbak Damai ikut ambil bagian memuji kak Akmal. Mama menambahi, mbak Hanifah membumbui, mbak Anis mengompori ditambah penyedap oleh mbak shofi, lengkap dech.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya cinta-cinta adek, Andin setuju sekolah dipesantren" Kulihat sinar kebahagiaan terpancar dari mata papa, mama dan mbak-mbakku. Aku tidak punya pilihan lain kecuali menerima tawaran atau lebih tepatnya keputusan untuk melanjutkan sekolah dipesantren Raudhatul Ulum yang ada di Riau. Semoga ini keputusan yang sangat tepat bagiku. Dengan bismillah aku mulai meniti langkah baru, dan kehidupan baruku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;****&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Bermula dari hal yang sederhana. Rasa sayang papa yang menurutku sangat over pada kak Akmal melahirkan inisiatif baru di buah pikirannya, perjodohan. Susunan kata yang cukup singkat, namun pada kenyataanya kalimat ini merupakan suatu yang urgen dalam titian kehidupanku. Segudang alasan mengapa dan kenapa dilontarkan papa. Rencanaku untuk melanjutkan study ke Cairo perlahan mulai goyah, butuh pertimbangan kembali. Sudah tiga tahun kak Akmal di universitas al-Azhar Cairo. Kak Akmal berniat melanjutkan program jenjang S2 di sana juga. Suasana baru dalam belajar, yang biasa diinginkan para mahasiswa di Cairo juga menjadi sebersit keinginan kak Akmal. Katanya, dengan menikah akan mendapatkan motivasi baru dalam belajar, lebih giat dan semangat bercumbu dengan para muqarrar. Juga ada tempat berbagi rasa, ada teman yang selalu mendengar dan mendampingi. Alasan yang Indah dan cukup sempurna. Tetapi kenapa harus aku, si Andin?! Waktu kulontarkan pertanyaan itu keayah. Dengan simple ayah menjawab, karena diantrara kami berdua ada kesamaan prinsip yang bagus. Sayang kalau hilang begitu saja. Mulutku sedikit membulat, keningku ikut terangkat mendengar penuturan ayah. Dengan senyum simpul ayah mengacak-acak rambutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Insyaallah semua ini demi kebaikkan Andini dan Akmal, ayah yakin kalian adalah pasangan yang pas dan cocok"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Din, dipikirkan lagi yang mateng, analisa dan serapi" Mbak Shafi kakak pertamaku yang sudah dikaruniai dua putra ikut memberikan saran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itikharah solusi terbaik, insyaallah semuanya akan mengalir dengan tepat, nak"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;****&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Setelah pernikahan kudapati kejanggalan dalam diri kak Akmal. Ada kebiasaan barunya yang membuatku sesak. Kebiasaan buruk yang menyakitkan. Satu hari bisa dua bungkus rokok cleopatra dihisap. Kebiasaan yang tidak pernah dilakukan kak Akmal yang kukenal dulu. Saat aku tanya, jawabannya cukup masuk akal, musim di Cairo yang merubahnya, mencetakknya seperti ini adanya. Hawa dingin Cairo dijadikan target alasan untuk mengkonsumsi barang tersebut. Aku sesak dan benci dengan bau asap itu, bahkan sangat muak melihat liukkan asapnya. Aku berusaha keras menghilangkan kebiasaan buruk kak Akmal. Dengan penuh perjuangan dan kadar kesabaran yang kumiliki. Perlahan barang itu mulai tak terlihat bertahta dibibirnya yang mulai menghitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;****&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Namun Sang arsitek alam berkehendak lain, rokok yang biasa dikonsumsi kak Akmal, perlahan menjadikan paru-parunya keropos dan rapuh. bibit penyakit paru-paru yang diidap kak akmal kian buas dan merajalela. Menggerogoti sedikit demi sedikit kesehatan kak Akmal. Sesuatu yang kutakuti dan tidak diharapkanpun terjadi. Kak Akmal terserang penyakit penyumbatan paru-paru, menyebabkan pernapasan sesak dan sempit. Suara batuk berat tak asing lagi terdengar, seakan menyayat hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang penguasa makhluk maha penentu. Kita hanya pelakon, semua skenario adalah kebijakan sang Maha kuasa. Kondisi kesehatan kak Akmal kian memburuk. Stamina tubuhnya kian lemah dan sayu. Dua hari dirumah sakit kak Akmal menutup mata untuk selama-lamanya. Meninggalkanku dan Rifki buah hati kami bersama semua cerita ditepian sungai nil, semua rasa dan asa, semua kenangan di negeri Kinanah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;****&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;"Ass mamaku, apakabarnya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Alhamdulillah mama sehat. Gimana kabarmu sayang?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mmm, lagi meriang nich, ma"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aduh, meriang? Sudah minum obat? Sudah berapa lama? Kesehatannya dijaga nak!" Aku panik menerima kabar tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di seberang, ditepian sungai nil terlihat sosok tinggi tegap itu tersenyum gagah. Rambut ikalnya berayun indah ditampar desiran angin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah mama, meriang itu artinya merindu kasih sayang, Fikri kangen mama, rindu belaian mama" Oh, aku tersenyum lega mendengar penuturannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mohon do'a, dan keikhlasannya ma, dua bulan lagi Fik, sudah mulai imtihan akhir tahun"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya nak, do'a-do'a mama selalu menyertaimu. Cepat pulang ya nak!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ok, Fik sayang mama. Sudah dulu ma, Ass.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya sayang. Jaga diri baik-baik. Was.." Diseberang terdengar suara telpon ditutup. Fikri melangkahkan kakinya meninggalkan tepian sungai nil, tempat menghilangkan penat dan letihnya. Ketika menyebrang jalan, sebuah mobil sedan melaju dengan kecepatan tinggi menambrak tanpa ampun sosok gagah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah sakit Cleopatra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jasad lemah, pucat tak bertenaga terbaring tanpa nyawa. Disekelilingnya semua mata merah meneteskan butiran bening air mata. Presiden PPMI Muhammad Zakiyul Fikri seorang mahasiswa tingkat akhir Fakultas Ushuludin jurusan filsafah kembali kepangkuan sang Ilahi untuk selama-lamanya. Meninggalkan sosok yang kini sepi tanpa suami dan anak. Sang ibu yang selalu menanti untuk mencurahkan kasih dan belaiannya. Jejak-jajak lukapun kembali terasa berdarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;****&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Kuclik turn off laptopku. Kugerakkan semua persendian yang terasa sedikit tegang. Kuhirup Syai yang sudah agak dingin. Tak lupa kucomot sosis yang sempat kubeli di depan asrama. Jam casio dipergelanganku sudah menunjukkan pukul 00:45 malam. Tidak terasa 3 jam sudah aku berkutat di depan layar laptopku. Mengejar tugas menulis rubrik sastra buat majalah suara PPMI, yang deadline besok pagi. Ah, akhirnya selesai juga cerpenku. Terbayang di benakku senyum senang sang pimpinan redaksi, karena tulisan yang masuk pas deadline yang ditentukkan. Kubaringkan tubuhku. Teman sekamarku sudah terlelap dialam mimpi. Tiba-tiba aku membayangkan seandainya cerpen yang kutulis merupakan cerita hidupku, kenyataan yang aku alami, aku bergidik. Bergegas kuambil hp, kulayangkan sms manis untuk isteri dan anakku tercinta di tanah air...  &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:blue;"   lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2680618420661537872-4996266224690573730?l=sastrapapyrus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/feeds/4996266224690573730/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/2009/08/serpihan-puzzle-yang-hilang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2680618420661537872/posts/default/4996266224690573730'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2680618420661537872/posts/default/4996266224690573730'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrapapyrus.blogspot.com/2009/08/serpihan-puzzle-yang-hilang.html' title='Serpihan Puzzle yang Hilang'/><author><name>Lingkaran Sastra Papyrus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16738817486361889053</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_rYfH5iQkQq4/SoM81uCostI/AAAAAAAAAAc/zps5jbMtGOk/s72-c/Puzzle+of+State+Health+Reforms.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
